HATI- HATI MAKMUM DI MASJID TETANGGA

0
31

HATI- HATI MAKMUM DI MASJID TETANGGA

Oleh: H.M Mahrus Alie

            Modernitas, bahkan sekarang era kita ada pada pos modern. Suatu era yang sudah melampui masa modern. Masa modern ditandai dengan berlangsungnya revolusi industri yang ada di Inggris sampai pada abad 20. Dalam era ini ketergantungan dalam hidup tidak bisa dihindari. Interdependensi istilah populernya, ketergantungan di segala bidang, baik bidang kebutuhan materiil, komunitas kita tidak bisa mencukupi kebutuhan para anggota komunitasnya. Juga kebutuhan yang bersifat immateriil, seperti pengetahuan, budaya maupun hal- hal yang berkaitan dengan keibadatan.

Juga mobilitas kehidupan yang semakin tinggi. Pagi ini seseorang sarapan pagi di Semarang, makan siang di Surabaya, mungkin makan malam di Denpasar. Itu mobilitas yang berskala nasional. Ada juga seseorang dengan mengarungi kehidupannya dengan mobilitas yang berskala internasional. Pagi sarapan di Indonesia, makan siang di Singapura dan makan malamnya di Bangkok. Suatu zaman, kalau dulu orang mengatakan “dunia tidak seluas daun kelor”, tapi sekarang hal itu benar- benar terjadi. Dunia sekarang betul- betul seluas daun kelor. “The Big Village” desa yang besar.

Begitu pula dalam hal melakukan peribadatan. Mungkin juga akan terjadi seseorang melakukan sholat berjama’ah di Masjid yang berbeda dengan aliran atau madzhab dengan kita. Akan sangat berbahaya, menurut pandangan figh, jika kita tidak mengerti bagaimana jika kita sholat berjama’ah ternyata Imamnya dalam pandangan figh berbeda dengan kita.

Tulisan akan sedikit memberikan solusi, walau barangkali, tentu saja ada pembaca yang  merasa kurang sempurna, karena tentu saja, keterbatasan wacana yang dimilki penulis. Apalagi  jika kejadian itu menimpa diri kita.

Figh Syafi’iyah

            Figh Syafi’iyah adalah figh yang beraliran, sependapat atau sepaham dengan Imam Syafi’i. Masyarakat muslim dunia mayoritas mengikuti figh tersebut. Tapi, bukan berarti nihil terhadap paham lain. Dulu jaman orang tua kita, seluruh kampung dalam beramal ibadah, tidak ada yang berbeda alias sama. Baik itu baca’an dalam fatehah, do’a qunut maupun salam dalam mengakhiri sholat. Nyaris tidak ada bedanya. Tapi, sekarang sangat jauh berbeda, walau itu satu kampung, bahkan ada satu keluarga yang amaliahnya berbeda- beda.

Sekarang pada era global ini, terutama di Indonesia, banyak bermunculan paham. Ini merupakan ekses dari paham trannasional, yang sengaja mereka berekspansi paham mereka ke wilayah lain. Dengan kekuatan petro dolarnya mereka melakukan ekspansi paham. Paham ini memang ditopang oleh kekuatan yang sangat ekspansif. Sehingga banyak, bahkan putra kiai NU yang ternama ada yang beralih paham. Amaliah yang selama dilakukan ayah, ibu bahkan keluarga, dianggapnya bid’ah, yang harus ditinggalkan.

Itu terjadi, banyak putra kiai setelah lulus dari pesantren yang nota bene NU, karena melanjutkan ke Timur Tengah dan pulang tidak hanya memegang ijasah saja, tapi juga membawa faham yang berbeda. Semua amaliah orang tuanya dianggapnya beraroma “TBC” [Tahayul, Bid’ah dan Churofat], yang semua harus di”bersihkan”. Bahkan yang lebih fantastis, mereka beranggapan bahwa, penganut yang menurut anggapan mereka TBC tersebut adalah halal darahnya.

Jika kita makmum pada imam yang ternyata imam dalam membaca surah Al-Fatehah tidak didahului bacaan Basmalah. Bagaimana langkah kita?. Kita melanjutkan menjadi makmum? Atau mufaroqoh atau memisahkan diri dari jama’ah?.

Menurut para ulama Syafi’iyyah, membaca surah Al-Fatehah merupakan rukun dalam ibadah sholat. Rukun adalah merupakan sesuatu yang harus dilakukan dalam suatu amalan. Kalau ditinggal maka amalan itu tertolak, tidak diterima. Baik sholat fardhu maupun sholat sunah. Surah Al-Fatehah, menurut Syafi’iyyah terdiri dari 7 ayat. Ayat yang pertama adalah Basmalah, yang bunyinya “Bismillahir rahmanirrahim”. Jadi, karena basmalah itu merupakan salah satu ayat dari surah, maka konsekwensinya harus dibaca. Dan satu rangkaian rukun sholat.

Ada tiga kelompok keterkaitannya dengan bacaan Al-Fatehah dalam sholat. Pertama semua surah dibaca jahr atau keras [dalam sholat jahr misal sholat magrib, isa’ dan subuh]. Kedua, dibaca jahr, kecuali basmalah [nyaris tak terdengar] dalam sholat jahr. Ketiga, basmalah tidak dibaca, sedangkan ayat berikutnya sampai Waladhollin dibaca jahr.

Seandainya kita makmum pada imam yang tidak baca basmalah, maka kita harus mufaroqoh artinya memutus tidak jadi makmum. Memutus itu hanya pada area batin saja. Sementara gerak sholat kita tetap mengikuti gerakan jama’ah. Hal ini tentu untuk menjaga ukhuwah saja.

Langkah seperti itu merupakan langkah yang sangat bijak dan mengandung dua dimensi sekaligus. Dimensi syar’i dan dimensi etika sosial. Dimensi syar’i adalah melakukan mufaroqoh, karena tidak sesuai dengan akidah keyakinan kita. Dan etika sosialnya kita tetap menjaga hubungan kemasyarakatan kita tetap terjaga. Mufaroqoh itu hanya dibatin. Sementara perilaku sholat kita tetap mengikuti gerakan imam.

Itulah barangkali langkah yang sangat setrategis dan tidak menyinggung perasaan golongan lain. Amaliah kita terjaga dari berbagai aliran yang ada, sementara ukhuwah tetap terbina dengan mengedepankan etika sosial. NU benar- benar rahmatan lil alamin. Semoga.

Penulis adalah penulis buku “NU, Muhammadiyah Di Mata Kang Bejo”.

judul iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here