HUKUM MEMBUAT MAKAM FIKTIF

0
46

A. Pertanyaan :

Drs. Ahhmad Nur Wahib bertanya :
Bah… nyuwun tulung… Bagaimana hukumnya membuat “Makam Fiktif”, dengan alasan ingin mengumpulkan makam satu keluarga pada satu areal. Seseorang membuat makam fiktif padahal yang bersangkutan masih hidup. Keadaan ini konon tidak hanya di Jakarta tetapi di kampung juga ada.

B. Jawaban :

Harus jelas dulu apa yang dimaksud dengan “Makam Fiktif”. Ada dua ihtimal (kemungkinan):

1. Masyhad, yaitu pusara atau patilasan seorang wali di suatu tempat tetapi wali itu ada makamnya di tempat lain, seperti Sunan Kalijogo punya makam di Kadilangu Demak tetapi ada pusara di tempat lain yang juga didatangi oleh peziarah. Ada juga Habib Syekh bin Salim Al-Atthas punya makam di Tipar Cisaat Sukabumi, tetapi beliau punya masyhad di Cijurai Sukaraja Sukabumi. Kedua makam dan masyhadnya didatangi oleh peziarah. Membuat masyhad seperti ini hukumnya sunnah untuk para wali.

2. Calon Kuburan bagi orang yang masih hidup. Hal ini juga sunnah apabila dimaksudkan agar orang tersebut selalu ingat kepada kematian. Salah satu ulama Tabi’in yaitu Imam Rabi’ bin Khaitsam membuat liang lahad di belakang rumahnya, dan berpesan kepada anak-anaknya : “Nanti kalau aku mati makamkanlah jasadku di lahad itu”.
Demikian penjelasan dari saya, semoga kita semua memperoleh ilmu yang bermanfaat. Amiin.

C. Referensi :

انظر كتاب مفاهيم يجب ان تصحح للامام السيد محمد بن علوي المالكي الحسني ص ٣٥٩ باب التردد على الاثار النبوية والمشاهد الدينة والتبرك بزيارتها

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here