Faidah Ilmiah: Menyikapi Wabah Covid-19

0
96
Oleh: KH. M. Danial Royyan

مصلحة الانسان دائما مقدمة على مصلحة الاديان

“Kemaslahatan manusia selamanya didahulukan atas kemaslahatan agama.”

Dari kaidah fiqhiyah tersebut, dapat disimpulkan bahwa demi kemaslahatan manusia seperti keselamatan jiwanya dari penularan virus corona yang sudah nyata menurut keputusan pemerintah berdasarkan pertimbangan para dokter ahli, maka kemaslahatan agama (ibadah) seperti pelaksanaan salat Jumat boleh diliburkan.

Kemaslahatan agama itu bisa digantikan. Contoh: Jumat diliburkan bisa digantikan salat zuhur. Adapun kemaslahatan manusia belum tentu bisa digantikan. Contoh: Nyawa manusia yang melayang karena Virus Corona. Itu tak mungkin tergantikan. Jika misal, seorang kiai atau orang NU menjawab digantikan dengan tahlil, apa kemudian nyawanya bisa kembali lagi. Hal itu jelas tidak mungkin dan tidak realistis.

Dari persoalan itu muncullah kaidah fiqhiyah lagi berbunyi:
“Sesuatu yang tidak dapat digantikan lebih didahulukan daripada sesuatu yang dapat digantikan”

Satu kaidah tersebut di atas bisa diturunkan dalam banyak kaidah pula.

Ilmu semacam itu dinamai “Ilmul Qawà’id” atau “Al-Asybàh wan-Nadhò’ir” atau “Ilmul Mashòlih” yang telah dirumuskan oleh Imam Izzuddin bin Abdusalam dan dilanjutkan oleh Imam Jalaluddin Suyuthi Radliy Allahu Anhum.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here