HUKUM MASTURBASI

1
398

 

A. Pertanyaan :

Bagaimana hukum melakukan masturbasi (onani) ? – Luthfi Ahmad / 085643032719

 

B. Jawaban :

Yth Pak Luthfi Ahmad,

Menstimulasi alat vital lelaki atau perempuan dengan tangan sendiri atau tangan orang lain agar memperoleh orgasme (ladzdzat) dengan keluarnya air aperma disebut masturbasi atau onani. Masturbasi berasal dari bahasa Inggris, sedangkan Onani berasal dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Arab disebut Istimna` Bil-Yad atau Nikahul-Yad   atau Al-Adah As-Sirriyyah.

Hukum melakukan masturbasi dengan tangan sendiri atau tangan orang lain yang bukan istri, menurut jumhur ulama` adalah haram dan pelakunya harus dita`zir oleh imam, karena secara aqli, hal itu bertentangan dengan hikmah tasyri` yang terkait dengan sperma yaitu agar manusia memiliki keturunan (tanasul). Dan secara naqli, Nabi SAW, dalam banyak hadits yang diriwayatkan para ahli hadits, melarang masturbasi. Tetapi menurut madzhab Hanbali, masturbasi dengan tangan sendiri adalah boleh apabila untuk menghindari kekhawatiran melakukan zina, dan tidak adanya biaya untuk menikah.  Menurut Syekh Ali Jarjawi dalam Hikmatut-Tasyri` Wa Falsafatuhu, masturbasi berpengaruh buruk pada mata, kerusakan akal dan melemahnya tubuh manusia.

Sedangan masturbasi yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan menggunakan tangan pasangannya adalah boleh, karena hal itu termasuk istimta` (mencari kenikmatan antara pasangan suami istri).

C. Dasar Pengambilan Dalil :

1. إسعاد الرفيق جزء ثاني ص 109 :

         ومنها الاستمناء بيد غير الحليلة سواء يد نفسه أو غيره . قال في النصائح : فهو قبيح مذموم ، وفيه آفات وبليات كثيرة ، وقد يبتلى به بعض الناس فليتق الله ويحذره . وفي بعض الأحاديث “لعن الله من نكح يده”، وعن عطاء بن أبي رباح “أن المستمني بيده يأتي يوم القيامة وهي حبلى”، ثم إن تحريمه بيد نفسه هو ما عليه الجمهور ، وأجازه الامام أحمد بشرط خوف الزنا وفقد مهر حرة وثمن أمة ، وفعله بيده لأنه فضلة في البدن كالفصد والحجامة يجوز إخراجها للحاجة كما في تفسير الرازي .

2. حكمة التشريع وفلسفته جزء ثاني ص 198 :

          إن الاستمناء باليد أو “جلدة عميرة” أو”ضرب أباظة” أو”العادة السرية” ضرره واقع على نفس الشخص الذي يتعاطاه ولا يتعداه لغيره . وهو الأساس الوحيد في تهلكة المتلبس به كما علمت . من أجل ذلك قرر الشارع الحكيم تعزيره بحسب ما يراه الامام شدة وضعفا . وإذا تمادى ولم يرتدع عوقب مرة ثانية وثالثة وهكذا. وبالطبع ضرره واقع عليه وعلى بصره واختلال عقله وضعف جسمه وهو لا يشعر بذلك .

KONSULTASI AGAMA

Diasuh oleh : H. Mohammad Danial Royyan

Ketua PCNU Kabupaten Kendal

1 KOMENTAR

  1. Mohon maaf sedikit jauh dari topik.. bagaimana jika kita mencintai wanita yang sudah menikah? Apakah ada harapan bisa bertemu di surga?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here