HIKMAH SURAT AL-ALAQ 1-5 : MONUMEN NUZULUL QUR’AN

0
356

A. PROSES TURUNNYA WAHYU

Imam Ahmad bin Hanbal R.A. meriwayatkan dari ‘Aisyah R.A, dia mengatakan: “Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Muhammad SAW adalah mimpi yang benar (الرؤيا الصادقة). Di mana beliau seperti melihat falaq shubuh. Setelah itu beliau menjadi lebih senang mengasingkan diri di gua Hira. Di sana beliau beribadah untuk beberapa malam dengan membawa perbekalan yang cukup. Setelah itu, beliau pulang kembali ke rumah untuk mengambil bekal, hingga akhirnya beliau didatangi small Jibril yang membawa wahyu untuk pertamakali, di dalam gua Hira. Malak Jibril berkata: ‘Bacalah!’. Muhammad SAW berkata : “Aku tidak dapat membaca”. Beliau berkata : “Lalu Jibril memegangku seraya mendekapku sampai aku merasa kepayahan. Lalu Jibril mendekapku untuk kedua kalinya sampai aku benar-benar kepayahan. Selanjutnya dia melepaskanku lagi dan berkata: ‘Bacalah.’ Aku tetap menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca.’ Lalu dia mendekapku untuk ketiga kalinya sampai aku benar-benar kepayahan. Setelah itu dia melepaskan aku lagi dan membimbingku untuk membaca :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Maka beliaupun pulang dalam keadaan menggigil sehingga ketika sampai di rumah, beliau menemui Khadijah dan berkata: ‘Selimuti aku, selimuti aku.’ Khadijahpun segera menyelimutinya sampai rasa takutnya hilang. Kemudian beliau berkata : “Apa yang terjadi padaku?, aku melihat bayang2 seperti hantu, dan kini masih mengikutiku”. Maka Khadijahpun berkata : “Bukan hantu, bergembiralah, yang engkau lihat adalah malaikat. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling suka melakukan silaturahim, berkata jujur, sabar menganggung beban musibah, menghormati tamu, dan membantu menegakkan sendi-sendi kebenaran”.

Ketika beliau masih ragu apakah yang dilihatnya itu malaikat yang membawa wahyu ataukah hantu, maka Khadijah, wanita yang cerdas itu mampu meyakinkannya dan berkata : “Akan aku buktikan dengan membuka tutup kepalaku, kalau dia masih nampak berarti dia hantu, kalau menghilang, berarti dia malaikat yang membawa wahyu, karena malaikat tidak mau melihat aurat wanita”. Ternyata, setelah Khadijah membuka tutup kepalanya, bayang2 itu menghilang.

Untuk memantapkannya lagi, Khadijah mengajak beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay, yaitu paman Khadijah, saudara laki-laki ayahnya. Dia seorang rahib nasrani yang menulis Injil dengan bahasa Arab atas kehendak Allah. Dia adalah seorang yang sudah berumur tua lagi buta. Lalu Khadijah berkata: “Wahai paman, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini.” Kemudian Waraqah berkata: “Wahai anak saudaraku, apa yang telah terjadi dengan dirimu?”. Kemudian Muhammad SAW menceritakan apa yang beliau alami kepadanya. Lalu Waraqah berkata: “Ini adalah Namus [malaikat Jibril] yang diturunkan kepada Musa. Andai saja saat engkau menjadi rasul itu aku masih muda. Andai saja nanti aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu”. Kemudian Muhammad SAW bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: “Ya. Tidak akan ada seorangpun yang datang dengan membawa apa yang engkau bawa melainkan akan disakiti. Dan jika aku masih hidup pada masamu, niscaya aku akan mendukungmu dengan dukungan yang sangat besar.” Dan tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti, sehingga Muhammad SAW benar-benar bersedih, maka Jibril muncul dan berkata: “Wahai Muhammad sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.” Dengan demikian, maka hati beliau pun menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil dan setelah itu beliau kembali pulang.

B. HIKMAH SURAT AL-ALAQ AYAT 1-5

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan“.

