Hakikat Kembali ke Fitrah

0
79
Oleh: Moh.
Muzakka Mussaif

Khutbah I

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر 

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كثيرا وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ

اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

صدق الله العظيم

Hadirin Sidang Idul Fitri Rahimakumullah

Sebelum saya menyampaikan khotbah Idul Fitri di pagi ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmah, taufik dan hidayah kepada kita sehingga kita mampu melaksanakan ibadah puasa sebulan dengan penuh kenikmatan. Kemudian di pagi yang bahagia ini kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT berduyun-duyun menuju masjid ini untuk menjalankan ibadah shalat Ied secara berjamaah sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tasbih.

Sebelum saya menyampaikan khotbah dengan tema “Hakikat Kembali ke Fitrah”, tiada henti-hentinya pula saya mengajak dan berwasiat pada diri saya sendiri dan hadirin sekalian untuk senantiasa meningkatkan derajat ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena Allahlah kita semua bisa hidup dan mendapatkan kenikmatan dunia dan insyaallah di akhirat kelak. Tiada sesosokpun yang dapat memberikan anugrah dan kenikmatan kecuali Allah SWT. Hanya Allahlah yang memberikan kita kemenangan setelah kita melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd

Hari raya Idul Fitri merupakan merupakan hari kemenangan besar bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia setelah berjihad melawan hawa nafsu, baik nafsu yang bersifat lahiriah seperti menahan lapar dan dahaga, berpesta pora di siang hari maupun nafsu batiniah seperti berdusta, marah-marah, ghibah, namimah, dan fitnah. Dengan mengalahkan hawa nafsu tersebut berarti kita telah memperoleh kembali fitrah kita sebagai hamba Allah. Oleh karena itu para hadirin,  nilai-nilai kesucian yang kita peroleh lewat gemblengan Ramadan ini harus kita pelihara sebaik-baiknya dengan meningkatkan ketaatan kita pada Allah dankesalihan sosial kemasyarakatan. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali suci dan menangmelawanhawanafsu. Ja’alanallahu waiyyakum minal aa’idiina wal faa’iziin.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Walillaahil Hamd

Allah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah, bebas dari segala dosa. Seperti bayi yang terlahir oleh seorang ibu manapun. Namun, orang tua, lingkungan, dan tekanan hawa nafsunyalah yang kemudian memengaruhi kondisi fitrahnya menjadi berubah. Mengapa disebut Idul Fitri?, Sebab setelah manusia tertekan oleh banyak hal, maka sifat fitrah itu pasti sudah berubah-ubah. Semua tergantung dari pemertahanan individu dalam menghadapi tekanan-tekan itu. Jika manusia itu berhasil melawan tekanan-tekanan itu, meskipun sebelumnya sempat terjebak olehnya, maka dia dapat dikatakan kembali ke fitrah, Idul Fitri. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berpuasa Ramadhan setiap tahun itu, tidak lain hanyalah untuk menundukkan berbagai tekanan yang melingkunginya. Sifat fitrah yang telah berubah wujudnya bahkan nyaris hilang itu menjadi kembali melekat pada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, setelah kita selesai dan berhasil menjalankan puasa Ramadhan ini dengan penuh keimanan dan mengharap ridho Allah, insya Allah kita semua kembali pada sifat fitri. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Walillaahil Hamd

Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran bahwa tugas manusia di dunia ini ada dua, yakni menjadi abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah fil ardh (khalifah Allah di bumi/dunia). Tugas pertama dan utama ini ditegaskan oleh Allah dalam QS. Al-Dzariyat: 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Adapun tugas kedua dinyatakan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 30,

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Tugas sebagai abdullah (dimensi vertikal) dan tugas sebagai khalifah fil ‘ardh (dimensi sosial) itu harus dijalankan oleh manusia sebaik-baiknya secara bersamaan dengan berpedoman pada ajaran Allah dan Rasulnya. Keberhasilan manusia menjalankan tugas sebagai Abdullah itu indikatornya adalah pada implementasinya dalam kehidupan sehari-harinya, apakah tugas itu bernilai positif bagi sesama dan semesta atau tidak. Jika implementasinya bernilai positif berarti ia dapat menjalankan tugas sebagai abdullah dengan baik. Sebaliknya, keberhasilan tugas sebagai khalifah ini dikatakan berhasil baik jika di dalam mengatur sesama dan semesta itu, ia berpedoman pada ketentuan Allah dan Rasulnya. Jadi, singkatnya dimensi vertikal dan dimensi social harus dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh manusia secara bersamaan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Walillaahil Hamd

Dalam kehidupan sehari-hari ternyata manusia banyak yang kesulitan dalam menjalankan kedua tugas Allah tersebut secara bersamaan. Banyak manusia yang menjalankan tugas abdullah semata, seperti rajin shalat, puasa, membayar zakat, bahkan berhaji, tetapi tidak sempat atau peduli terhadap persoalan masyarakat. Ada juga yang semangat menjalankan tugas sebagai abdullah secara formalistik saja dan tidak berdampak pada implementasinya sebagai seorang khalifah di bumi. Mereka menjalankan ibadah karena sangat ingin masuk surga dan takut neraka. Namun, ibadahnya tidak berdampak pada implementasinya.

