Coffee Morning, Sisi Lain Pengajian Ahad Pagi MWC NU Sukorejo

0
34

Oleh: Fahroji

Ada kegiatan baru yang menarik di Gedung MWC NU Sukorejo yakni ngopi bareng di Gedung MWC NU selepas pengajian Ahad Pagi. Ngopi bareng itu sebenarnya bukan program kerja MWC NU Sukorejo. Acara itu hanya transit untuk menjamu para penceramah yang mengisi pengajian. Pada mulanya para penceramah hanya ditemani beberapa orang, seperti rois syuriyah, ketua MWC NU dan ketua panitia pengajian Ahad Pagi. Hal itu dikarenakan terbatasnya ruang transit yang masih darurat menggunakan pojok ruang bawah yang sekarang digunakan tidur anak-anak IPNU.

Namun sejak jamuan kepada penceramah itu dipindah di lantai 2 kemudian banyak yang “nimbrung ” ikut “jagongan“. Panitiapun kemudian menambah persediaan kopi hangat dengan ditemani jajanan ala kadarnya. Jadilah acara tidak disengaja itu mirip seperti acara “Coffee Morning” pejabat Pemda yang pernah ngetren beberapa waktu lalu.

Jika para pejabat Pemda menggunakan acara Coffee Morning untuk forum mencari masukan dan ide dari yang hadir. Demikian juga dengan Coffe Morning di Gedung MWC NU ini, tidak jarang warga NU yang ikut pengajian mendekatkan diri ke rois syuriyah, ketua NU, atau panitia pengajian untuk menyampaikan informasi atau usulan tentang kondisi NU di lapangan dan seterusnya.

Tidak ada tema yang maton, jagongan itu biasanya membahas ide-ide spontanitas dari yang hadir mulai hal-hal kecil tentang persoalan teknis pengajian Ahad Pagi sampai membicarakan kegiatan NU di Sukorejo. Diskusi bebas yang disertai joke-joke segar inilah nampaknya yang menjadi daya tariknya, sehingga durasi Coffe Morning sering tidak terkontrol melebihi durasi waktu pengajian Ahad Pagi. Pengajian yang resminya selesai pukul 07.00 Wib, bagi yang ikut Coffee Morning bisa bubar pukul 08.30 atau paling cepat pukul 08.00 Wib.

Tak jarang Coffee Morning di Gedung MWC NU itu juga menjadi ajang semacam study banding. Ketika panitia menghadirkan Gus Nafis dan Gus Minanurrahman dari MWC NU Bawang Batang, misalnya. Saya selaku ketua MWC NU Sukorejo setidaknya bisa sedikit mengorek program Nusantara Mart yang lebih dulu ada di sana. Hal itu tentu menambah referensi bagi MWC NU Sukorejo yang juga berencana mendirikan NU Mart di Gedung MWC NU.

Demikian juga ketika panitia menghadirkan KH Matori Idris, ketua MWC NU Bejen Temanggung. MWC NU Sukorejo bisa “mengintip” kegiatan NU di Temanggung lewat kyai Matori Idris. Temanggung yang sukses dengan Koin NU nya tentu sangat menginspirasi pengurus Lazisnu Sukorejo. Alhamdulillah, pasca pengadaan mobil ambulans perkembangan koin NU di Sukorejo sangat signifikan.

Tentu saja hal-hal yang dibahas dalam diskusi yang bernuansa santai itu bukan sebuah produk keputusan organisasi NU meskipun yang hadir ada rois syuriyah, ketua dan sekretirs MWC NU. Oleh karenanya, jika dipandang perlu kiai Ibadi selaku rois syuriyah MWC NU Sukorejo biasanya sepakat membawanya ke dalam angenda rapat pengurus harian MWC NU.

Nampaknya ngopi pagi atau Coffee Morning di Gedung MWC NU Sukorejo yang bernuansa santai dan informal itu menjadi hiburan murah tersendiri bagi yang mengikutinya, tak kalah dengan obrolan di kafe-kafe yang mulai menjamur di Sukorejo yang harus merogoh kantong agak dalam untuk bisa nongkrong di sana.

Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here