Fatayat NU Kendal Gelar Sarasehan Penguatan Keluarga Sakinah

0
20

Kendal, pcnukendal.com – Pimpinan Cabang Fatayat NU Kendal bekerjasama dengan  Kementerian Agama Kabupaten Kendal  menggelar Sarasehan Penguatan Keluarga Sakinah di Gedung Muslimat NU Kendal, Minggu (2/12).

Sarasehan yang merupakan salah satu program bidang dakwah PC Fatayat NU Kendal tersebut diikuti oleh seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-kabupaten Kendal, masing-masing PAC mengirimkan 3 orang peserta.

Menurut Ketua PC Fatayat NU Kendal Siti Ni’mallatif, kegiatan tersebut perlu diadakan untuk mewujudkan konsep keluarga sakinah yang telah memasuki  pembaruan untuk merespon dinamika zaman.

Ni’ma menyampaikan, bahwa keluarga harus dikuatkan, karena banyak sekali terjadi kerentanan dalam keluarga akibat perkembangan teknologi, kekurangan ekonomi, dan sebab lain yang dapat memunculkan kekerasan dalam rumah tangga.

“Keluarga sakinah dalam pandangan Islam merupakan bangunan keluarga yang melalui perkawinan yang sah dan dicatatkan. Selain itu, dalam keluarga tersebut juga harus dilandasi rasa saling menyayangi dan menghargai dengan tanggung jawab dalam menghadirkan suasana kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan hidup,” terangnya.

Sarasehan dibuka oleh Kasi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kendal, H Khoerondi. Dalam sambutannya, ia mengajak Fatayat NU untuk menerapkan kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Fatayat NU juga harus dapat menjadi contoh bagi masyarakat di sekitarnya.

Menurutnya, keluarga memiliki banyak fungsi, diantaranya membangun budaya spiritual, internalisasi nilai Islam yang berkemajuan, biologis-reproduktif, cinta kasih, pendidikan, ekonomi, perlindungan, kemasyarakatan, rekreasi dan kaderisasi.

Pada sarasehan itu dihadirkan beberapa narasumber, diantaranya KH. Danial Royyan, Ketua Tanfidziyah PCNU Kendal dan Ety Wulandari, Fasilitator Perkawinan.

KH Danial Royyan membawakan materi Psikologi Keluarga. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa keluarga dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni radikal, liberal dan ahli sunnah. Dijelaskannya, pada keluarga radikal isteri harus selalu tunduk pada suami. Sedangkan pada keluarga liberal, istri sebagai penentu kekuasaan dalam keluarga. Sementara keluarga ahli sunnah adalah keluarga yang suami dan isteri saling membagi peran masing-masing dalam kebijakan mengatur keluarga.

Lebih lanjut KH Danial menjelaskan tentang konsep kitab Uqudullijain yang menurutnya apabila diterapkan pada zaman milenial sekarang ini kurang relevan, karena kondisi psikologis keluarga, masyarakat, ekonomi yang berbeda dengan zaman dahulu.

“Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairoh menyebutkan bahwa suami tidak boleh memaksakan isteri atas kemauannya, karena setiap perempuan memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka suami yang membantu istri, sebagaimana dicontohkan Rasulullah, bersifat keteladanan,” terangnya.

Sementara Ety Wulandari, berkesempatan menyampaikan materi Perencanaan Keuangan Keluarga. Ia memaparkan cara mengatur keuangan keluarga. Menurutnya, seorang istri yang mampu mengatur keuangan keluarga, akan bisa menghindari pengeluaran-pengeluaran yang bersifat pemborosan.

“Misal dalam setiap bulan harus bisa menabung dan untuk keperluan yang tidak terduga,” terangnya.

Ia juga mengajak para peserta untuk mempraktikkan cara menghitung dan memanaj penghasilan. Para peserta terlihat antusias dan menyatakan senang mengikuti kegiatan tersebut.

“Prinsipnya, rejeki istri maupun rejeki suami adalah rejeki seluruh keluarga,” pungkas Ety. (Upik/Muf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here