HAK MEMPEROLEH PENDIDIKAN MENURUT AL-QURAN

0
351

 oleh : Ali Fitriyana

Sudah terang kiranya bagi setiap orang jika pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang paling primer untuk umat manusia. Tanpanya manusia tidak akan mampu mengendalikan diri, mengatur orang lain ataupun menata alam sekitarnya. Bisa dikatakan bahwa pendidikan adalah sunnatullah yang harus ada di kehidupan manusia. Tentu tidak bisa dibayangkan umat manusia hidup tanpa adanya pendidikan.

Agama Islam datang dengan menegaskan esensi dan keharusan umat manusia untuk mendapatkan pendidikan. Meskipun sebelumnya tidak diingkari keberadaan mutlak adanya. Akan tetapi keadaan pada era jahiliyyah mencerminkan kurangnya kesadaran manusia dalam berpendidikan. Maka dari itu Islam tampil membawa semangat berpendidikan bagi umat manusia terutama bagi para pemeluknya.

Menurut Islam, setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan apapun status sosialnya, berapapun umurnya. Mulai dari keluar dari rahim seorang ibu hingga meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua berhak mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu Islam sampai mewajibkan untuk mencari pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi seluruh penganutnya tanpa terkecuali. 

Sebagian besar orang mengatakan, usia dini adalah waktu yang tepat untuk memperoleh pendidikan. Karena manusia pada masa kanak-kanak masih sangat membutuhkan bimbingan, pengarahan, pengenalan, pengetahuan dan lain sebagainya. Anak-anak ibarat rumah yang masih kosong. Ia masih membutuhkan perabot dan interior rumah agar rumah dapat ditempati dan bermanfaat bagi penghuninya. Ada ungkapan Arab yang pernah mengatakan memberi pendidikan bagi anak usia dini dinilai lebih mudah dari pada bagi usia-usia lanjut. Karena memberi pendidikan bagi anak-anak seperti mengukir di atas batu, sedangkan bagi usia lanjut seperti mengukir di atas air.

Definisi Hak Manusia Dalam Memperoleh Pendidikan

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata ‘hak’ dengan beberapa arti, diantaranya : benar, milik/kepunyaan, kewenangan atau kekuasaan untuk berbuat sesuatu, kekuasaan yang untuk menuntut sesuatu, derajat dan wewenang menurut hukum. [1] Dari sekian makna dari kata ‘hak’ bisa disimpulkan bahwa hal wewenang untuk memperoleh sesuatu dari orang lain adalah hak. 

Perlu diketahui, setiap manusia memiliki hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban merupakan dua perkara yang berkaitan. Kewajiban adalah hal yang dilakukan dan diberikan untuk orang lain. Seorang anak berhak mendapatkan pendidikan. Sedangkan orang tua berkewajiban memberikan fasilitasi pendidikan bagi anaknya.

Al-Quran tidak menyebutkan secara implisit kata ‘hak’ yang menjadi pembahasan tulisan ini. Akan tetapi ayat-ayat yang membahas tentang hak-hak manusia bisa tersirat dari makna beberapa ayat.   

Sudah jelas kiranya manusia dalam masa kanak-kanak sangat membutuhkan pendidikan. Hal itu bisa diketahui dengan berbagai jenjang pendidikan di Negara kita tercinta. Bahkan anak-anak putus sekolah yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya menjadi suatu hal yang ganjil di masyarakat dan perlu untuk dibantu.

Sedangkan kata ‘pendidikan’ memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. [2].

Menurut Mushtafa Al-Ghalayaini, pendidikan adalah penanaman budi pekerti pada jiwa anak-anak dengan siraman nasehat dan arahan sehingga dapat menjadi karakter yang melekat. Buah yang dihasilkan dari proses pendidikan yang berhasil ialah kebajikan dan bermanfaat bagi Negara dan agama. [3].

Kata hak dan pendidikan tidak ditemukan secara eksplisit dalam al-Quran. Akan tetapi bisa ditemui beberapa ayat yang masih ada kaitannya dengan hak berpendidikan. Dalam kitab al-Mu’jam al-Mawḍū’ī li Ăyāt al-Quran disebutkan ada 13 ayat yang membahas tentang kebebasan belajar, al-Baqarah 31, 164, 189, al-Nisā 113, al-An’ām 97, al-Naḥl 43, Ṭāḥā 114, al-Anbiyā 7, al-‘alaq 1-5. [4].

