Gus Muwaffiq: NU Ditantang Tradisi Milenial

0
39

Kendal, pcnukendal.com – Tradisi milenial saat ini nggak pandang bulu, apa saja dihajar, hampir semua peradaban, baik spiritual maupun material. Yang konvensional kalau tidak beradaptasi akan dihajar karena slogan millenial is killing everything. Agen taksi konvensional dihajar grab, tempat kursus dihajar tutorial youtube, perangko dihajar dengan WA. Plang-plang jalanan akan dihajar google maps dan GPS. Sebentar lagi polisi lalu lintas akan dihajar CCTV. Untuk melihat orang mandi di kali, orang nggak perlu lagi lihat keluar kamar, tapi cukup dari kamar. Semua akan dihajar milenial. Bukan hanya agama, tapi juga perekonomian, komoditas konvensional, dan bahkan para penjahat pun dihajar lewat jejak digital.

Demikian disampaikan KH Ahmad Muwaffiq atau yang lebih dikenal dengan Gus Muwaffiq, mubalig kondang dari Kota Yogyakarta pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah ) Nahdlatul Ulama Kendal Online (NUKO) ke-2 dan Harlah Bank Nusamba ke-31 melalui zoom meeting yang selengkapnya dapat disimak melalui link https://www.youtube.com/watch?v=xFy1wy57KfQ.

“Karena tagline NU Kendal Online adalah dakwah digital rahmatan lil alamin, saya mau coba, saya di Yogya, tidak harus datang ke Kendal. Karena ini era milineal, era dimana sekat-sekat yang dulu hanya dilakukan oleh kelompok yang punya spiritual tinggi, dulu yang biasa zoom adalah para wali, sekarang yang penting punya kuota. Era di mana manusia dihadirkan dalam percepatan dimana dulu dibayangkan secara teknologi spiritual sekarang diganti dengan WhatsApp dan telepon. Dulu barang hilang datang ke orang pintar, sekarang ada CCTV. Dulu ada ajian Bandung Bondowoso sekarang diganti dengan Crane,” kata Gus Muwaffiq.

Peringatan Harlah NU Kendal Online di Aula Bank Nusamba Gondang Cepiring, Ahad (21/3) disemarakkan dengan presentasi 8 finalis lomba penulisan tokoh Nahdlatul Ulama Kendal dan mauidhoh hasanah Gus Muwaffiq, dan potong tumpeng. Harlah juga dihadiri Ketua PCNU Kabupaten Kendal, KH Mohamad Danial Royyan dan Direktur Bank Nusamba Cepiring, Bambang Susanto.

NU Paling Siap

“Menghadapi milenial NU sudah mempersiapkan pondasi kuat yaitu almuhafadhotu alal qodimissholih wal akhdu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang sudah baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik). Masa lalu sebagai kunci masa depan. NU paling siap karena seluruh disiplin keilmuan masih terjaga, mulai ilmu yang rumit dan spesifik, ilmu syariat atau fiqih, dan ilmu kalam,” kata Gus Muwaffiq.

“Ketika diterjunkan pada sebuah sistem kilas balik, NU nggak akan pernah kekurangan stok karena NU punya tradisi tidak mudah yakni menjaga warisan leluhur, tradisi keislaman yang paling awal, tradisi komunalism yang dibangun Rasulullah dan para sahabat. Tradisi komunalism ini tidak mudah karena Rosul harus berbagi makanan, ruang dan waktu dengan para sahabat. Istri nabi juga punya kesabaran untuk berbagi. Karena itu hadis – hadis nggak jauh dari situ seperti sami’tu (aku mendengar) dan roaitu (aku melihat)”.

“Tradisi komunal ini diduplikasi oleh para wali dan kiai seperti yang sekarang terjadi di pesantren, berbagi ruang, waktu, dan makanan. Waktu anak dan istri dibagi dengan santri. Santri pernah disuruh dan dilarang dalam komunal 24 jam. Sehingga secara sosiologi membentuk karakter kuat dan disiplin ilmu yang akhirnya memenuhi syarat untuk menjadi prototype innama yakhsallahu an ibadihil ulama. Santri jauh dari ortu menjadi lebih sabar. Barang sering hilang lama-lama punya sifat ikhlas, ngaji juga di depan kiai sehingga menjadi lebih tawadu‘” .

“NU nggak pernah kekurangan bahan. Yang lain baru mulai menyadari, namun mengedepankan sistem manajerial, ilmu wirosah-nya nggak jalan hanya dirosah-nya saja”.

Era Digital Tak Bisa Dihindari

Gus Muwaffiq menekankan bahwa era digital tak bisa dihindari. “Ada perubahan yang sebelumnya government to government sekarang menjadi provider to provider. Ibu – ibu tidak mau diajari masak secara langsung, karena sudah ada turorial di youtube. Sekolah-sekolah lewat daring. Era digital tidak bisa dihindari lagi”.

“Pertanyaannya adalah dalam tradisi pendidikan NU santri, terjadi kegalauan karena kegagapan untuk jalan keluar, bagaimana pendidikan di NU untuk bersaing di era digital. Di pondok tidak boleh pegang smartphone dengan alasan banyak mudharat, era digital menghasilkan kepintaran, sulit mencetak orang beradab.”

“Kita masih berdebat mudharat dan manfaat, padahal di depan mata sudah jelas harus bagaimana menghadapi situasi seperti itu, butuh keberanian revolusioner pendidikan yang ber-basic pesantren. Bisa terjadi nanti pesantren yang bolehkan santri pegang smartphone malah lebih ramai karena selalu ada komunikasi antara santri dan ortu secara langsung”.

“ini adalah resiko kaum yang masih jadi konsumen, karena kita masih menggunakan lapak milik orang lain baik itu youtube atau facebook. Untuk menghadapi masa depan, apakah anak-anak kita harus kita jauhkan dari digital. Mana yang bisa diproteksi dan mana yang bisa dikonsumsi. Kita bisa kok undang ahlinya untuk melakukan proteksi”.

Harlah NU Kendal Online ditutup dengan pengumuman juara dan penganugerahan penghargaan kepada para kontributor berita dan tulisan yang paling produktif. Para juara lomba penulisan tokoh NU dapat dibuka di link https://pcnukendal.com/inilah-juara-lomba-penulisan-tokoh-nu-kendal/ . (Moh Fatkhurahman)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here