FENOMENA “OM TELOLET OM” DALAM PANDANGAN FIQIH ISLAM

0
276

Oleh : Muhammad Danial Royyan

A. Latar Belakang Masalah :
Asal usul klakson bus yang berbunyi “telolet” adalah dari Arab Saudi yang dibawa pulang oleh pengusaha perusahaan otobus (PO) ke Indonesia sekitar tahun 2002-2004. Klakson telolet itu dipasang pada armada bus untuk memberikan ciri khas. Klakson itu aslinya terdiri dari 3 corong dengan bunyi te-lo-let yang bila dipencet lama bisa berbunyi telolet-telolet. Dulu ketika didatangkan dari Arab Saudi harganya mencapai Rp 5 juta. Namun sekarang ada produk lokal yang harganya berkisar Rp 3 juta hingga lebih murah dari itu. Masyarakat mulai menyenanginya sejak 4 tahun terakhir, terutama oleh anak-anak remaja, mereka berbondong-bondong ke pinggir jalan raya dan meminta sopir bis yang sedang melintas untuk membunyikan klakson itu dengan mengatakan atau menuliskan “Om Telolet Om”, ungkapan yang kemudian mewabah ke mana2 dan menjadi fenomena baru dan masuk ke ranah Internet dan media sosial. Ungkapan “Om Telolet Om” menjadi tambah terkenal pada saat para remaja mengganggu akun media sosial milik figur publik, seperti Donald Trump, Marshmello, Firebeatz, Dillon Francis dan Cash Cash, dengan menuliskan “Om Telolet Om” di kolom komentar. Fenomena ini kemudian ditanggapi dengan dibuatnya berbagai aransemen musik oleh para DJ, lalu dipublikasikan melalui akun media sosial. Dari situlah “Om Telolet Om” menjadi populer di seluruh dunia, dengan kesan keindonesiaan yang sangat kental.

B. Pertanyaan :
1. Bagaimana hukumnya meminta sopir bis yang melintas untuk membunyikan klakson dengan mengucap atau menulis “Om Telolet Om”, dan kemudian sopir membunyikan klakson Telolet?
2. Bagaimana hukum merekam jargon “Om Telolet Om” dan bunyi klakson Telolet lalu menjadikannya sebagai viral di medsos?

C. Jawaban :
1. Hukum membunyikan klakson mobil itu tergantung tujuannya. Kalau untuk membentak pengguna jalan atau pengendara, maka hukumnya haram. Kalau untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan agar menghindar dari bahaya, maka hukumnya wajib. Kalau untuk menyenangkan orang yang mendengarnya, maka hukumnya mubah, sebagai hiburan. Mendengarnya disamakan dengan membunyikannya. Demikian menurut pemikir Islam dari Mesir, Dr. Muhammad Syahhat Al-Jundi.
Dengan demikian, membunyikan atau mendengarkan klakson autobus dengan nada Telolet hukumnya mubah sebagai hiburan atau refreshing pada waktu senggang. Ada cara-cara unik tersendiri dalam fenomena Om Telolet Om yang dirasakan oleh masyarakat untuk memperoleh kesenangan atau hiburan. Nabi SAW pernah mengijinkan Aisyah untuk melihat tarian orang-orang Habasyah sebagai hiburan. Tentu saja dibolehkannya Om Telolet Om itu harus disertai dengan catatan-catatan sebagai berikut :

a. Tidak membahayakan keselamatan bagi bus dan orang-orang yang bergerombol di pinggir jalan.
Presiden Jokowi berpesan agar jangan sampai fenomena ini membahayakan keselamatan. Hal ini disampaikan Jokowi saat ditanya (23/12/2016) mengenai Kementerian Perhubungan yang melarang sopir bus memainkan klakson telolet. Masalah ini tidak seremeh yang dibayangkan. Mulai anak-anak, para remaja, hingga yang tua, banyak yang berjejer di pinggir jalan, hanya untuk menantikan bis yang lewat, sambil membawa tulisan pesan “Om telolet om”. Oleh karena itu, masyarakat yang meminta bunyi telolet dari klakson bus hingga sopir bus harus bisa menjaga keselamatan lalulintas di jalan raya dan sekitarnya.

b. Tidak mengganggu lalu lintas pengguna jalan.
Nabi SAW menyebutkan bahwa bergerombol di pinggir jalan itu tidak baik, kecuali bagi orang yang bisa menunaikan hak jalan.