Allah memerintahkan kita untuk menjalankan perintah sholat, zakat, puasa, dan haji itu tujuannya sangat jelas, yakni agar kita menjadi orang baik (sholih). Indikator orang sholih sangat jelas yakni taat beribadah pada Allah dan bermanfaat bagi sesama dan semesta. Hamba yang benar sholatnya seharusnya ia dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar. Hamba yang puasanya benar seharusnya dia menjadi orang yang sabar dan dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan dosa. Hamba yang membayar zakat seharusnya menjadikan ia bersih jiwa, harta, serta peduli sesama. Hamba yang berhaji seharusnya dia menjadi orang baik (mabrur), yakni meningkat ibadahnya dan sangat peduli terhadap fakir miskin. Jadi, singkatnya jika seorang hamba itu melaksanakan perintah Allah, tetapi tidak membuat baik dirinya dan lingkungannya berarti ia belum melaksanakan perintah Allah dengan sempurna. Sebab, ibadah itu tujuanya bukan pada format atau bentuknya, tetapi tujuan dan efeknya (substansi). Insya Allah kita semua ternasuk orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah Allah pasca ibadah Ramadhan ini. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Walillaahil Hamd

Setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan iimanan wahtisaaban, insya Allah semua kesalahan dan dosa kita pada Allah diampuni. Dosa setahun lalu bahkan bisa jadi setahun kedepannya. Hal itu telah disampaikan  Rosulullah secara gamblang dalam banyak hadits. Di antaranya yang paling sering dinukil adalah,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap akan ridho/pahala dari Allah, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu (HR. Bukhori).

Kalau Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita yang lalu tidak secara otomatis kesalahan kita pada orang tua, kaum kerabat, tetangga dekat ataupun jauh, teman sejawat, dan yang lainnya termaafkan. Namun, setelah dosa pada Allah sudah diampuni, jika kita ingin kembali pada fitrah, kita juga harus saling memaafkan kesalahan sesama manusia. Sebab, kita sebagai manusia tidak bisa terlepas dari perbuatan salah dan lupa.

Oleh karena itu, setelah sholat Idul fitri ini kita harus saling memaafkan kesalahan dan saling mendoakan dengan ucapan “taqobbalallahu minna waminkum wataqobbal yaa kariim”. Jika, kita saling memaafkan maka efeknya luar biasa, yakni kerukunan, keharmonisan, kasih sayang, dan kebahagian. Jika saling memaafkan ini dilakukan oleh seluruh elemen bangsa (sesama pemimpin bangsa, pemimpin bangsa dan rakyatnya, serta sesama rakyat), maka insya Allah ketegangan dan kerenggangan bangsa yang tengah mengoyak negeri ini akan berubah menjadi bersatu padu, bahkan persatuan ini akan makin menguat ke depan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Walillaahil Hamd

Setelah kita kembali ke fitrah, khususnya setelah saling memaafkan pada sesama, kita dapat menambah keharmonisan dan keeratan hubungan kemanusiaan dengan menyambung tali silaturrahim pada karib kerabat, keluarga jauh, tetangga dekat, teman sejawat, dan seterusnya. Sebab, silaturrahim ini perintah Allah dan perintah Rosulullah. Hal itu ditegaskan dalam beberapa ayat Alquran, misalnya tampak dalam QS. Annisa’: 1

وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ

Artinya: Dan takwalah kamu sekalian pada Allah yang kamu sekalian meminta dan sambunglah tali silaturrahim.

Terkait silaturrahim ini Rosulullah juga menegaskan dalam banyak hadits, di antaranya yang populer adalah Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir falyashilr ahimah,”Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka sambunglah tali silaturrahim”.

Hadits yang shohih itu menegaskan pada kita bahwa silaturrahim itu sangat penting. Efeknya tidak hanya pada kemaslahatan umat saja, tetapi juga pada keimanan kita pada Allah. Saking pentingnya, perintah silaturrahim ini, Rasolullah mengancam pada orang-orang yang memutus talisilaturrahim itu dengan tidak akan masuk surga.  Hal itu ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidhi dan Imam Bukhori La yadkhul jannata qothi’u rahimi, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturrahim”.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Walillaahil Hamd

Oleh karena itu, melalui mimbar khotbah ini saya mengajak kaum muslimin dan muslimat, untuk menjadikan momen Idul Fitri ini untuk meningkatkan ibadah kita pada Allah dan melaksanakan perintah Allah dan ajaran Rasulullah, yakni bersilaturrahim dan berbuat baik pada sesama. Semoga Idul Fitri ini menjadikan seluruh elemen bangsa menjadi erat kembali berpadu untuk menjadikan NKRI menjadi negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofuur. Amiin Ya Robbal ‘Aalamiin.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَبْتَرُ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اللهُ اَكْبَرْ (٣×) اللهُ اَكْبَرْ (٤×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here