Hadirnya Hati

0
165
Oleh: Muhammad Umar Said

البحث في علم التصوف من كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ العلامة إبن عجيبة في شرح الحكم للشيخ العلامة العارف بالله إبن عطاء الله السكندري رحمه الله تعالى

“حضور القلب”

حضور القلب مع الرب وهي ثلاثة أقسام: حضرة القلوب، وحضرة الأرواح، وحضرة الأسرار. فحضرة القلوب للسائرين، وحضرة الأرواح للمشرفين، وحضرة الأسرار للمتمكنين. أو تقول: حضرة القلوب لأهل المراقبة، وحضرة الأرواح لأهل المشاهدة، وحضرة الأرواح لأهل المكالمة، وسر ذالك أن الروح ما دامت تتقلب بين الغفلة والحضرة كانت في حضرة في حضرة القلوب، فإذا استرحت

 بالوصال سميت روحا وكانت في حضرة الأرواح، وإذا تمكنت وتصوفت وصارت سرا من أسرار الله سميت سرا وكانت في حضرة الأسرار. قلت : الحضرة مقدسة منزهة مرفعة لا يدخلها إلا المطهرون، فحرام على على القلب الجنب أن يدخل مسجد الحضرة، وجنابة القلب غفلته عن ربه. انتهى

Syeikh Ibnu Atho’illah RA berkata, bahwa hadirnya hati bersama Al-Rabb itu dibagi menjadi tiga bagian.

Pertama: Hadirnya hati, Kedua: Hadirnya ruh dan Ketiga: Hadirnya sirr.

Hadirnya hati itu bagi Sairin (pencari hakekat tingkat awal), hadirnya ruh bagi mustasyrifin (pencari hakekat tingkat menengah), dan hadirnya sirr bagi mutamakkinin (pencari hakekat tingkat tinggi yaitu berada di tempat yang mapan). Atau bisa disebut juga, bahwa hadirnya hati itu bagi orang yang berada pada maqam muraqabah (maqam pendekatan), dan hadirnya ruh berada pada maqam musyahadah (maqam kesaksian), sedangkan hadirnya ruh pada maqam mukalamah (maqam percakapan).

Apabila ruh itu sering berubah-ubah, terkadang lupa terkadang hadir (ingat), maka pada saat ruh seperti itu hati dalam kondisi hadir, dan ketika ruh sedang dalam kondisi senang/bahagia karena wushul ( وصال), maka hati berada pada حضرة الأرواح, sedangkan ketika ruh telah berada pada tempat yang tetap, bersih, dan telah menjadi sirr Allah, maka ruh yang demikian itu telah berada pada maqam sirr.

Syeikh Ibnu Ajibah RA berkata, bahwa maqam Muqaddas itu tidak bisa masuk di dalamnya, kecuali orang-orang yang suci hatinya. Maka haram bagi hati orang yang sedang junub masuk ke dalam masjid Hadrah, dan jinabatnya hati adalah lupanya hati kepada Allah SWT.

Kesimpulan:

Apa yang dialami oleh para pencari hakekat sebagaimana kajian di atas, pengalaman spiritualnya adalah  berdasarkan  penglihatan mata batin (bashirah), dan bukan mata lahir (bashar) sebagaimana penglihatan orang awam. Jadi bagi orang yang telah mencapai maqam musyahadah ataupun mukalamah, maka ia telah mampu menggunakan bashirah, sedang orang yang masih berada pada maqam muraqabah, ia baru bisa menggunakan basharnya.

Adapun tanda tandanya adalah:

1. Jika seseorang berdzikir masih menggunakan lisan (باللسان), dan disertai  rasa  (hudlur) atau (حضور القلب),maka ia masih berada pada maqam muraqabah;

2. Jika seseorang berdzikir dengan ruhnya, maka ia berada pada maqam musyahadah;

3. Jika seseorang berdzikir dengan sirr, dan telah dapat menafikan segala sesuatu selain Allah, maka ia telah berada pada maqam mukalamah (mampu berbicara dengan sirr nya dengan Allah SWT).

Lalu pertanyaannya, sudah berada dimanakah maqam kita ?

Allahu a’lam bis shawaab.

Ngaji Tasawuf bersama KH. Mohammad Danial Royyan 
judul iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here