Hari Santri, RMI NU Sukorejo Gelar Istighotsah dan Doa Bersama

0
73

Sukorejo, pcnukendal.com – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2020, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kecamatan Sukorejo menggelar istighotsah dan doa bersama pada Jumat (23/10) di Gedung MWC NU Sukorejo.

Ketua RMI NU Kecamatan Sukorejo, Muhammad Reza Pahlevi mengatakan kondisi pandemi Covid-19 yang belum usai menjadikan peringatan Hari Santri Nasional pada tahun ini diisi dengan istighotsah dan doa bersama dengan jumlah peserta terbatas serta menerapkan protokol kesehatan.

“Kegiatan tahunan ini biasanya berlangsung sangat semarak, diikuti ribuan peserta. Ada pawai ta’aruf yang diikuti seluruh santri dan guru TPQ, MDT, dan pesantren. Namun tidak memungkinkan bila dilakukan pada masa pandemi seperti saat ini,” tutur Gus Levi.

Gus levi menambahkan dengan menjelaskan maksud dan tujuan acara tersebut. Yakni untuk mengingat dan menumbuhkan kembali nilai-nilai dan semangat Resolusi Jihad NU yang dicetuskan Rais Akbar Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 untuk diaktualisasikan pada era milenial saat ini. 

“Intinya santri sebagai benteng agama (Islam) dan benteng nasionalisme, yang kemudian banyak ulama nusantara menyebutnya dengan istilah nasionalis-religius,” tandasnya.

Camat Sukorejo, Mansur sangat mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan itu. Ia mengucapkan terima kasih karena acara dilaksanakan dengan menaati protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. “Hal ini bisa dijadikan contoh di masyarakat bahwa santri adalah garda terdepan yang mendukung pemerintah dalam rangka menghadapi bencana Covid-19,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua MWC NU Sukorejo Fahroji dalam sambutannya menegaskan sikap netral MWC NU Sukorejo dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Kendal tahun 2020. “NU kita kembalikan kepada khittahnya, tidak berpolitik praktis, apalagi menyatakan dukungan ke salah satu pasangan calon,” tegas Ketua MWC NU Sukorejo.

Istighotsah dan doa bersama diawali pembacaan ayat Alquran, tahlil, ikrar santri, salawat nariyah, maulid Nabi, dilanjutkan tausiyah kebangsaan oleh Gus Nurul Anwar dari Pegandon.

Dalam tausiyahnya Gus Nurul Anwar menyampaikan orang-orang yang berilmu (‘alim) dan santri jangan sampai hilang. Karena hilangnya orang ‘alim dan santri akan menjadi sebab hancurnya negara. Selain itu, ia juga mengajak meluruskan niat berjuang dalam Nahdlatul Ulama seperti halnya ibadah, yakni dengan ikhlas untuk memperoleh ridho Allah Swt.

“Tidak boleh bangga dengan jumlah amal kebaikan dan pahala ibadah yang akan mengantarkan kita masuk surga, karena hal itu tidak akan terwujud tanpa mendapatkan rahmat dan ridho dari Allah Swt,” terangnya. (A. Malik/Muf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here