“HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”

0
63

oleh : KH. Mawardi Abu Dzar

Kalimat tersebut berasal dari kumpulan surat RA Kartini : “Door Duisternis Tot Licht”, yang terlanjur diartikan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
 
Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) – mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” Sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur”. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran)….

(Mengenang RA Kartini… lewat tulisan suratnya)

Salah satu surat RA Kartini bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Nyonya Abendanon…..:

” Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Hingga kartini bertemu dengan Kyai Sholeh Darat saat mengikuti pengajian di rumah pamannya yang menjadi Bupati Di Demak. Saat itu Kyai Sholeh Darat mengajarkan tafsir surat Al Fatihah. Rupanya Kartini sangat terpesona dengan uraian Kyai Sholeh Darat (Mbah Sholeh), karena selama ini gelap baginya makna dari ayat-ayat suci Al Quran. Padahal kalau kita simak surat-surat Kartini mengggambarkan bahwa ia adalah seorang yang intelek, kritis, dan rasional “.

Berikut dialog RA Kartini dengan Kyai Soleh Darat:

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Perlu difahami pada saat itu pemerintah Belanda memang melarang keras para Kyai menerjemahkan Al Quran dalam bahasa jawa karena akan membangkitkan jiwa perlawanan mereka terhadap penjajah. Bahkan dalam bahasa dan Aksara Jawa pun Belanda akan medeteksi karena Belanda menguasai kebudayaan Jawa. Akhirnya Mbah Sholeh berkeputusan untuk menerjemahkan Al Quran dengan trik menggunakan bahasa Jawa dan huruf arab pegon (gundul) yg tidak dikuasai Belanda. Terjemahan ini baru sampai Surat Ibrahim karena Mbah Sholeh keburu wafat. Kitab tafsir dan terjemahan Quran ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”…….

” Selamat Hari Kartini, 21 april 2016 “.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here