 

Konsep Pendidikan Menurut al-Quran

Kitab suci umat Islam salah satunya memiliki fungsi sebagai ‘pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lurus’[5]. Dengan kata lain, pedoman al-Quran dapat memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia secara individual maupun secara masyarakat. Nabi Muhammad saw. yang notabene sebagai penerima al-Quran juga memiliki tugas menyampaikan pedoman dan petunjuk al-Quran. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran tugas beliau adalah ‘menyucikan dan mengajarkan manusia’. Menyucikan bisa diidentikkan dengan mendidik dan mengajarkan manusia bisa diartikan dengan mengisi benak anak didik dengan berbagai pengetahuan. [6].

Salah satu tujuan utama dari pendidikan dan pengajaran tersebut ialah pengabdian kepada Allah swt. sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia. [7]. Sedangkan tujuan lain adalah memakmurkan dan membangun bumi secara baik. Tujuan ini bisa terlaksana ketika manusia mampu menjadi khalifah yang baik di permukaan bumi. [8].

Bisa jadi tujuan-tujuan diatas sangat sesuai dan relevan dengan pembangunan nasional dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1983 disebutkan, “Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan bertujuan meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yang dapat membangun dirinya serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

Menurut UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Sayyidina Ali kw. pernah mengatakan: ”Allah tidak mengambil sumpah (mewajibkan) orang bodoh belajar sebelum ia mewajibkan orang terpelajar mengajar.” [9].

 

Pandangan AL-Quran Tentang Hak Manusia Memperoleh Pendidikan

Pada tahapan awal fase manusia, membaca adalah sarana pertama pendidikan yang harus dikuasai. Sehingga misi utama pendidikan pada jenjang Taman Kanak-Kanak ataupun Sekolah Dasar adalah kompetensi membaca. Berdasarkan wahyu yang pertama, manusia dituntut untuk memiliki pendidikan dan pengetahuan melalui media membaca, sebagaimana firman-Nya: 

( اقرأ باسم ربك الذي خلق )

Bacalah dengan nama Tuhan-Mu Yang telah mencipta

Menurut Ibnu Kaṡīr, wahyu pertama Allah swt bagi Nabi saw berupa rahmat-Nya yang sangat luar biasa. Rahmat kasih sayang itu berupa ilmu pengetahuan yang dapat menyinari kehidupan umat manusia. Manusia menjadi mulia dengan adanya ilmu yang ada pada hati, otak, lisan, hingga tulisan. [10]. Oleh karena itu lima ayat yang menjadi wahyu pertama mencakup membaca dan menulis.

Setelah penguasaan membaca dinilai cukup, Allah swt melanjutkan misi pendidikan-Nya bagi umat manusia dengan belajar menulis. Hal ini senada dengan firman-Nya:

( الذي علم بالقلم )

Pendidikan dan pengajaran ini bersifat rabbani (ketuhanan) yaitu didasarkan pada nilai-nilai agama. Orang-orang yang melaksanakan tugas mendidik dan mengajar juga dinamai dengan rabbaniy sebagai mana disebutkan QS; Ali Imran 79 :

-(( كونوا ربانيين بما كنتم تعلمون الكتاب وبما كنتم به تدرسون ))-

Al-Zamakhsyari menafsirkan kata rabbaniy diatas dengan orang yang taat kepada Allah dilandasi dengan ilmu dan belajar. Beliau juga menerangkan kata تعلمون bisa dibaca dengan tua’llimun yang berarti mengajar atau juga ta’allamun yang berarti belajar. Sama halnya dengan تدرسون yang bisa dibaca tadrusun dan tudarrisun.[11]  

Sedangkan bentuk kata mudhari’ dalam kata mengajar dan belajar diatas bisa disimpulkan bahwa belajar dan mengajar dalam rangka berpendidikan dilakukan terus-menerus tanpa adanya batas waktu. hal ini bisa dipahami bahwa anak kecil bahkan bayi ataupun balita memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sampai jenjang seterusnya.

Ada suatu ungkapan yang sementara dianggap oleh banyak orang sebagai hadis yang disandarakan kepada Nabi saw, yaitu :

((اطلبوا العلم من المهد إلى اللحد))

Terlepas benar tidaknya ungkapan tersebut berasal dari baginda Nabi saw, maknanya sangat sejalan dengan QS Ali Imran 79.

