FUDLAIL BIN IYADL : PERAMPOK YANG BERTAUBAT

0
51

Fudlail bin Iyadl dilahirkan di Samarkand dan dibesarkan di Abi Warda, suatu tempat di daerah Khurrasan. Tidak ada riwayat yang jelas tentang kapan dia dilahirkan, hanya saja dia pernah menyatakan usianya waktu itu telah mencapai 80 tahun. Dia seangkatan dengan Sufyan Tsauri dan sezaman dengan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Dahulu dia adalah seorang perampok. Kesehariannya ia selalu pergi bersama-sama kawanannya untuk merampok dari satu negara ke negara lain, namun kemudian ia bertaubat. Penyebab taubatnya ialah bahwa ia mencintai seorang wanita. Ketika sedang menaiki sebuah dinding untuk menemui kekasihnya itu, tiba-tiba ia mendengar seseorang sedang membaca ayat. Lantunan ayat itu menyentuh  hatinya, sehingga dia mulai agak sadar akan kesalahannya, meskipun belum sepenuhnya.

Pada suatu malam ketika Fudlail sedang meletakkan kepalanya dipangkuan khadamnya, tiba-tiba dari kejahuan terlihat ada satu rombongan yang hendak lewat, akan tetapi setelah mereka agak dekat rupanya mereka tahu lalu berhenti dan mereka berkata : “Di sini ada Fudlail bersama kawanannya, apa yang harus kita perbuat!..”

Salah satu kelompok dari mereka (1 rombongan tadi terdiri dari 3 kelompok) menyahut : “Begini saja, kita coba lontarkan anak panah, mudah-mudahan saja bisa mengenai ke sasaran, biar nanti kita bisa lewat, dan jika tidak, terpaksa kita kembali saja”.

Akhirnya merekapun mencoba melontarkan anak panah yang pertama seraya membaca ayat :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Apakah belum waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati-hati mereka karena mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun. Dan mereka jangan seperti orang-orang yang diberi al-kitab sebelumnya (kaum yahudi), lalu masa berlalu lama atas mereka, sehingga hati-hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasiq”.

Ternyata benar panah itu mengena ke sasaran dan seketika itu Fudlail berteriak kencang hingga tak sadarkan diri. Pembantu dan para kawanannya mengira kalau Fudlail telah tertusuk panah, namun sungguh aneh, setelah seluruh tubuh Fudlail diperiksa ternyata tidak ada luka sedikitpun.

Setelah sadar Fudlail berkata : “Panah Allah telah mengenaiku”.
Selanjutnya mereka kembali melontarkan anak panah/lagi yang kedua seraya membaca ayat :

ففروا الى الله اني لكم نذير مبين

“Maka larilah (pergilah) kamu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya akulah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu”.

Dan tiba-tiba Fudlail kembali teriak dengan teriakan yang lebih kencang daripada yang pertama, pembantu dan kawanannya kembali lagi memeriksa seluruh tubuh Fudlail jangan-jangan kali ini ia benar-benar terkena panah, dan ternyata tidak juga, tubuhnya tidak ada yang tergores sedikitpun. Fudlail berkata : “Ya ghulam, Wahai khadamku. Panah Allah telah mengenaiku lagi”.

Selang beberapa saat kemudian disusulkan lagi lontaran anak panah yang ketiga oleh mereka seraya membaca ayat :

وانيبوا الى ربكم واسلموا له من قبل ان يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserahlah kepada-Nya, sebelum kamu didatangi adzab, kemudian kamu tidak diberi pertolongan”.

Fudlail pun kembali berteriak dan bahkan kali ini dengan teriakan yang jauh lebih kencang dari yang pertama dan kedua.

Ia berkata kepada kawanannya : “Kembalilah kalian semua, pulanglah!.. Saya menyesal dengan semua perbuatanku, hatiku benar-benar telah diselimuti rasa takut kepada Allah, saya mau berhenti, saya insaf, saya ingin bertaubat kepada Allah”.

Akhirnya Fudlail menuju ke kota Makkah hingga setelah dekat dari negeri Nahrawan, Harun Ar-Rosyid menjumpainya dan berkata: “Hai Fudlail, beberapa hari yang lalu aku memimpikanmu, seolah-olah aku mendengar ada orang yang bersuara dengan begitu kerasnya yang berbunyi : ‘Sungguh Fudlail sudah takut kepada Allah, ia insaf dan memilih khidmah kepada Allah’.

Setelah mendengar cerita Harun Ar-Rosyid sepontan Fudlail menjerit dan berkata: “Ya Allah.. Ya Tuhanku, demi kemuliaan dan keagungan-MU sungguh Engkau masih mengasihi hamba-MU yang sudah bergelimang dosa dan meninggalkan-MU selama 40 tahun lamanya”.

Akhir cerita Fudlail bin Iyadl pun benar-benar bertaubat, kembali kepada Allah sebagai hamba yang taat dan meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah. Dalam kitab-kitab sejarah kaum sufi, dia tercatat sebagai Sufi Besar yang menjadi guru bagi Ibrahim bin Adham, dan dia pernah menjadi penasihat Harun Ar-Rasyid.

Hikmah dari cerita ini :
1. Jangan pernah membenci seseorang kecuali karena Allah, sebab boleh jadi orang itu justru lebih baik dari kita di hadapan Allah
2. Jangan pernah merasa bahwa diri kita lebih baik dari orang lain, karena Allah dapat melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana tergambar dalam Kisah Barshesho.
3. Seberapa pun besar dan banyak dosa yang sudah terlanjur kita kerjakan jangan pernah sekali-kali berputus asa untuk selalu mengharap rahmat dan ampunan dari Allah SWT, karena rahmat dan ampunan Allah itu jauh lebih besar.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, untuk selalu taat kepada-Nya hingga akhir hayat. Amien..

Disadur dari Kitab Al-Mawa’idhul Ushfuriyyah, oleh : M.D. Royyan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here