EKSISTENSI TRADISI PESANTREN DI ERA GLOBAL

0
142

Oleh : H. Muhammad Umar Said

(Tulisan ini dihadirkan untuk mendukung program PBNU “Mondok Yuk” dan menjelang peringatan Hari Santri, 22 Oktober 2016 yang akan datang)

Pondok pesantren tradisional yang merupakan lembaga dan wahana pendidikan Islam yang mengandung makna indegenous Indonesia telah berhasil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mentransfer ilmu-limu keislaman (transfer of islamic knowledge), memelihara tradisi keislaman, dan mencetak santri menjadi ulama. Proses belajar mengajarnya dilakukan melalui struktur, metode dan literatur tradisional, baik berupa pendidikan formal di madrasah dengan struktur dan bertingkat, maupun pembelajaran dengan metode sorogan dan bandongan. Tata nilai yang dianut dan dan didukung dalam kehidupan pondok pesantren tradisional adalah ajaran ahlusunnah wal jamaah.

Kredibilitas pondok pesantren tradisional ini sangat ditentukan oleh kredibilitas ‘kyai’ sebagai panutan yang memiliki kelebihan keilmuan, secara normatif sebagai penegak aqidah, syari’ah dan moral dan memiliki otoritas serta kecakapan yang dianggap melebihi kemampuan santri dan ummat. (Zamakhsyari Dhofir, 1994).

Dengan kapasitasnya yang demikian, pondok pesantren tradisional berpotensi mendidik atau mencetak santri menjadi calon-calon ulama. Potensi ini akan lestari, sekalipun dari luar mengalir deras arus pemikiran baru dan perubahan yang meng-intervensi. Pondok pesantren tradisional memang bukan lembaga eksklusif, yang tidak peka terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya, termasuk perubahan yang dibawa oleh arus globalisasi yang membawa pengaruh terhadap perkembangan sosial dan budaya yang beraneka ragam.

Pondok pesantren tradisional yang berada di perkampungan global (global village), pada satu sisi dihadapkan pada konsep bahwa hanya sebagian kecil saja penghuninya yang mampu memelihara nilai, tradisi, kebudayaan, kelembagaan, ritual, dan simbol-simbol yang ada, sedangkan yang lain terseret oleh arus global. Sementara pada sisi lain globalisasi menyebabkan penyusutan pranata sosial dan budaya lokal atau justru dapat memotivasi penghuninya untuk memunculkan upaya-upaya untuk melestarikan jatidiri, identitas diri, apakah dalam bentuk agama, budaya, kebangsaan, bahasa, atau ras dan membangkitkan kembali tradisi dan landasan-landasan religius. (lihat, Azyumardi Azra, 1994).

Untuk menjawab kajian di atas, yaitu sejauhmana globalisasi mempengaruhi sistem pondok pesantren tradisional, dan bagaimana cara pondok pesantren tradisional merespons dan mengantisipasi arus globalisasi?  Menurut pendapat  Muhtarom, H.M. setelah beliau mengadakan penelitian di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum dan Pondok Pesantren Bustanuth Thalibin di Kabupaten Pati Jawa Tengah pada beberapa tahun silam, bahwa berdasarkan hasil penelitian itu menunjukkan bahwa globalisasi tidak berpengaruh pada wilayah aqidah komunitas pondok pesantren tradisioanal. Tradisi ajaran ahlussunnah wal jamaah tetap eksis  meskipun diterpa oleh pengaruh  isu-isu global. Globalisasi berpengaruh pada kehidupan santri, ustadz, dan kiai dan media pendidikan. Santri yang terpengaruh globalisasi terlihat lebih kritis, namun kedisipinan beragama relatif menurun. Ustadz yang terpengaruh globalisasi, format kehidupannya berubah yang teridentifikasi pada meningkatnya cakrawala pikir dan keinginannya mengkonsumsi produk global. Kiai pengasuh pondok pesantren tampaknya telah terpengaruh  globalisasi informasi dan komunikasi yang teridentifikasi dengan dikonsumsinya produk-produk global. Kepemimpinan kiai pondok pesantren Raudlatul Ulum yang bercorak karismatik-paternalistik cenderung bersikap demokratis, sebagai akibat terpengaruh isu kepemimpinan global yang cenderung demokrat. Berbeda dengan kiai pondok pesantren Bustanuth Thalibin sampai pada era globalisasi masih tetap menggunakan media pendidikan tradisional. Globalisasi berdampak dangkal terhadap reproduksi ulama, tafaqquh fi al-din, tata nilai Islam, tradisionalisme, kemapanan pada pembelajaran kitab kuning  dengan metode sorogan, bandongan, hafalan, dan kebiasaan kontemplatif di pondok pesantren. Raudlatul Ulum dan Bustanuth Thalibin, sekalipun keduanya belum mempunyai konsep dan pemahaman teoritik tentang nilai-nilai budaya global yang dapat memperkokoh tradisi-tradisinya. Prinsip yang dirujuk adalah al-muhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga/melestarikan budaya lama yang baik, dan mengambil budaya baru yang lebih baik). Sama halnya globalisasi tidak berpengaruh pada alumni kedua pondok pesantren tradisional tersebut  dalam sikapnya sebagai ulama salaf yang berhaluan Syafi’iyah yang berpegang teguh pada al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas.

Guna mencegah timbulnya polarisasi dalam berbagai skala geografi yang dapat menimbulkan konflik-konflik nilai sebagai akibat adanya jaringan komunikasi, transportasi dan produk-produk global, agar tradisi dan nilai-nilai tradisional tetap terpelihara, pondok pesantren tradisioanal melakukan kebijakan antisipatif antara lain dengan meneguhkan tradisi Islam dan nilai-nilai substantif Islam lewat pembelajaran kutub al-salaf, mengitensifkan budaya demokratik lewat aktivitas  bahts al-masa’il, mengembangkan paradigma tidak mendekotomikan ilmu, dan mengkondisikan santri selalu membaca media masa.

Globalisasi tampaknya akan terus bergulir lewat berbagai media cetak dan elektronik dan akan mempengaruhi format kehidupan sosial, terutama kehidupan beragama. Globalisasi dipercaya dapat melemahkan upaya pemeliharaan nilai, tradisi, ritual dan simbol-simbol. Tetapi, dalam kenyataannya globalisasi ternyata tidak melemahkan tata nilai, tradisi, ritual dan kebiasaan kontemplatif di pondok pesantren. Globalisasi yang dipandang dapat memunculkan paradigm rivalisasi nilai-nilai, justru dapat memperkuat dan menambah inspirasi bagi pondok pesantren. Globalisasi menjadi peluang sekaligus tantangan dalam upaya melestarikan tradisi dan nilai-nilai agama Islam. Dengan melestarikan dan mengukuhkan kembali tradisi dan dasar-dasar agama, maka pondok pesantren mampu eksis dan tidak mudah terseret oleh budaya global yang sekuler.

Referensi :

  1. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Jakarta: Mizan, 1994.
  2. Muhtarom, H.M., Reproduksi Ulama di Era Globalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
  3. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi TentangPandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1994.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here