Dilarang Menyerupai Suatu Kaum?, Selamat Tahun Baru 2020

0
45
Oleh: Shuniyya Ruhama 

Nash suci yang berkaitan dengan larangan untuk menyerupai suatu kaum di luar Islam akhir-akhir ini semakin sering digelontorkan. Sedikit-sedikit serupa. Antiknya, kalau kita rajin mengumpulkan, ada ribuan hal yang terjadi dan hanya dihakimi dengan satu hadits ini. Lucu kan?

Dari sini saja, kita sudah langsung bisa menduga: pasti ada yang tidak beres. Yuk kita simak bersama, terutama batasannya.

Pertama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW hidup di Arab, sejak masa zaman jahiliyah. Tapi beliau tidak pernah menciptakan bahasa baru. Bahkan Kitab Suci juga tertulis dalam bahasa dan aksara Arab supaya dimengerti oleh kaum yang pertama kali menerimanya.

Ketika menghadapi invasi orang yang memusuhi Islam, jelas diketahui mereka telah menggunakan kuda dan onta, jauh sebelum Nabi lahir. Nabi Kita juga tidak menyerukan untuk mengendarai kambing supaya berbeda. Tetapi tetap menggunakan kuda dan onta.

Namun, di saat ada pembeda identitas spesifik, maka Nabi memberikan perintah untuk itu. Misalnya, ketika orang yang memusuhi Islam memelihara kumis dan mencukur jenggotnya, maka Nabi memerintahkan hal sebaliknya. Jadi, hadits ini sebenarnya berurusan dengan kekhususan stategi perang, bukan pada aqidahnya.

Pengalaman apik teladan alam ini, disarikan sebagai salah satu kaidah fikih oleh Syaikh Abu Yusuf, santri dari Sayyidina Imam Ahmad Bin Hanbal, “Jika ada nash yang muncul dengan dilatarbelakangi tradisi tertentu, ketika tradisi itu mengalami perubahan, maka pemahaman kita terhadap nash itu juga harus berubah.”

Dalam konteks sejarah kita, ada ulasan menarik: zaman penjajahan Belanda dulu kaum Muslimah dilarang menjahit mukena dengan mesin, karena dianggap menyerupai penjajah Belanda. Para pria dilarang memakai sepatu, jas dan dasi karena menyerupai penjajah Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, konteksnya sudah berbeda. Fatwa tersebut ditarik. Tidak ada kaitan antara mukena dijahit menggunakan mesin ataupun memakai jas, sepatu dan dasi sebagai identifikasi dengan penjajah. Sebab, Belanda bukan lagi musuh tetapi mitra dalam hubungan diplomasi. Demikian pula dengan tradisi negara lain.

Nah, dari sini kita bisa melihat dengan gamblang sekali, bahwa tradisi di tahun 2020 yang sudah global, tidak ada kaitannya dengan urusan aqidah, maka tidak perlu diperuncing ke arah sana. Kita dengan mudah bisa menyaksikan, apakah memakai busana Santa Klaus itu bisa mengikis aqidah?, meniup terompet adalah tasyabuh dengan Yahudi?.

Tentu jawabannya singkat. Secara sosiokultur relijius umumnya hal tersebut jelas tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah, ketika dengan memakai Busana Santa Klaus tiba-tiba ada yang menjadi murtad. Jika meniup terompet kemudian berasa menjadi Yahudi, dan membakar petasan merasa serupa dengan orang kafir. Tapi di abad milenial ini, rasanya kok sulit dicerna jika sampai hal ini terjadi.

Jadi, kita kembalikan ke diri kita masing-masing. Kita hargai yang kontra tapi tidak perlu ngamuk-ngamuk dengan yang tetap merayakan tahun baru dengan gegap gempita. Yang penting tidak dalam kerangka melanggar etika dan undang-undang kita.

Selamat Tahun Baru 2020, semoga lebih sukses manfaat dan barokah.

Penulis adalah Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri Kendal, Alumnus Fisipol UGM Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here