Dialog Kebangsaan, Nasionalisme NU Dengan Mengusung Aswaja

0
54

20160408_154137-2

Kangkung,NUKendal Online. Berbicara tentang Islam dan nasionalisme tentunya sangat menarik, sebab kedua kata itu sangat dekat dengan kita.  Sebagai umat  Islam dan sekaligus sebagai warga negara  sudah sepatutnya kita memiliki rasa cinta pada bangsa dan negara.Nasionalisme inilah yang terus digaungkan oleh NU dalam berbagai kesempatan, salah satunya oleh Gerakan Pemuda Ansor.

Demikian dikatakan Muhammad Anwar Salafudin pada acara Dialog Kebangsaan yang bertajuk “Islam dan Nasionalisme”, yang digelar PAC GP Ansor kecamatan Kangkung di MDA Nurul Huda desa Rejosari, Jum’at (8/9).

“Kalau mau jujur NU lah yang membidangi lahirnya bangsa Indonesia” tegasnya

Dihadapan  kurang lebih 80 anggota Ansor, Anwar Salafudin, anggota Polri di Kendal itu menjelaskan  bahwa konsep cinta tanah air dengan hubbul waton minal iman selalu di dengungkan oleh para ulama NU. Kalau sejarah mau jujur mencatat, kontribusi NU terhadap bangsa dan negara ini tak terbantahkan.Para ulama’  konsisten melakukan perlawanan fisik dengan mengangkat senjata bersama rakyat mengusir para penjajah

Tidak hanya itu, tambah Salafudin, secara kultural para kyai pondok pesantren juga meng-counter budaya yang di bawa kolonial Belanda. Fatwa haram memakai busana seperti “Londo”, mendirikan madrasah untuk melawan sekolah yang di dirikan Belanda adalah wujud nyata dari politik non-kooperatif.
Dalam ceramah untuk mengisi anjangsana rutinan bulanan itu, Salafudin juga memaparkan bahwa Sebagai founding father negeri ini, para ulama aktivis ketika itu sangat sadar apa yang di perjuangkan sebagai idealisme sebagai cendekiawan Islam yang sangat mewarisi ajaran lslam secara kaffah dari Nabi Muhammad SAW. Peradaban Islam sebagai negara bermula dari momentum Piagam Madinah yang menyatukan suku Arab (Aus dan Khazraj) maupun suku Yahudi ( Quraidlah, Nadhir dan Qoinuqo’).

20160408_153853-2

Di sinilah sangat terlihat bagaimana wajah Islam tampil sebagai penebar rahmat. Meskipun mayoritas Yasrib waktu itu telah dikuasai kaum muslimin, tidak lantas memberangus dan menafikan realitas masyarakat yahudi maupun nasrani.(Ahmad Mustofa/Fahroji)

judul iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here