GANTI PALANG PINTU ! : ISYARAH IBRAHIM KEPADA ISMAIL UNTUK MENCERAIKAN ISTRINYA

0
1185

Ketika itu, kawasan yang kemudian hari menjadi lokasi masjidil harom masih merupakan jurang tanpa tanaman (واد غير ذي زرع), belum ada Ka’bah. Penghuninya cuma dua orang, Siti Hajar dan anaknya, Ismail A.S. Mereka berdua tidak punya tetangga, tidak punya kekayaan kecuali air zamzam yang ada di kubangan, belum menjadi sumur. Yang membuat sumur di kemudian hari adalah Abdul Mutthallib, kakek Rasululloh SAW.

Ada rombongan suku Jurhum yang nomadik (berpindah-pindah tempat) berjalan dari Yaman akan menuju Syam. Ketika rombongan melewati jurang itu, mereka tertarik kepada air Zamzam. Akhirnya mereka minta ijin untuk berdomisili di situ dan Ismail mengijinkan mereka untuk menjadi penduduk di situ, karena Ismail juga butuh tetangga dan lingkungan.

Kemudian Nabi Ismail menikah dengan seorang wanita dari suku Jurhum. Tidak lama kemudian ibu Ismail, Hajar meninggal dunia.
Di kemudian hari Ibrahim datang ke Makkah untuk mengetahui kabar Ismail, namun dia tidak bertemu Ismail yang sedang berburu, dan bertemu istri Ismail. Ibrahim bertanya kepada istri Ismail tentang kehidupan rumah tangganya. Istri Ismail menjawab : “Dia sedang pergi berburu untuk mencari nafkah bagi kami. Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat”. Istri Ismail mengadukan kehidupan yang dialaminya bersama suaminya. Mendengar aduan itu, Ibrahim kecewa kepada menantu yang tidak memiliki sifat qana’ah, menantu yang Hubbud Dunya, lalu berkata : “Nanti apabila suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya, dan aku berpesan kepadanya agar mengganti palang pintu rumahnya”.

Ketika pulang dari berburu, Ismail bertanya kepada istrinya : “Apakah ada orang yang datang kepadamu?”. Istrinya menjawab : “Ya. Tadi ada orang tua datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku jelaskan, dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita, maka aku terangkan, bahwa aku hidup dalam kesulitan dan penderitaan”. Ismail bertanya : “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab : “Ya. Dia memerintahkan agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengganti palang pintu rumahmu”. Ismail berkata : “Dia adalah ayahku, Nabi Ibrahim dan maksud isyarahnya agar aku mengganti palang pintu rumahku adalah agar aku menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu”. Maka Ismail menceraikan istrinya.

Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain dari suku Jurhum. Setelah itu, Ibrahim datang kembali untuk menemui Ismail namun dia tidak mendapatkan Ismail hingga akhirnya dia mendatangi istri Ismail lalu bertanya tentang Ismail. Istrinya menjawab : “Dia sedang pergi mencari nafkah. Alhamdulillah kami selalu dalam keadaan baik-baik dan cukup”. Ibrahim bertanya : “Apa makanan kalian?”. Istri Ismail menjawab : “Daging”. Ibrahim bertanya lagi : “Apa minuman kalian?”. Istri Ismail menjawab : “Air”. Maka Ibrahim berdoa : “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air”. Ibrahim selanjutnya berkata : “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan aku berpesan agar dia tidak mengganti palang pintu rumahnya.”

Ketika Ismail datang, dia berkata : “Apakah ada orang yang datang kepadamu?”. Istrinya menjawab : “Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepadaku. Dia bertanya tentang kamu, maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa kita dalam keadaan baik.” Ismail bertanya : “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab : “Ya, dia memerintahkan aku agar menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu tidak mengganti palang pintu rumahmu”. Ismail berkata : “Dia adalah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku dengan bahasa isyarah untuk tidak menceraikanmu”.

Dari perkawinan Ismail dengan istri kedua ini, lahirlah bangsa Arab, yaitu bangsa yang terbaik dibanding bangsa-bansa yang lain, karena dari bangsa Arab itu, ada suku terbaik, yaitu suku Quraisy. Quraisy menjadi suku tarbaik karena darinya ada keluarga terbaik, yaitu Bani Hasyim. Bani Hasyim menjadi sub-suku terbaik, karena dari dalamnya lahir manusia terbaik, yaitu Muhammad Rasulullah, pamungkas para rasul dan para nabi, makhluk yang paling dicintai oleh Tuhannya, Shollallohu Alaihi Wasallam.

Dari cerita tersebut di atas, ada tiga pelajaran yang dapat kita ambil :

1. Orang pandai dan cerdas harus bisa memahami bahasa isyarah, sebagaimana Ismail memahami isyarah ayahnya, Ibrahim. Semua peristiwa yang kita lihat dan kita dengar baik langsung atau tidak langsung sebenarnya merupakan isyarah dan pelajaran dari Allah SWT bagi semua hamba-Nya. Namun kebanyakan manusia tidak dapat memahaminya kecuali sedikit orang yang berilmu dan ahli tafakkur.

2. Seorang ayah diperbolehkan meminta anak lelakinya untuk menceraikan istrinya, sebagaimana Ibrahim meminta Ismail untuk menceraikan istrinya, dan sebagaimana Umar bin Khotthob meminta anaknya, Abdullah untuk menceraikan istrinya.

3. Seorang lelaki jika ingin menikahi wanita, maka supaya memilih wanita yang kuat agamanya supaya dapat mendidik anak-anaknya, dan supaya memiliki keturunan yang baik.

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here