Hati Adalah Cermin Seseorang (2)

0
136
Oleh: Muhammad Umar Said

ألبحث فى علم التصوف من كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ العلامة إبن عجيبة فى شرح الحكم للشيخ العلامة العارف بالله إبن عطاء الله السكندري

(القلب مرءة الشخص (الجزء الثاني

قال الشيخ إبن عطاء الله 

“فمالك أيها الفقير إلا قلب واحد. إذا أقبلت على الخلق أدبرت عن الحق،  وإذا أقبلت على الحق أدبرت عن الخلق فترحل من عالم الملك إلى الملكوت،  ومن الملكوت إلى الجبروت،  وما دامت مقيدا فى هذا العالم بشهواتك وعوائدك فلا يمكنك الرحيل إلى ربك”،  وإلى ذالك أشار بقوله : أم كيف يرحل إلى الله وهو مكبل بشهواته

قال الشيخ زروق رضي الله عنه : إن تعلق القلب بطلبها قبل حصولها وإلا فلا،  لعدم تعلق القلب بها،  وقد تقدم فى حقيقة التصوف أن تكون مع الله بلا علاقة. وكان شيخنا رضي اللَّه عنه يقول: إن شئتم أن نقسم لكم لا يدخل عالم الملكوت من فى قلبه علقة

“فاقطع عنك يا أخي عروق العلائق، وفر من وطن العوائق،  تشرق عليك أنوار الحقائق”

Penjelasan:

Syeikh Ibnu Atho’illah RA berkata, “Pada hakekatnya setiap orang itu hanya memiliki hati satu,  yaitu hati yang dijadikan tempat hudhur (حضرة)  hanya kepada Allah”. Sehingga jika hati seseorang sedang asyik masyuk dan sibuk berurusan dengan makhluk, maka dapat dipastikan ia sedang dalam kondisi lupa kepada Allah, dan Allah di dalam hatinya terkesampingkan.

Dan sebaliknya,  jika hati seseorang sedang dekat dan menghadap Allah, maka segala  urusan duniapun terabaikan. Dan ketika hati seseorang sedang dekat dengan Allah,  maka ia sedang menuju pada alam malakut,  hingga sampai alam jabarut. Tetapi apabila hati seseorang terbelenggu oleh urusan duniawi dengan segala kesenangannya, maka ia tidak mungkin bisa menuju pada hadroh Allah SWT.

Sehubungan dengan hal tersebut, Syeikh Ibnu Atho’illah RA memberikan isyarat dengan ucapan beliau, “Bagaimana bisa hati seseorang dapat menuju kepada Allah, sementara hatinya terbelenggu oleh syahwat duniawi? “

Selanjutnya Syeikh berkata, “Apabila hati seseorang masih tergantung makhluk dengan segala sesuatu yang belum berhasil dicapai, maka hatinya tidak mungkin bisa menuju kepada Allah, kecuali jika hati itu melepaskan belenggu yang mengikatnya,  maka ia baru bisa menuju kepada Allah SWT. Dan inilah sesungguhnya hakekat tasawuf itu,  yaitu berhubungan dengan Allah tanpa ketergantungan kepada sesuatu apapun selain-Nya.

Maka selanjutnya, Syeikh Ibnu Athoi’llah berkata, “Maka putuskan dan jauhkan darimu wahai saudaraku! segala ketergantungan yang memblenggumu, dan larilah (menjauhlah) dari segala tempat rintangan yang menghalangimu, hingga terbitlah sinar cahaya hakekat (نور الجقائق).

Kesimpulan :

Ada tiga tangga untuk mencapai maqam makrifat.

Pertama, muraqabah (مراقبة), yaitu mendekatkan diri melalui tadzakkur, tafakkur dan i’tibar;

Kedua, musyahadah (مشاهدة), yaitu menyaksikan hakekat dengan mata batin (sir); dan

Ketiga, mukalamah (مكالمة), yaitu dialog batin di alam jabarut.

Ketiga maqam/tangga di atas, bisa dilalui seorang pengembara (راحل) yang ingin menuju maqam makrifat dengan syarat hatinya tidak ada penghalang dan ketergantungan pada makhluk dengan segala syahwat (kesenangan duniawi) yang menguasai dan membeleggu hatinya.

Apabila seorang salik (سالك) atau rahil (راحل) telah dapat membersihkan hatinya dari segala penghalang dan rintangan, maka akan terbitlah sinar hakekat, dan ia telah sampai maqam yang tertinggi yaitu alam jabarut (عالم الجبروت) atau singgasana Tuhan (حضرة الرب). Tentu saja, yang dapat mencapai derajat tertinggi di sini hanya orang-orang terpilih (para nabi, rasul dan wali Allah). Allahu a’lam bis shawab.

Semoga bermanfaat.

Ngaji Tasawuf bersama KH. Mohammad Danial Royyan 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here