DIKOTOMI ILMU PENGETAHUAN, ISLAMIKAH.

0
109

Oleh : H. Moh. Mahrus Ali

                Tulisan ini berasal dari suatu perbincangan, atau boleh disebut dengan kalimat yang cukup tidak etis, yaitu “debat kusir”, antara penulis dengan beberapa anggota yang menyebut dirinya “kader” NU, yang ada di WA (WhatsApp) group pcnukendal.id. Bermula, diadakannya WA tersebut sengaja untuk menampung ide- ide komunitas. Sekaligus sebagai wadah tampung aktifitas di semua lini, dari aktifitas IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat maupun NU, untuk mengisi Web pcnukendal.id, yang sebelumnya memang sedikit “masuk angin”. Tapi, karena jiwa muda, yang kadang muncul perbedaan pemahaman yang cukup tajam. Walau dari awal, sudah diberi rambu, agar jangan saling menghujat sesama anggota WA. Dan harus memiliki trus toleransi dan mental demokratis yang cukup tinggi.

Dikotomi itu islami

                Sains atau ilmu pengetahuan secara ta’rif atau definisi adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis, rasional dan obyektif. Sistematis, bangunan penyusunan ilmu pengetahuan harus menggunakan kaidak- kaidah yang sudah baku. Rasional, bahwa ilmu pengetahuan yang bisa dinalar oleh orang sehat. Sedangkan obyektif, adalah hasil yang dicapai bisa dinilai oleh orang lain dengan hasil yang sama.

Sedangkan    ilmu pengetahuan itu sendiri bila dilihat dari obyek yang dikaji, maka ilmu pengetahuan dibagi menjadi 3 macam ilmu. Pertama, ilmu pengetahuan alam ( natural sains ) adalah ilmu pengetahuan dimana obyek yang menjadi kajiannya adalah benda- benda alam. Conyohnya Biologi, Fisika, Kimia dsb. Kedua, ilmu pengetahuan sosial ( sosial sains ) adalah ilmu pengetahuan dimana obyek yang menjadi kajiannya adalah masyarakat. contohnya Sosiologi, Ekonomi, antropologi dsb. Ketiga, Ilmu Humaniora adalah ilmu pengetahuan dimana yang menjadi obyek kajiannya adalah aspek kehidupan masyarakat. contohnya Sejarah, Kesenian, ilmu Agama dsb. ( Koencoroningrat. 1989 ).

                Nabi Muhammad SAW sebagai gudang ilmu ( baca: ilmu agama ) dan Ali Ibn Abu Tholib sebagai pintunya pernah bersabda: “carilah ilmu walau sampai di negara Cina”. Sabda tersebut secara literer sangat mafhum sekali, bahwa Cina sa’at  itu merupakan gudang ilmu non agama atau sekuler. Sementara pusat ilmu Agama adalah ada pada diri Nabi sendiri. Menurut pandangan Nabi, memang negeri Cina merupakan negara yang ada di kawasan Asia Timur yang sudah sangat maju peradabannya. Sehingga sangat logis kalau Nabi perintah pada umatnya agar ke Cina untuk menimba ilmu pengetahuan umum.

                Riwayat hadis lain mengatakan, bahwa pernah nabi Muhammad SAW bahasa jawanya “diwelehke” oleh sahabat, bahwa Nabi pernah memberi “saran” pada sahabat tersebut ternyata sarannya itu tidak membuahkan hasil. Jawab Nabi “antum ‘alamu bi umuri dunyakum”, anda lebih tahu tentang masalah itu. Hadis itu secara implisit membuat dikotomi ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Nabi sendiri yang membuat demarkasi. Antum ‘alamu, demarkasi yang cukup tegas antara antum dan ana (baca: Nabi). Antum berkonotasi ilmu pengetahuan umum, dan Ana berkonotasi ilmu Agama.

                Dari dulu memang tidak muncul permasalahan mengenai dikotominya ilmu pengetahuan. Kenapa?. Karena memang lahirnya ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama memang rahimnya berbeda. Ilmu pengetahuan umum kelahirannya lewat proses kebebasan berfikir (rasional, obyektif, empiris). Sedangkan ilmu pengetahuan agama lewat proses yang diarahkan dan dibimbing oleh diktum- diktum suci, baik Alqur’an maupun Hadis.

                Juga sebagai upaya untuk menspesialisasikan ilmu. Agar nantinya munculnya ilmuwan yang cukup kompeten di bidangnya. Beda kalau seorang ilmuwan yang menggeneralisasikan, banyak ilmu- ilmu yang ia miliki. Pengetahuannya tidak akan mengerucut dan tidak tajam. Ada penamsilan dalam membuat skripsi. Sekripsi yang baik itu bagaikan menggali sumur, semakin kedalam semakin meruncing atau fokus.

Hanya sebuah Upaya

                Upaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan  hanya dalam atmosfer pendidikan islam. Upaya rielnya perguruan tinggi islam (STAIN, IAIN dan sekarang UIN) yang sa’at itu hanya mempelajari disiplin keislaman saja, seperti fakultas dakwah, syariah, ushuludin dan tarbiyah. Perkembangan berikutnya, yang tadinya fakultas dakwah yang mempelajari metode- metode dakwah, sekarang membuka yang sebenarnya ilmu- ilmu umum, seperti jurnalistik, media massa hanya saja sekarang semuanya dilabeli islam. Begitu pula fakultas Syariah membuka ekonomi islam, pidana islam, perdata islam dan lain sebagainya. Ushuludin membuka filsafat islam. Yang lebih banyak membuka ilmu- ilmu umum yang dilabeli islam adalah fakultas Tarbiyah. Fakultas ini membuka banyak jurusan; bahasa inggris, bahasa indonesia, matematika, biologi, fisika, kimia dan lain sebagaiya.

                Bahkan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membuka banyak disiplin ilmu pengetahuan, diantaranya politik, hukum dan Kesehatan. Setelah UIN Jakarta diikuti UIN- UIN lain. Walaupun banyak PT Islam yang membuka kajian ilmu- ilmu umum, prinsipnya masih sama. Artinya ilmu tersebut (baca: ilmu umum) masih, baik penemu maupun proses kajiannya tetap menggunakan postulat- postulat sebagaimana proses ilmu umum.

                Upaya Perguruan Tinggi Islam membuka ilmu umum dan diintegrasikan dengan agama, agar natinya para ilmuwan umum tetap beretika dan berprilaku yang islami. Misalnya seorang dokter yang islami, Insinyur yang tahu kitab kuning, seorang pengacara maupun hakim yang pinter kutbah dan lain sebagainya. Kalau itu yang dikehendaki para desainer pendidikan islam, tentu saja penulis katakan oke. Kenapa tidak. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Guru Sosiologi SMA NU 03, MA NU 02 Muallimin dan MA NU 06 Cepiring.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here