GURU NU AGEN ASWAJA

0
337

 

Muhammad Umar Said

(Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Kabupaten Kendal)

(Tulisan yang disajikan berikut ini dirasa penting untuk dibaca para guru NU, baik yang mengajar di sekolah/madrasah maupun di pondok pesantren. Sebab Guru NU merupakan pilar utama dan agen dalam mengajarkan nilai-nilai Aswaja kepada anak didiknya agar mereka memahami nilai-nilai ajaran yang terkandung dalam Aswaja, sekaligus sebagai benteng diri untuk mempertahankan akidahnya dari pengaruh ideologi dan paham Liberalisme dan Radikalisme yang telah berkembang subur di tengah masyarakat kita).

 

Aswaja dan Realitas Perkembangannya

Ahlusunnah wal Jamaah, disingkat Aswaja adalah aliran keagamaan yang diikuti oleh mayoritas umat Islam Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama. Aswaja NU terkenal dengan nama Aswaja Nahdliyah, yaitu Aswaja yang menjadi keyakinan dan dasar utama bagi warga NU dalam semua bidang, agama, sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik. Namun sayang, mayoritas warga NU belum memahami secara mendalam apa itu Aswaja ?, apa yang membedakan Aswaja dengan aliran lain ?, dalil-dalil yang menjadi dasar amaliyah warga NU seperti tahlilan, manakiban, yasinan, dan lain-lain ?, Apakah benar amaliyah warga NU termasuk bid’ah dhalalah (sesat) ? kalau tidak, apakah termasuk kategori sunnah ? Wacana bid’ah selalu dijadikan senjata untuk menyerang amaliah warga NU secara terus menerus. Pelurusan wacana sangat penting dan mendesak, supaya warga NU bisa mengamalkan tradisinya secara nyaman dan tenang.

Selain itu, tantangan modernisasi dan globalisasi membuat formulasi Aswaja klasik mengalami kemunduran, karena dirasa kurang mampu menjawab tuntutan dinamika zaman. Maka, menjadi suatu keniscayaan melakukan penyegaran dan pembaruan doktrin Aswaja. Salah satunya adalah menjadikan Aswaja sebagai manhaj al-fikr (metodologi berpikir) dalam membaca realitas secara dinamis, analitis, produktif, dan solutif. Persoalan muncul lagi, bagaimana mengaplikasikan Aswaja sebagai manhaj al-fikr dalam organisasi/lembaga dan program-programnya. Disinilah pentingnya membumikan Aswaja sebagai manhaj al-fikr dalam organisasi/lembaga dan program-programnya supaya operasional kuatitatif sehingga bisa meningkatkan kualitas warga NU secara maksimal.

 Disinilah relevansi reformulasi Aswaja Nahdliyah di era modernisasi sekarang ini supaya sesuai dengan semangat zaman. Kader-kader muda NU yang mengenyam perguruan tinggi sudah bergulat dengan banyak wacana, baik itu yang sekuler, liberal, dan fundamental, sehingga dibutuhkan penyegaran dan pembaruan konsep Aswaja. Disinyalir konsep Aswaja klasik tidak mampu merespons tantangan global, karena hanya berkutat pada tiga bidang, yaitu akidah, syari’ah, dan tasawuf. Sementara tantangan bidang sosial, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, pertahanan dan keamanan, politik global, informasi, dan pemikiran berjalan dengan massif  dan eskalatif.

 Berkaitan dengan pendidikan, tanggung jawab para guru NU adalah mengentaskan anak didiknya dari kemiskinan ilmu, khususnya ilmu yang pada akhirnya mampu membentengi mereka dari serbuan aliran yang bertentangan denan aliran Ahlusunnah wal-Jama’ah.

