Hakikat Syahadat

0
146

Oleh: Imron Samsuharto

Kaum muslim atau mukmin di mana pun di muka bumi ini, terikat pada tiga aspek hukum, yakni hukum adat, hukum aqol, dan hukum syariat. Hukum adat mengikat masyarakat penganutnya sesuai pranata yang disepakati bersama, sekaligus pengejawantahan esensi makhluk sosial. Kemudian hukum aqol – akal budi, pikiran, logika – yang mengandung makna kesadaran bahwa keberadaan sesuatu pastilah ada yang mengadakan, ini berlaku bagi yang sudah tamyiz atau mukallaf. Sedangkan hukum syariat merupakan wadah aturan-aturan Allah, baik yang bersumber dari nas maupun hujjah.

Hukum adat merupakan hukum alam yang memuat sistem aturan keanekaragaman makhluk,  baik yang tamyiz (berakal), yang memiliki nafsu, maupun yang hanya hidup secara alamiah. Semua itu disebut maf’ul yang berarti ciptaan Allah Swt. Oleh karena itu, ia dikenai hukum atau aturan tertentu. Hanya saja hukum adat pada kehidupan manusia, tata aturannya lebih rapi dan teratur karena manusia dikarunai pikiran. Maka, aplikasi aturan adat seperti kebiasaan manusia di jalan raya – sebagai contoh – diimplementasikan dalam bentuk undang-undang lalu lintas yang prosesnya melalui kesepakatan bersama berbagai pihak.

 Hukum aqol mengandung aturan bagi makhluk tertentu yang disifati abdun matbu’un yaf’alu ma yu’marun (hamba yang taat dan selalu mengerjakan apa yang diperintah) yang sejatinya dimiliki malaikat. Namun demikian, ini bisa dijadikan contoh sekaligus diikuti makhluk lain yang ber-aqol kuat seperti para nabi, rasul, auliya, wali, sholihin, syuhada, dan kaum khos. Aturan berpikir secara akal termaktub dalam hukum aqol ini. Akal selalu beriringan dengan hakikat kebenaran dan ketaatan.

Sedangkan hukum syariat hanya diberlakukan pada kaum mukmin dan muslim yang mau tholabul ilmi (belajar ad-din) serta melaksanakan arkanul islam (rukun islam) yang lima – syahadat, shalat, zakat, puasa ramadhan, haji –, meyakini arkanul iman (rukun iman) yang enam – iman pada Allah swt, pada malaikat-Nya, pada kitab-Nya, pada rasul-Nya, pada yaumil akhir, serta iman pada qodho dan qodhar (ketentuan) –, be-robithoh, ber-mursid, ber-mazhab, mengikuti kitab-kitab hujjah yang sahih, takzim dan tawaduk pada ketentuan yang telah dilaksanakan dengan lazim. Ketentuan hukum seperti wajib, sunah, makruh, mubah, haram ada dalam cakupan hukum syariat ini.

Di antara item hukum syariat adalah bersaksi dengan syahadat yang merupakan rukun islam pertama dari yang lima. Syahadat itu persaksian diri dengan kalimat asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah yang artinya “saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan (rasul) Allah”. Pada setiap arkanul islam dikenal apa yang disebut rukun sebagai persyaratan wajib, demikian pula pada syahadat. Rukun syahadat ada empat, yakni (1) syahidun, (2) masyhudun, (3) masyhudun bih, (4) masyhudun ilaih. Syahidun adalah pihak yang bersaksi (hamba muslim), sedangkan masyhudun adalah apa yang disaksikan yaitu Allah. Kemudian masyhudun bih itu sifat-sifat Allah, dan masyhudun ilaih adalah rasul Muhammad Saw.

