Hukum Bersentuhan Laki-laki dengan Perempuan setelah Wudhu

0
216
Oleh: Muhammad Umar Sa'id

Ada beberapa pendapat mengenai batal atau tidaknya wudlu seseorang apabila ia bersentuhan dengan perempuan lain bukan mahrom, yaitu sebagai berikut :

  1. Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafii berpendapat bahwa jika seorang laki-laki bersentuhan kulit dengan kulit seorang perempuan lain yang bukan mahrom (termasuk isteri), maka wudlu keduanya batal, baik dilakukan dengan sengaja atau tidak, atau dengan syahwat atau tidak. Dan tidak batal wudlu seorang laki-laki jika bersentuhan dengan seorang perempuan yang masih memiliki hubungan persaudaraan karena nasab (نسب), sepersusuan (رضاعة) dan perkawinan (مصاهرة).
  2. Imam Malik bin Anas RA : wudhu keduanya batal jika dilakukan dengan syahwat, jika dilakukan tidak sengaja atau tidak dengan syahwat, maka wudlunya tidak batal.
  3. Imam Abu Hanifah RA, wudlunya tidak batal, yang membatalkan wudlu, jika melakukan hubungan badan (jima’).

Perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab di atas, karena berbeda dalam memahami potongan Q.S. An-Nisa’ ayat 43 :
…أو لاَمَسْتُمُ النّساء …
“Atau kamu sekalian telah menyentuh perempuan”.

Lafadl لامس adalah lafadl musytarok, yaitu lafadl yang memiliki lebih dari satu makna. Menurut Imam Syafii RA dan Imam Malik RA, lafadl لامس diartikan المس (menyentuh), menyentuh dengan tangan atau lainnya dari anggota badan yang bersifat inderawi.

Imam Syafii RA mengecualikan sentuhan pada rambut, gigi dan kuku. Sebab ketiganya tidak mengandung unsur kelezatan atau syahwat.

Sedangkan Imam Abu Hanifah RA mengartikan lafadl لامستم yang dimaksud adalah جامعتم artinya bersetubuh. Sehingga apabila kulit seorang laki-laki dan perempuan bersentuhan, selama tidak melakukan hubungan badan (jimak), maka wudlunya tidak batal.
Allahu a’lam

Referensi:

  1. Kitab Al-Asybah wa al-Nadloir
  2. Buku Ushul Fiqh, Lubbul Ushul
  3. Kitab Bidayatul Mujtahid

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here