Selain hal tersebut di atas,  munculnya golongan dan paham Radikalisme dan Liberalisme akhir-akhir ini juga merupakan tanggung jawab dan tantangan tersendiri bagi guru NU dalam menjelaskan kepada anak didiknya agar mereka terhindar dari paham  radikal dan liberal tersebut.  Seperti golongan pengusung ideologi takfir, yaitu golongan yang sering dan gampang mengkafirkan orang lain yang dianggap tidak sepaham dan sealiran dengan mereka, seperti kaum Khawarij, Wahabi Salafi, Hizbut Tahrir, Jamaah Anshorut Tauhid, LDII dan lain sebagainya. Sedangkan paham Liberal adalah golongan umat Islam yang secara bebas menafsirkan ayat-ayat  al-Qur’an dan al_Hadits serta teks-teks dalil agama tanpa berpedoman pada qaul para ulama mazhab khususnya para ulama berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah. Golongan-golongan tersebut sudah tumbuh subur di negeri kita, sehingga memprihatinkan semua pihak terutama para tokoh Nahdliyyin. Khusus dalam hal menanggapi mewabahnya paham  Radikalisme  tersebut di atas, sebagaimana yang disampaikan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, meminta agar para guru dari kalangan Nahdlatul Ulama untuk mengajarkan nilai-nilai Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Aswaja kepada para anak didik untuk membentengi diri dari bahaya maraknya paham radikal dan takfir tersebut. Pernyataan tersebut ditegaskan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat membuka kongres Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) ke 2, di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kabupaten Mojokerto JawaTimur pada yang dilaksanakan  pada tanggal 26-29 Oktober 2016.
Menurut Khofifah Indar Parawansa Mensos, nilai-nilai yang terkandung dalam Aswaja tersebut di antaranya sikap toleransi antar sesama, dan selalu bersikap moderat. Khofifah menegaskan, jika setiap guru  NU mampu berwawasan Aswaja, maka tak pernah ada konflik SARA di Indonesia.
Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga menegaskan, bahwa saat ini banyak dijumpai paham-paham radikalisme. Paham tersebut muncul akibat pendidikan dasar tak disertai wawasan kebangsaan dan nasionalisme.
Sementara itu, Menteri Agama juga meminta kepada para guru NU selalu menanamkan rasa cinta tanah air dengan konsep Aswaja. Cara ini dirasa sangat tepat, untuk pendidikan agama sejak dini pada generasi muda mendatang.
“Radikalisme muncul akibat kurangnya pemahaman tentang agama dan kebangsaan. Radikalisme pun akan berubah menjadi sebuah gerakan terorisme yang mengatasnamakan agama tertentu.” Kata Menteri Agama Lukman Hakim.

Peran Guru NU

Guru NU  tidak sekedar bertugas mentransfer ilmu pengetahuan belaka, namun juga membina dan membentuk karakter anak didik dengan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupannya. Kegagalan anak didik dalam mengimplementasikan pengetahuannya khususnya dalam bidang agama di masyarakat menjadi cermin negatif seorang gurunya di sekolah maupun madrasah. Sebagaimana adagium populer di telinga kita, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”  Dengan demikian, artinya menjadi penting, bagaimana menjadikan para guru NU kita untuk tampil di masyarakat dan sekolahnya sebagai agen Aswaja.

Melalui pemahaman agama yang benar dan sikap bijak dapat membantu peran negara dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Guru NU memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam masalah ini. Atas peran merekalah bangsa ini dapat sukses menyiapkan generasi-generasi bangsa yang pintar dan berkarakter di masa depan. Guru NU merupakan agen Aswaja yang mengusung misi perdamaian di kehidupan masyarakat. Institusi pendidikan sebagai tempat berproses mengkader para generasi bangsa bisa sudah selayaknya dijadikan sarana untuk mentransformasikan pemahaman agama yang sejuk dan penuh kedamaian. Misalnya, menanamkan sikap bijak dan kedewasan dalam memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Krisis spiritual yang melanda umat manusia modern menjadi salah satu bukti nyata, yaitu agama semakin ditinggalkan, dan peranan guru NU amat dibutuhkan dalam hal ini.