Kedudukan syahadat ada pada tiga tempat, yakni lisan, badan, dan kalbu. Dalam rangka menegakkan ketauhidan, seyogianya syahadat meresap sampai ke hati (kalbu), diwujudkan dalam tindakan yang baik sehingga berperilaku menyakiti orang lain pun pantang, sekaligus peduli pada sesama muslim sebagai saudara seagama. Setiap kali ada kesempatan, ikrar syahadat perlu diperbarui minimal sehari tiga kali di luar saat salat, azan, dan iqomah. Pertama, untuk memperbarui iman yang ada di lisan; kedua, iman yang terletak di badan; dan ketiga, iman yang bersemayam di kalbu. Disadari atau tidak, kedudukan iman bisa tergerus melalui lisan, perbuatan anggota badan, serta kalbu atau hati. Maka, mesti di-refresh atau diperbarui agar iman terkontrol secara baik.

Kalimat persaksian laa ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah) atau disebut tahlil hukumnya wajib, itu menjadi bagian dari kalimat syahadat tauhid. Kalimat syahadat pun melekat pada suara azan sebanyak dua kali sebutan serta iqomah satu kali sebutan. Jika dalam sehari dikumandangkan azan dan iqomah sebanyak lima kali, berarti lima belas kali syahadat itu disebut (dalam azan 10x, iqomah 5x). Dan jika salat fardhu ditunaikan dalam sehari semalam, maka sembilan kali kalimat syahadat itu disebut dalam tasyahud. Belum lagi jika salat sunah rowatib turut pula dikerjakan. Dengan demikian, orang yang selalu mendirikan salat pada hakikatnya menjaga kualitas iman. Seperti jamak dimafhumi, kualitas iman itu bersifat fluktuatif, artinya naik-turun atau berlebih dan berkurang.

Iman yang dimiliki mukmin atau muslim bersifat ma’bulun artinya sesuai dengan yang diperbuat. Jika seseorang menunaikan salat, tadarus Alquran, berzikir, atau ibadah lainnya, berarti ia tengah dalam ketetapan iman atau kondisi pasang. Dan jika ia tengah berperilaku di luar ketentuan agama berarti imannya sedang surut atau tidak tetap. Sedangkan iman yang dimiliki Nabi, Rasul, atau waliyullah bersifat maksumun atau selalu naik. Kemudian imannya makhluk malaikat bersifat matbuk atau tetap, karena malaikat berperilaku atau berbuat bergantung pada perintah-Nya saja. Malaikat menunaikan keimanannya dengan ketetapan kehendak-Nya, artinya imannya tetap dengan hanya menuruti perintah. Dengan demikian, golongan muslim/mukmin secara umum memiliki iman ma’bulun atau berlebih-berkurang, naik-turun, pasang-surut.

Menjaga senantiasa dalam ketetapan iman atau iman yang pasang, tidaklah mudah. Banyak tantangan dan godaan, baik internal maupun eksternal. Ketika di area pasang atau naik, haruslah membetahkan diri meningkatkan kebaikan-kebaikan seraya memburu predikat taubatan-nasuha. Ibarat menyetir atau mengendarai mobil, akan menemui jalan berliku, menanjak, berkelok, melandai tajam, kadang jalan lurus tapi licin dan bergelombang. Meskipun begitu, sedapat mungkin tak tergelincir atau terpelanting. Iman pun harus dijaga jangan sampai tergelincir jatuh tersungkur.

Menuju iman yang menaik, tidaklah ada rumusnya kalau tak melalui ujian atau cobaan. Sebagaimana termaktub dalam surah At-Taubah ayat 16 yang artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  Untuk naik level, mesti melalui serangkaian ujian demi ujian yang mau tak mau harus dihadapi kalau mau lulus. Pahit getir hingga pedih perih selama penggapaian puncak iman adalah pupuk stimulus atau doping menuju kelezatan iman yang sebenarnya.            

Iman yang berkualitas mesti diiringi amal saleh. Jadi, iman tidaklah sebatas keyakinan statis tanpa bukti perbuatan. Ganjaran bagi orang yang beriman dan beramal saleh adalah surga firdaus. Dinyatakan secara jelas dalam Alquran: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya.” (Al-Kahfi: 107-108).

Penulis adalah pemerhati religi dan editor online, alumnus FS (kini FIB) Undip Semarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here