HIKMAH DI BALIK DEMO 411

0
273

A. Hikmah Itu Harus Diambil :

Hikmah merupakan keutamaan dan kemuliaan yang bisa membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempat yang seharusnya (proporsional). Di balik setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Setiap peristiwa yang dialami manusia senantiasa mengandung hikmah yang diberikan Allah. Tujuan Allah memberikan hikmah itu agar manusia dapat menjadikannya sebagai pelajaran (عبرة), dan mengambil manfaat darinya untuk kemudian dijadikan dasar dalam menjalani kehidupan. Karenanya, untuk mengetahui hikmah dari setiap peristiwa yang sedang menimpa, hendaknya kita mengedepankan sikap berprasangka baik (حسن الظن) kepada Allah. Berprasangka baik kepada Allah merupakan bentuk ibadah menurut Nabi Muhammad SAW yang bersabda:

إِنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ مِنْ حُسْنِ عِبَادَةِ اللَّهِ

“Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah termasuk dari baiknya beribadah kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa, hikmah tersebar di mana-mana dan tidak terhitung jumlahnya, karena terlalu banyak dan luas.
Ulama ushul fikih mengartikan hikmah sebagai manfaat yang diperoleh dari peristiwa yang baru dialami. Dengan demikian, kita harus berusaha menjadi orang yang cerdas dalam memanfaatkan hikmah Ilahiyah dalam kehidupan kita. Maka, sungguh beruntung orang yang dianugerahi hikmah. Allah berfirman :

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو اْلأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan ‘hikmah’ kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan yang dapat mengambil pelajaran (dari Allah) hanyalah orang-orang berakal.” (QS. Al-Baqarah : 269).

B. Peristiwa Demo 411 :

Aksi damai atau demonstrasi oleh ratusan ribu ummat Islam yang terjadi pada hari jum’at tanggal 4 Nopember, yang kemudian dikenal dengan “Demo 411”, terjadi karena ingin menuntut pemerintah agar mengusut Ahok sang gubernur DKI Jakarta karena ucapannya dalam pidato di kepulauan Seribu yang mengutip surat Al-Maidah ayat 51 , yang menurut sebagian ummat Islam sudah menistakan Islam, meskipun menurut Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj ketum PBNU dan Prof. Dr. Syafii Maarif tidak menistakan Islam tetapi menyinggung perasaan umat Islam. Di satu sisi video pidato Ahok itu dianggap menistakan Islam karena telah dipotong oleh seseorang yang bernama Buni Yani.

Bagaimanapun ucapan Ahok itu telah berdampak besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga dalam merajut kembali ancaman perpecahan bangsa, Presiden menyambangi ormas-ormas Islam, terutama Nahdlatul Ulama, dan kemudian kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok itu diserahkan pengusutannya kepada POLRI agar dilakukan dengan cepat.

C. Hikmah Di Balik Demo 411 :

Di balik peristiwa demo 411 sebagai reaksi terhadap pidato Ahok yang diduga mengandung penistaan agama, ada beberapa hikmah sebagai berikut :

1. Semua pemimpin tidak boleh berujar dengan kalimat kotor, yang dapat memicu kemarahan orang lain, apalagi sampai menciptakan kegaduhan di tengah ketentraman masyarakat bangsa. Pemimpin itu mempunyai tugas menentramkan masyarakat, bukan mengguncangkannya. Kegaduhan yang berpotensi mengancam keutuhan negara itu gara-gara ucapan lisan yang menyinggung perasaan orang banyak. Ada pepatah, di sisi lain dianggap sabda Nabi SAW, yang berbunyi :

سلامة الانسان في حفظ اللسان

“Keselamatan manusia itu terletak pada pengendalian ucapan lisan”.

Demikian juga pemimpin tidak boleh mengucapkan sesuatu yang menjadi kontroversi dan mengundang spekulasi.

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَة َقَالَ : قَالَ : رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الله كره لكم ثلاثا القيل والقال وكثرة السؤال واضاعة المال

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah membenci tiga hal bagi kalian : issue yang tidak jelas, banyaknya tuntutan dan penghamburan harta benda”.

2. Bahwa untuk merajut kesatuan bangsa dan negara yang berpotensi terancam perpecahan, seorang Kepala Negara harus melakukan komunikasi intensif dan silaturahim berkesinambungan kepada ormas-ormas besar yang memiliki basis massa sampai tingkat akar rumput seperti Nahdlatul Ulama (NU), tidak hanya dilakukan pada saat genting saja, karena ormas besar itu merupakan modal sosial yang sangat penting, dan modal sosial itu terbukti melampaui modal ekonomi dan modal politik. Modal sosial yaitu bagaimana membangun interaksi hubungan dengan semua kekuatan di tengah masyarakat bangsa. Dan hal itu telah dilakukan oleh Presiden RI, meski ketum PBNU menganggapnya agak terlambat.

3. Sudah saatnya pemerintah memberikan rasa keadilan kepada rakyat secara menyeluruh, tanpa menutup-nutupi persoalan dengan mengalihkan issu, dan tanpa adanya diskriminasi antara semua elemen bangsa.

4. Pemerintah mulai menyadari bahwa keberadaan NU sebagai ormas terbesar yang berhaluan Ahlissunnah Waljamaah dan juga berwawasan kebangsaan harus diakui sebagai penyejuk kondisi bangsa yang sedang memanas, dan sebagai penyangga utama keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

5. Pemerintah mulai menyadari bahwa lalu lintas penyebaran berita, informasi, tulisan, artikel, postingan dan lain sebagainya di media sosial memerlukan peraturan yang mengendalikannya, meskipun sudah ada UU IT, agar tidak menjadi penyebab adanya potensi perpecahan bangsa.

6. Seharusnya pula pemerintah mulai menyadari bahwa keberadaan organisasi Islam yang mengusung Khilafah Islamiyah dan anti NKRI harus ditinjau ulang.

Jika digali lebih dalam, tentu masih banyak hikmah yang bisa diambil. Semoga warga NU dan segenap warga bangsa Indonesia dapat mengambil hikmah dari semua peristiwa yang dialami bangsa ini, untuk menjadi kewaspadaan dan kehati-hatian dalam berbangsa dan bernegara di masa-masa yang akan datang.

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here