Gus Muwaffiq: Malaikat Siaran Langsung dari Masjidil Aqsho

0
27

Kendal, pcnukendal.com – Melalui peristiwa Isra dan Mikraj Rasulullah ditunjukkan simbol-simbol masa depan. Pada saat kafir Quraisy tidak percaya bahwa Nabi telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho mereka pun mengajukan pertanyaan untuk menguji kebenarannya. Pada saat itulah Malaikat Jibril melakukan siaran langsung yang menggambarkan Masjidil Aqsho secara jelas, sehingga Nabi dapat menjawab pertanyaan secara tepat seperti jumlah tiang. Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho akhirnya menjadi tempat yang diberkahi sebagai tempat awal berkembangnya agama Islam, Nasrani, dan Yahudi.

Demikian disampaikan KH Ahmad Muwaffiq dari Yogyakarta yang lebih akrab dengan panggilan Gus Muwaffiq pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU Kendal Online (NUKO) ke-2 dan Harlah Bank Nusamba ke-31 melalui zoom meeting yang selengkapnya dapat disimak melalui link  https://www.youtube.com/watch?v=xFy1wy57KfQ.

Peringatan Harlah NU Kendal Online di Aula Bank Nusamba Gondang Cepiring, Ahad (21/3) disemarakkan dengan presentasi 8 finalis lomba penulisan tokoh Nahdlatul Ulama Kendal dan mauidhoh hasanah Gus Muwaffiq, dan potong tumpeng. Harlah juga dihadiri Ketua PCNU Kabupaten Kendal KH Mohamad Danial Royyan dan Direktur Bank Nusamba Cepiring, Bambang Susanto.

Dunia dalam 1 Kotak

Gambaran digitalisasi milenial saat ini menurut Gus Muwaffiq sudah tergambarkan pada masa lalu. “Dulu di Eropa orang berpikir mengenai kotak Pandora. Ada istilah Tabut Sulaiman. Di Islam ada Lauhil Mahfudz. Sekarang ini era duplikasi orang-orang yang berpengetahuan Pandora, dunia hanya ada dalam satu kotak. Melalui smartphone, sekarang dunia berada dalam satu genggaman. Kotak informasi dunia ada di google, kotak pencarian manusia ada di facebook dan WA”.

“Santri mendapat tantangan seperti itu maka harus diimbangi dengan kesiapan dalam menggunakan  digitalisasi seperti Kartu Tanda NU (Kartanu). Ke depan mungkin infaq sedekah tidak lagi dengan cara manual, bisa lewat pulsa atau infaq elektronik. Ini butuh kesiapan yang luar biasa. Coba kita bicarakan ini. Jika anak-anak kita tidak bisa pakai gadget pasti akan kalah bertarung”.

“Melalui konsep al akhdu bil jadidil ashlah ada nggak pesantren di Kendal yang bebaskan pegang smartphone, dengan diproteksi seperti China. Ini tantangan besar karena kita masih mengggunakan lapak medsos orang lain. Kita belum bisa bikin konten – konten di luar itu, kalau ada juga kecil sekali”.

“Suatu saat gedung-gedung besar pendidikan ini akan habis. Orang cukup jadi member dan dapat pendidikan di rumah masing-masing. Seperti yang terjadi dengan mall, madrasah – madrasah yang akan kita bangun dengan ruang besar juga akan kalah dengan yang berbasis digital karena orang tidak butuh ijazah lagi. Di beberapa negara konser secara daring tanpa penonton secara langsung dirasa lebih efisien dan menguntungkan. Orang tinggal nonton dari rumah masing-masing. Begitu pula pertandingan sepakbola, cukup daring. Yang mau menonton cukup membayar channel siaran langsungnya”.

“Lembaga-lembaga yoga di India, juga sudah daring dipandu melalui televisi . Jangan – jangan nanti juga muncul kiai besar yang tak punya pesantren, namun secara daring.  Inilah tantangan dakwah NU kedepan. Harus ada langkah strategis dan keberanian”.

Era Milenial, Era Lita’arofu

Menurut Gus Muwaffiq, menghadapi era milenial tak bisa bersikap egois. inilah era lita’arofu, saling pengertian. “Kita berangkat haji dengan pesawat Yahudi. Ingin tenang di masjid kita butuh AC Daikin Jepang. Jamnya juga bikinan Eropa. Agar bisa menginap dengan tenang  para jamaah haji menginap di hotel Paris Hilton. Agar jamaah haji tidak hanya minum air zamzam, Pemerintah Saudi Arabia mempersilakan pepsi dan cola buka lapak di sekitarnya. Inilah titik kita harus saling pengertian bahwa Islam itu rahmatan lil alamien”.

“Sekarang ini disebut sistem skala besar baik itu digitalisasi atau sistem teknologi, semua skala internasional sampai penyakit juga (Covid 19). Ini saatnya Islam menghadirkan rahmatan lil alamien. Dalam dunia yang sama, teknologi sama, budaya sama, harus ada rahmat yang melingkupi yaitu kesadaran saling berbagi dan saling mengerti (komunalism). Dalam hal ini NU paling siap karena sudah punya prinsip tawasuth dan tasamuh selain ukhuwah basyariyah dan wathaniyah”.

“NU sudah disiapkan untuk masa depan. Lambang NU dengan bumi bulat tapi diikat dengan tampar/tali yang longgar menjadikan NU tidak kaku. Bumi dibelah dengan gambar NU sehingga NU akan menjadi sistem diniyah sosial kedepan. Ini terjadi karena proses berdirinya NU dilalui dengan istikharah dan mukasyafah. Dengan kesiapan-kesiapan  berpikir transnasional, harus dihadapi dengan kasih sayang, ketenangan, dan kehati-hatian. (Moh Fatkhurahman)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here