Sependapat maupun tidak, kekerasan yang berbau agama di negeri kita tercinta bernama Indonesia mudah sekali membara. Salah satu faktornya, yakni dangkalnya pengetahuan agama. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang dipahami secara radikal. Sehingga mendorong gerakan profokatif dan berlanjut ke tindakan anarkisme. Misalnya, memahami kata jihad. Kemudian, mengucapkan kebolehan Selamat Natal kepada umat Kristiani, yang hingga kini terus menjadi polemik akhir tahunan. Padahal sejumlah tokoh agamawan seperti halnya Gus Dur dan tokoh-tokoh NU generasi berikutnya tidak mempermasalahkannya (tergantung niat pengucapannya) dan tentunya dari sisi cara pandangnya . Dalam hal ini, transformasi pengetahuan yang luas oleh kalangan guru NU  kepada para anak didiknya menjadi penting. Sehingga, kelak dapat menjadi bekal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Misalnya, seorang guru agama (baca: guru NU) seperti ustad TPA/TPQ dikampung memberikan pengetahuan tambahan. Mereka  yang selama ini hanya mengajarkan menulis dan membaca Al Qur’an mau menambahkan pengetahuan dasar seperti, saling bertoleransi antar teman saat berbeda pemahaman dan keyakinan. Jika sikap seperti toleransi tidak diperkenankan sejak dini, bisa menimbulkan pemahaman yang fatal dikemudian hari.  Minimnya  pernanan guru NU dalam ikut andil menciptakan kehidupan yang toleran di permukaan perlu diubah. Seolah hanya melibatkan segelintir tokoh di masyarakat. Padahal kasus intoleransi mudah terjadi. Terbukti, kasus-kasus intoleransi di kalangan masyarakat yang pernah terjadi seperti Syi’ah Sampang sampai kini belum menemukan kejelasan. Akibatnya, kita tak pernah mampu merawat kelangsungan kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian. Perbedaan pemahaman dan keyakinan masih belum bisa di sikapi dengan dewasa.

Sesungguhnya, guru NU memiliki peranan penting dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara baik saat ini maupun ke depan. Pasalnya, guru NU  yang bertugas sebagai orang yang memberikan pemahaman ajaran-ajaran agama melalui mata pelajaran yang diampu di bangku sekolah/madrasah maupun pesantren memiliki posisi strategis. Guru NU sebagai ujung tombak dalam memberikan pemahaman dan pencerahan di kalangan generasi bangsa yang duduk dibangku sekolah/madrasah. Kedangkalan dalam memahami agama dikalangan anak didik (generasi muda) di kemudian hari jelas  dapat membawa dampak besar bagi keberlangsungan kehidupan beragama di masyarakat.

Sejak kepergian Gus Dur sang guru bangsa  hingga sekarang ini, masalah perdamaian di kalangan warga bangsa ini masih mudah terusik. Kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang konon agamis, masih mudah bergesekan, baik itu karena persoalan perbedaan pemahaman maupun keyakinan. Perjuangan Gus Dur dalam membangun masyarakat yang toleran dan kokoh belumlah sepenuhnya berhasil sempurna hingga sekarang ini. Masih begitu banyak persoalan-persoalan yang hingga kini membutuhkan perjuangan lanjutan. Untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur,  siapa lagi kalau bukan  Guru NU ? (Allahu ‘alam bis Shawab).

Referensi :

  1. KH. Asep Saefuddin Chalim, MA, Membumikan Aswaja di Tengah Aliran-Aliran : Pegangan Para Guru NU, Mojokerto: PP. Pergunu, 2016.
  2. Muhammad Danial Royyan, Haqiqatu Ahlissunnah Wal Jamaah, Yogyakarta: Putera Menara Yogyakarta, 2010.
  3. Rangkuman Hasil Konggres II Pergunu 26-29 Oktober 2016 di Mojokerto, Jawa Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here