Hukum Merenggangkan Barisan dalam Jamaah Salat

0
407
Oleh: KH M. Danial Royyan

عن أبي مسعود الأنصاري قال‏:‏ ‏كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح مناكبنا في الصلاة ويقول: “استووا ولا تختلفوا فتختلف قلوبكم ليلينيمنكم أولو الأحلام والنهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم‏،” رواه مسلم

Dari Abi Mas’ud Al-Anshori, dia berkata: Rasululloh SAW (menjelang jamaah sholat) mengusap pundak kami, dan bersabda: “Ratakan barisan, jangan berbelok-belok, supaya hati kalian tidak berbelok. Agar berada di barisan dekatku dari kalian yaitu orang-orang yang pintar dan cerdas, lalu orang-orang yang yang mendekati mereka, lalu orang-orang yang mendekati mereka” (Muslim 122, 432).

Dalam hadits di atas, Nabi memerintahkan agar barisan salat jamaah itu dalam keadaan rapat tidak bengkok dan tidak renggang. Namun dalam situasi pandemi corona sekarang ini, banyak jamaah salat yang dilaksanakan dengan barisan yang renggang, untuk mengurangi potensi penularan virus corona.

Keadaan barisan yang renggang dalam jamaan salat itu bertentangan dengan hadits Nabi, lalu bagaimana hukumnya?.

Para fuqoha‘ bersepakat bahwa barisan yang tidak rapat dan tidak lurus itu dilarang. Sedang merapatkan barisan itu telah disyariatkan dan diperintahkan berdasarkan hadits-hadits yang mutawàtir. Demikian itu, karena merapatkan barisan itu terkait dengan rukun Islam yang paling utama, yaitu salat. Bahkan, menurut Ibnu Abdil Barr, kewajiban merapatkan barisan telah di-ijma‘-kan.

Akan tetapi ada perbedaan pendapat antara ulama mengenai barisan yang tidak lurus dan tidak rapat, termasuk barisan yang renggang;

A. Pendapat Pertama;
Tidak merapatkan barisan hukumnya haram, dan merapatkan barisan hukumnya wajib. Pendapat pertama ini menurut Imam Bukhori, Syekh Ibnu Hazm, Syekh Ibnu Taimiah, Imam Ibnu Hajar Al-Asqolàni dan Syekh As-Syaukani.
Pendapat pertama ini selain berdasarkan hadits di atas, juga berdasarkan hadits-hadits berikut:

عن النعمان بن بشير رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لتُسَوُّن وجوهكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم

Dari Nukman bin Basyir RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Kalian harus meluruskan wajah-wajah kalian, (kalau tidak) ataukah Allah akan mempertentangkan wajah-wajah kalian!.”

عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “سووا صفوفكم فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

Dari Anas RA, dia berkata: Rasululloh SAW bersabda: “Luruslanlah barisan-barisan kalian, sebab melurusksn barisan itu bagian dari penegakan sholat.”

وعن أنس رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل علينا بوجهه قبل أن يكبر فيقول: “تراصوا واعتدلوا

Dan dari Anas RA, dia berkata: Rasululloh SAW selalu menghadapkan wajahnya kepada kita sebelum bertakbir, lalu bersabda: “Rapatlah kalian dan luruslah kalian!.”

وعن أنس رضي الله عنه أيضا قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أقيموا صفوفكم، وتراصوا فإني أراكم من وراء ظهري

Dan dari Anas RA juga, dia berkata: Rasululloh SAW bersabda: “Tegakkanlah barisan kalian dan merapatlah kalian, sebab aku melihat kalian meski ada di belakangku!.”

Hadits-hadits di atas menunjukkan makna perintah. Setiap makna perintah pasti menunjukkan hukum wajib kecuali ada alasan hukum yang mengalihkannya dari arah hukum yang seharusnya.

B. Pendapat Kedua;
Merapatkan barisan itu hukumnya sunah, bukan wajib. Pendapat ini menurut jumhur (mayoritas) ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, ulama madzhab Syafii dan ulama madzhab Hanbali.
Pendapat kedua berdasarkan hadits-hadits berikut:

 عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : “وأقيموا الصف في الصلاة فإن إقامة الصف من حسن الصلاة

Dari Abi Hurairoh RA, bahwa Rasulloh SAW bersabda: “Dan tegakkanlah barisan dalam sholat, sebab menegakkan barisan itu bagian dari kebaikan sholat”.

Kalimat “bagian dari kebaikan sholat” menujukkan hukum sunnah. Ada riwayat lain yang berbunyi:

“فإن تسوية الصف من تمام الصلاة”

“Sebab meluruskan barisan itu bagian dari kesempurnaan sholat.”

Kalimat ini juga menunjukkan hukum sunnah, tidak menunjukkan hukum wajib. Pada zaman para sahabat Nabi dahulu, tidak ada seorang sahabatpun yang memerintahkan orang tidak merapatkan barisan dalam jamaah salat agar mengulang salatnya. Hal itu juga tidak menunjukkan hukum wajibnya merapatkan barisan dalam jamaah salat.

Dengan uraian di atas, kita dapat memilih pendapat kedua, dalam melaksanakan jamaah salat dalam kondisi pandemi corona, yaitu merenggangkan jarak antara musholli dalam jamaah, sesuai protokol yang telah ditetapkan, yaitu “social distancing” sebagai ikhtiar untuk mangatasi potensi penularan virus corona, demi kesalamatan umat manusia.

Wallohu A’lamu Bisshowàbi,

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here