HUKUM CIPIKA CIPIKI DALAM PANDANGAN FIQIH ISLAM

1
621

Ahmad Ghozali SPdi bertanya :
Ass. Pak Kiai, saya sering melihat dua orang bertemu terus melakukan cipika cipiki. Bagaimana hukum cipika cipiki dalam pandangan Fiqih Islam ?. Terimakasih atas jawabannya !

Jawaban :
Cipika Cipiki yang memiliki kepanjangan : cium pipi kanan dan cium pipi kiri ialah ungkapan saling merindukan antara dua orang yang bertemu setelah lama berpisah. Biasanya terjadi antara suami-istri, dua orang bersaudara atau dua orang yang berteman akrab.

Cipika cipiki itu suatu kebisaan yang terjadi di masyarakat umum dewasa ini. Sedang dalam kebisaan para sahabat Nabi SAW yang kemudian diikuti para ulama, para kiai dan kaum santri adalah “Al-Mu’anaqoh” yang artinya berangkulan, atau lengkapnya “Al-Mu’anaqoh Ma’a Taqbiili Ma Bainal Ainaini Au Al-Khoddain” yang artinya berangkulan sambil mencium bagian antara dua mata atau mencium dua pipi. Mu’anaqoh berasal dari ‘ànaqo – yu’àniqu – mu’ànaqotan wa inàqon – yang artinya saling mendekatkan leher antara dua yang bertemu (lihat : Ibn Mandzur dalam kitab kamus Lisanul Arob juz 10 hal 271).

Mu’anaqoh itu menurut Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkàr hukumnya sunah bagi orang yang baru pulang dari perjalanan (safar) yang jauh, seperti pulang haji, atau ketika bertemu anak kecil, atau bagi dua orang yang bertemu setelah lama berpisah. Sedangkan mu’anaqoh selain itu, masih menurut Imam Nawawi, hukumnya makruh. Kenapa makruh?, karena bertentang dengan sunnah (mukholafatus sunnah).

Maka hukumnya cipika cipiki dipersamakan dengan mu’anaqoh, dengan menggunakan metoda

الحاق المسائل بنظائرها

Artinya : “Mempersamakan masalah dengan hal hal lain yang sebanding”. Di mana metoda ini merupakan bagian dari metoda Qiyas Musawi.

Dalil-dalilnya sebagai berikut :

ثبت عن الصحابة -رضي الله عنهم- أنهم كانوا يتعانقون عند قدومهم من السفر وعن أنس -رضي الله عنه- قال: (كان أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- إذا تلاقوا تصافحوا وإذا قدموا من سفر تعانقوا).

Ada khabar pasti dari para sahabat Nabi, bahwa mereka saling mu’anaqoh ketika pulang dari safar. Dan dari Anas R.A berkata : “Para sahabat Nabi SAW itu ketika bertemu mereka saling bersalaman dan ketika datang dari safar mereka saling mu’anaqoh”.

عن البراء بن عازب رضي الله عنه قال : دخلت مع أبي بكر رضي الله عنه أول ماقدم المدينة فإذا عائشة ابنته رضي الله عنها مضطجعة قد أصابتها حمى فأتاها أبوبكر فقال كيف أنت يابنية وقبل خدها رواه البخاري وأبو داود

Diriwayatkan Dari Al-Barro Ibni ‘Azib R.A, dia berkata: Pernah aku masuk bersama Abu Bakar RA pada mula-mula kedatangannya di Madinah, maka tiba-tiba Aisyah puteri Abu Bakar R.A tengah berbaring diserang penyakit demam, maka dia didatangi Abu Bakar R.A sambil berkata : Bagaimana keadaanmu wahai anakku, lalu Abu Bakar  mencium pipinya (HR.Al Bukhory Dan Abu Daud).

Namun apabila mu’anaqoh dengan saling mencium atau cipika cipiki itu dilakukan oleh dua orang yang berbeda jenis, lelaki dan perempuan yang tidak ada hubungan kemahroman maka hukumnya harom. Apabila dilakukan oleh suami dan istri atau lelaki dan perempuan yang memiliki kemahromam maka hukumnya sunnah sebagaimana antara lelaki dan lelaki, seperti yang telah diterangkan di atas. Semoga bermanfaat ! (MD Royyan).

1 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum… Bagiamanakah hukumnya Seorang kakak lagi memberi selamat kepada adik ipar perempuan yg baru saja melaksankan pernikahan dg adk kandung dng cara cipika cipiki..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here