HUKUM MEMELIHARA ANJING

0
219

A. Pertanyaan :
Ustad Khundlori dari Triharjo Gemuh bertanya : Bagaimana hukumnya memelihara anjing ?

B. Jawaban :
Hukum memelihara anjing adalah haram kecuali anjing yang digunakan untuk berburu, untuk menjaga tanaman dan hewan ternak.
Ada sebagian ulama yang melarang pemeliharaan anjing dengan menggunakan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud di bawah ini :

 

لا تدخل الملائكة بيتاً فيه صورة ولا كلب

“Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar patung dan anjing”.
Hadits di atas termasuk hadits dho’if. Imam al-Bukhari mendho’ifkan hadits ini. Akan tetapi terdapat hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang menguatkan hadits di atas yaitu :

من اقتنى كلباً إلا كلب ماشية أو كلب صيد نقص من عمله كل يوم قيراط

“Barangsiapa memelihara anjing kecuali anjing penjaga hewan ternak atau anjing pemburu, maka berkuranglah satu qirat dari amalnya setiap hari”.
Apabila berkurang pahalanya satu qirath berarti orang yang memelihara anjing itu berdosa dengan perbuatannya tersebut, karena hilangnya pahala itu sama seperti mendapatkan dosa, keduanya menunjukkan hukum haram.
Dan ada juga hadits sahih riwayat Muslim yang menjadi penguat kepada hadits Abu Daud di atas, yaitu :

وعن عائشة رضي الله عنها أنها قالت : (واعد رسول الله صلى الله عليه وسلم جبريل عليه السلام في ساعة يأتيه فيها فجاءت تلك الساعة ولم يأته وفي يده عصا فألقاها من يده وقال : ما يخلف الله وعده ولا رسله . ثم التفت فإذا جرو كلب تحت سريره ، فقال : يا عائشة متى دخل هذا الكلب ههنا ؟ فقالت : والله ما دريت فأمر به فأخرج فجاء جبريل ، فقال رسول اله صلى الله عليه وسلم : واعدتني فجلست لك فلم تأت . فقال : منعني الكلب الذي كان في بيتك إنا لا ندخل بيتاً فيه كلب ولا صورة) رواه مسلم

Dari Aisyah RA berkata : “Rasulullah SAW telah membuat janji untuk bertemu Jibril pada suatu saat di mana Jibril akan datang. Ketika janji itu telah tiba, Jibril tidak datang. Nabi membawa tongkat lalu melemparnya, dan berkata : Allah dan rasul-Nya tidak akan mengingkari janji. Ketika Nabi menoleh ternyata ada anak anjing di bawah tempat tidur, maka Nabi bertanya : Hai Aisyah kapan anjing ini masuk?. Aisyah menjawab : Demi Allah aku tidak tahu. Lalu Nabi meminta agar anjing itu diusir. Setelah anjing itu keluar datanglah Jibril. Nabi bertanya : Engkau berjanji kepadaku untuk datang dan aku menunggumu tapi engkau tidak datang. Jibril berkata : Anjing yang ada di rumahmu menghalangiku untuk datang. Kami (para malaikat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar patung”.

Di samping itu, kenajisan anjing lebih berat daripada kenajisan benda najis lainnya. Sesungguhnya kenajisan anjing tidak bisa suci kecuali dengan tujuh kali basuhan, salah satunya dengan tanah sebagaimana hadits riwayat Abu Hurairah sebagai berikut :

 

طُهُور إناء أحدكم إذا ولَغ فيه الكلب أن يغسله سبْع مرات إحداهن بالتراب، أو أُولاهن بالتراب

“Kesucian bejana salah satu dari kamu apabila dijilat anjing ialah membasuhnya tujuh kali, salah satunya dengan tanah, atau permulaan tujuh kali basuhan itu dengan tanah”.
Mensucikan dzat anjing tidak akan pernah bisa berhasil selamanya walaupun dengan air laut karena kenajisannya bersifat ain (dzatnya). Hukum kenajisan anjing itu menurut tiga madzhab : Hanafi, Syafi’i dan Hanbali. Adapun menurut madzhab Maliki, anjing itu suci tidak najis.

Kesimpulannya bahwa haram hukumnya bagi seorang muslim memelihara anjing di dalam rumah kecuali untuk menjaga keamanan hewan ternak atau keamanan tanaman dan untuk perburuan binatang yang bolah dimakan seperti kijang dan sejenisnya. Memelihara anjing untuk melacak kejahatan dipersamakan dengan memeliharanya untuk perburuan.

 

C. Referensi :

١. كتاب رياض الصالحين ، باب تحريم اتخاذ الكلب إلا لصيد أو ماشية أو زرع :
١٦٨٨- عن ابن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قال سمعت رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: “من اقتنى كلباً إلا كلب صيد أو ماشية فإنه ينقص من أجره كل يوم قيراطان” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.زوفي رواية : قيراط
١٦٨٩- وعن أبي هريرة رَضيَ اللَّهُ عَنْهُ قال، قال رَسُول اللَّه صلى الله عليه وسلمِ : “من أمسك كلباً فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وفي رواية لمسلم: (من اقتنى كلباً ليس بكلب صيد ولا ماشية ولا أرض فإنه ينقص من أجره قيراطان كل يوم).
٢. جاء في الموسوعة الفقهية: يرى الحنفية أن الكلب ليس بنجس العين، ولكن سؤره ورطوباته نجسة. ويرى المالكية أن الكلب طاهر العين لقولهم: الأصل في الأشياء الطهارة. فكل حي – ولو كلبا وخنزيرا – طاهر، وكذا عرقه، ودمعه، ومخاطه، ولعابه، ويرى الشافعية والحنابلة أن الكلب نجس العين. انتهى. وراجع المزيد في الفتوى رقم : ٤٩٩٣

(M.D. Royyan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here