عن ابي سعيد الخدري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِى الطّرقات ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ, مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا، قَالَ: فَأَمَّا إِذَا أَبَيْتُمْ إِلا الْمَجْلِسَ, فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ, فَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الأَذَى، وَرَدُّ السَّلامِ، وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ , أخرجه الامام احمد ومسلم

Dari Abu Said al-Khudri RA, ia berkata : Rasululloh SAW bersabda, “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat mengatakan : “Ya Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan duduk di pinggir jalan, untuk mengobrol.” Kemudian Nabi SAW bersabda : “Jika kalian enggan untuk tidak duduk-duduk di pinggir jalan, maka kalian harus tunaikan hak jalan. Yaitu, menundukkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam, dan menegakkan amar makruf nahi munkar. (HR. Ahmad 11309, Muslim 5685).

c. Tidak menjadi pelanggaran hukum.
Kepolisian melalui Korps Lalu Lintas Polri harus mengecek intensitas suara “telolet” yang berasal dari klakson bus, supaya intensitas suara klakson tersebut tak boleh melebihi batasan yang sudah ditentukan dalam undang-undang.
Dalam Undang-Undang Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, terutama Pasal 69 tersebut bahwa suara klakson yang diperbolehkan paling rendah 83 desibel dan paling tinggi 118 desibel. Sementara itu, sejauh ini umumnya suara “telolet” dari klakson bus dalam rentang 93 hingga 118 desibel.
Dengan demikian, hal tersebut dianggap masih dalam batas wajar. Suara “telolet” yang terlampau keras dikhawatirkan mengganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya. Selain itu, tempat membunyikan klakson juga tak bisa sembarangan. Suaranya bisa merusak konsentrasi pengemudi. Di samping itu klakson telolet tidak boleh dibunyikan di sekitar tempat ibadah dan sekolah karena akan mengganggu aktivitas ibadah dan pendidikan.

d. Tidak menjadikan lupa kepada ibadah.
Menunggu bis lewat sambil membawa tulisan berisi pesan Om Telolet Om jelas ini bukan hal yang baik apabila membuat lupa terhadap ibadah. Dari Abu Hurairah dan Husain bin Ali RA Nabi SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak berarti baginya”. (HR. Ahmad 1737,  Turmudzi 2487).

Mereka bisa saja melakukan itu, manakala kewajiban kepada Allah, kepada keluarga dan kepada siapa saja sudah diselesaikan, lalu menggunakan waktu kosongnya untuk Om Telolet Om. Tetapi jika semuanya belum diselesaikan, maka kegiatan Om Telolet Om tidak boleh dilakukan. Semua hal yang hukumnya mubah tetapi kemudian membuat lupa kepada kewajiban, maka hukumnya menjadi haram. Dalam Qaidah Fiqhiyah, disebutkan :

الوسيلة الى الحرام حرام
“Perantara kepada hal yang haram itu hukumnya haram”.

2. Hukum merekam jargon Om Telolet Om atau bunyi telolet dari klakson dalam video lalu meng-share-nya ke orang lain atau menjadikannya sebagai viral di media sosial itu hukumnya boleh asal tujuannya hanya sekedar untuk hiburan, dengan catatan-catatan yang sebagiannya telah disebut di atas, ditambah catatan lain, yaitu asal tidak terinfiltrasi atau dibarengi dengan tayangan gambar video atau tari-tarian yang berbau pornografi atau hal lain yang terlarang dalam syariah Islam.
Imam Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitab Tuhfatul Muhtaj mengatakan : “Ulama tidak ada yang berbeda pendapat tentang haramnya melihat aurat perempuan melalui layar kaca apabila dibarengi dengan syahwat atau mendatangkan fitnah. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa melihat aurat apalagi aurat mugholladhoh (aurat kelas berat yaitu yang memperlihatkan alat vital) melalui layar kaca hukumnya tidak boleh, kecuali karena darurat”.

