Hubungan Gus Zaki Tebuireng dengan Ikan Lohan

0
74

Pada suatu hari, Gus Zaki Hadzik muda, salah satu pengasuh Pesantren Tebuireng, didatangi penjual ikan lohan. “Ini ikan lohan istimewa, Gus,” kata Gus Zaki menirukan penjual ikan.

Apa istimewanya, Pak?” tanya Gus Zaki antusias. Waktu itu, lohan sedang tren, harganya mahal.

“Sisik hitamnya membentuk huruf Y, A, I. Dibaca “yai”, jelas penjual ikan. “Yai” itu kiai. Gus Zaki yang waktu itu masih SMA dan bercita-cita menjadi kiai tertarik dengan penjelasan sang penjual.

Ketertarikan Gus Zaki bukan tanpa alasan. Selain sisik ikan Lohan itu unik, kalangan santri juga meyakini bahwa ikan adalah binatang yang mendoakan manusia yang sedang menuntut ilmu. Tidak sedikit pesantren yang melarang santrinya makan ikan karena alasan itu.

Akhirnya, Gus Zaki membelinya dengan harga yang tidak murah. Hari-hari setelah itu ia sibuk dengan ikan lohan: mengganti air, lampu akuarium, memberi makan ikan, dan tentu saja mengamati sisik ikan bertuliskan “yai”.

Gus Zaki senang dengan pertumbuhan lohannya, semakin lama semakin gemuk. Namun, pada bulan kelima, Gus Zaki terkejut bukan main. Sisik hitam ikan lohannya berubah.

Bentuk huruf A dan I tetap seperti semula, malah makin jelas. Huruf Y juga makin jelas, tetapi bentuknya berubah, dari Y menjadi T. Tiga huruf di tubuh ikan lohan itu berubah, semula terbaca “Yai”, kini menjadi “Tai”.

Astagfirullah,” kata Gus Zaki sambil geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian, empunya ikan itu memanggil seorang santri, “Kang, goreng saja lohan ini.”

Ulama Bercanda, Santri Tertawa – Hamzah Sahal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here