Hal ini dipertegas lagi dengan QS Thaha 114 yang memerintahkan Nabi saw untuk berdoa agar mendapatkan tambahan ilmu sambil berusaha untuk mendapatkannya. Padahal beliau adalah seorang yang mencapai puncak keilmuan dan pendidikan. Ibnu Jarir mengomentari ayat di atas, ini adalah perintah Allah bagi Nabi saw untuk memohon penambahan ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang masih belum diketahui beliau saw.[12]

Al-Razi dalam menafsirkan QS Luqman 13-19 menyimpulan ayat tersebut memiliki tujuan yang sama dengan pendidikan yaitu membangun kepribadian yang sempurna dan membangun kepribadian manusia seluruhnya. Karena manusia akan mempunyai derajat yang tinggi jika mampu menacapai tujuan tersebut.[13]

Barangkali semua sudah tahu bahwa membentuk karakter kepribadian sangat mudah dilakukan ketika usia manusia masih berada masa-masa permulaan. Oleh karena itu pendidikan bagi anak-anak sangatlah urgen bagi kelangsungan hidup manusia. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya banyak jenjang pendidikan bagi anak. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Play Group, Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan seterusnya. Hal ini mencerminkan pentingnya pendidikan bagi mereka. 

 

Hukum Memperoleh Pendidikan

Hampir tidak ada yang memungkiri urgensi pendidikan bagi umat manusia. Oleh karena itu sangatlah tabu bagi sesorang yang tidak bisa memperoleh pendidikan. QS Al-Taubah 122 menerangkan pentingnya pendidikan bagi manusia :

{وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ }

 

Ayat di atas melarang para sahabat untuk berperang seluruhnya. Akan tetapi selayaknya ada diantara mereka yang mau memperdalam ilmu agama dan mendengarkan ayat-ayat yang turun bagi Nabi saw untuk mereka sampaikan bagi sahabat lain yang pergi berjihad.[14]

Nabi Muhammad saw juga telah mempertegas hukum memperoleh pendidikan bagi umatnya.

(( طلب العلم فريضة على كل مسلم ))[15]

Dalam Negara kita juga sudah ditegaskan hukum wajib belajar 9 tahun.  (Ali Fitriyana).

[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia

[2]Kamus Besar Bahasa Indonesia

[3] Mushtafa al-Ghalayaini, ‘Iẓah al-Nāsyiīn.Al-Waṭaniyah (Beirut: 1936) Hal. 189

[4] Shubhi Abdurrauf Ashar & Ahmad Mushtaf al-Thahthawi, al-Mu’jam al-Mawḍū’ī li Ăyāt al-Quran. Dar al-Fadhilah (Kairo: tt) Hal. 447

[5] QS Al-Isra : 19

[6] Hamzah al-Marzuiy, Nadzhariyyat al-Tarbiyyah al-Islamiyyah bayn al-Fard wa al-Mujtama’. Syarikat Makkah (Makah: 1400 H) Hal. 1

Muhammad Quraish Shihab, Membumikan al-Quran jilid 1. Mizan (Bandung: 2014) hal. 268

[7] QS Al-Dzariyyat : 56

[8] QS Al-Baqarah 30 & QS Hud 61

[9] Sayyid Syarif Radhi, Nahjul Balaghah, Kata Mutiara no: 487

Al-Mawardi, Adabuddunya waddin, hlm. 123)

[10] Abu al-Fidā Ismā’īl bin ‘Umar bin Kaṡīr al-Dimasyqi, Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm. Dar Ṭaybah Publisher (ttp: 1999) jld. 4/ hal. 437

[11] Abu al-Qasim Mahmud bin Amr al-Zamkhsyari, al-Kassyaf. Tp (ttp :tt)

[12] Abu Ja’far Ibnu Jarir Al-Tahabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran. Tp (tp :tt)

[13] Abu Abdillah Muhammad bin Umar al-Razi, Mafatih al-Ghaib. Tp (ttp :tt)

[14] Abu Muhammad Husain al-Baghowi, Ma’alim al-Tanzil. Tp (ttp :tt)

[15] Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah. Tp (ttp:tt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here