C. Referensi:
١. وفي الصحيحين من حديث عائشة: .رايت النبي صلى الله عليه وسلم يسترني بردائه وانا انظر الى الحبشة يلعبون في المسجد حتى اكون ان الذي اسأم ، فاقدروا قدر الجارية الحديثة السن الحريصة على اللهو

٢. فتاوى اللجنة الدائمة – المجموعة الأولى. الاستماع إلى الملاهي . السؤال السابع من الفتوى رقم ( 4470 )
س : ما معنى : (روحوا عن النفس مرة مرة ، فإن النفوس إذا كلت عميت) ، وهل يمكن الترويح عن النفس بالنسبة للمسلم بالموسيقى والأغاني العربية أو الهندية ؟ وما هي أحسن حاجة للترويح عن النفس ؟
ج : الترويح عن النفس بألا يثقلها بما يشق عليها من الأعمال أو المداومة عليها ، ويوقعها في الحرج دون أن يخل بما أوجب الله عليه ، أو يفعل ما نهى عنه ، فإن الله تعالى لا يكلف الإنسان إلا وسعه ، ولم يشرع لعباده ما فيه حرج عليهم ، قال تعالى : { لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا } وقال : { وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ } وقال : { فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } (3) وثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : « اكلفوا من العمل ما تطيقون » وقال : “إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم ، وإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه”

٣. بين كثير من اللغات المنتشرة في حياتنا اليومية، يوجد الكثير والكثير من اللغات الموجودة في الحياة، والتي نستخدمها دون قصد أو بقصد منا، فتظهر لنا لغة الكلاكسات، من بين اللغات الكثيرة التي لم نلحظها، والتي أصبحت لغتنا في الشارع، ومن ثم تعبر عن حالنا جميعا، فحينما تصرخ كلاكسات السيارات جميعها، كل بنغمتها المختلفة عن الأخرى، وتصدر لنا أصواتا متناغمة، تعبر عن حال كل واحد فينا، ففي الوقت الذي تصرخ فيه كلاكسات السيارات، معلنة ومعبرة عن الفرح والبهجة، فإنها تصرخ معترضة في مكان آخر، وعندما تأتى منادية على سائق آخر بالسلام، وحينما تكون محذرة للسيارات الأخرى من خطر ما على الطريق، فإن موسيقاها المختلفة ذات الطابع البسيط، تعطى لغة مفهومة، وتؤثر على قراراتنا، وربما تكون مصيرية، حتى لو كانت التنبيه من خطر السيارة نفسها.

٤. قال الدكتور محمد الشحات الجندي، عضو مجمع البحوث الإسلامية، إنه لا يجوز سب الناس أفرادًا كانوا أو جماعات، لأن ذلك ليس من خلق المسلم، مستشهدًا بما روي عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ، وَلَا بِلَعَّانٍ، وَلَا الْفَاحِشِ الْبَذِيءِ». وأضاف الجندي لـ«صدى البلد»، أنه لا يجوز لسائقي السيارات أن يطلقوا الشتائم عبر الـ«كلاكس»، أو أن يسخروا من بعضهم بعضًا، مستشهدًا بقول الله تعالى: «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ»، وبحديثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعودٍ أَنَّ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوقٌ وَقِتالُهُ كُفْرٌ». متفق عليه. وأوضح المفكر الإسلامي، أنه إذا قصد السائق الإساءة بكلاكس السيارة لأحد، فإنه يأثم على ذلك، مستشهدًا بما روي عن عمرَ بنِ الخطَّابِ رَضِي اللهُ عَنْهُ قالَ: سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيَّاتِ وإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ ما نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَو امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

٥. تحفة المحتاج بشرح المنهاج
فإذا كان العلماء قد اختلفوا في تحريم النظر إلى عورة المرأة في المرآة أو في الماء، فإنهم لا يختلفون في تحريم نظر صورة العورة في المرآة أو غيرها إذا كان بشهوة أو أدى إلى فتنة. وبهذا تعلم أن نظر العورة ولا سيما المغلظة في المرآة لا يجوز، لما تجلبه من الفتنة إلا إذا دعت إلى ذلك حاجة

Penulis adalah Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kendal masa khidmah 2012-2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here