Perintah membaca pada ayat ini bukan hanya sekedar membaca tulisan yang terukir pada kertas, tetapi mencakup ‘membaca’ alam semesta dan seluruh isinya sebagai tanda kekuasaan Allah SWT, sebagai keajaiban maha dahsyat yang tidak mungkin diciptakan oleh selain Alloh.

Dalam ayat ini, juga ada hikmah bahwa memulai sesuatu yang baik menurut syara’ haruslah dengan menyebut nama Alloh, sesuai hadits ini :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كُلُّ أمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يُبْدأُ فِيهِ بِبسم الله الرحمن الرحيمِ فَهُوَ اقطع ، رواه أَبُو داود

Rasululloh SAW bersabda : “Setiap perkara yang memiliki kebaikan yang tidak dimulai dengan Bismillahir Rahmanir Rahim maka ia putus dari barakah” (H.R. Abu Daud). Ayat berikutnya :

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Ayat ini memiliki hikmah agar manusia mengingat asal usul kejadiannya, dari benda yang menjijikkan yaitu sperma, berubah menjadi segumpal darah, lalu berubah menjadi segumpal daging, agar tidak memilik kesombongan, dan agar selalu merendahkan diri kepada sesama manusia, terutama kepada Alloh SWT dengan melaksanakan ibadah dan meninggalkan maksiat.

Ayat ini dijelaskan oleh Nabi SAW dalam hadits sebagai berikut :

عن عبدالله بن مسعودٍ رضي الله عنه قال: حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق: “إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يومًا – نطفة – ثم يكون علقةً مثل ذلك، ثم يكون مضغةً مثل ذلك، ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح، ويؤمر بأربع كلماتٍ: بكَتْبِ رزقه وأجله وعمله، وشقي أو سعيدٌ، فوالذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراعٌ، فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها، وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراعٌ، فيسبق عليه الكتاب، فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها”؛ رواه البخاري ومسلم.

Dari Abdillah bin Mas’ud R.A. berkata : Aku diberi cerita oleh Rasululloh SAW dan beliau adalah orang yang jujur dan selalu perkataannya : “Sesungguhnya salah satu dari kamu dihimpun penciptaannya dalam perut ibunya, 40 hari berupa sperma, lalu menjadi segumpal daging pada 40 hari kedua, lalu menjadi segumpal daging pada 40 hari ketiga, lalu Alloh mengutus Malak Jibril untuk meniupkan ruh (nyawa), dan diperintah dengan empat perintah : menulis rizkinya, ajalnya, amalnya dan apakah akan jadi orang yang beruntung ataukah orang yang celaka. Maka demi Dzat yang tiada tuhan selain Dia, bahwa salah satu dari kamu melakukan amal yang dilakukan ahli surga sehingga antara dia dan surga hanya ada jarak satu hasta, tetapi karena sudah didahului suratan takdir, maka dia melakukan amal ahli neraka sehingga memasuki neraka. Dan bahwa salah satu dari kamu melakukan amal hari neraka sehingga antara dia dan neraka hanya ada jarak satu hasta, tetapi karena sudah didahului suratan takdir, maka dia melakukan amal ahli surga sehingga dia memasuki surga”. (H.R. Bukhori Muslim).

Setelah itu, Allah berfirman :

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”.

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulang dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi SAW.

Disebutkan bahwa Allah Maha Pemurah, yakni memiliki karunia yang besar pada makhluk-Nya. Di antara bentuk karunia Allah pada manusia adalah Dia mengajarkan ilmu kepada manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya :

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Artinya :“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Allah ta’ala menyediakan qolam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Allah mengajarkannya dengan qolam (pena) yang bisa membuat ilmunya semakin lekat. Qolam sebagai benda yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka tidaklah sulit bagi Allah menjadikan Nabi-Nya sebagai manusia pilihan yang bisa mengajarkan ilmu. Dan Allah juga memerintahkan manusia untuk belajar, sehingga dengan belajar ini, manusia dapat memperoleh Ilmu pengetahuan. Pengetahuaan adalah sangat penting peranannya bagi manusia. Barang siapa menguasai pengetahuan, maka dia dapat berkuasa (knowledge is power). (M.D. Royyan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here