Cita-cita Tinggi bagi Orang yang Suluk (Pencari Hakekat)

0
155
Oleh: KH Mohammad Danial Royyan

“الهمة العالية للسالك”
البحث فى علم التصوف من كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ العلامة احمد بن محمد بن عجيبة على شرح كتاب “الحكم ” للشيخ العلامة العارف
بالله ابن عطاء الله السكندري رحمهما الله تعالى
المرشد العالم: كياهى محمد دانيال ريان

Bagi pencari hakekat yang sedang menempuh perjalanan menuju makrifat kepada Allah harus memiliki cita-cita (passion) yang kuat untuk mencapainya. Yaitu suatu keyakinan untuk mencapai tujuan, hingga munculnya suara gaib (الهاتف) yaitu terbukanya (الكشف) hati di alam hakekat. Namun hal tersebut dapat dicapai oleh Salik dengan syarat ia sudah dapat meninggalkan segala bentuk perhiasan dunia, termasuk kebaikan dan hikmah yang telah diberikan kepadanya, ia sudah dapat melupakan segala apa yang diperolehnya.

Ketika seorang salik menyaksikan dunia yang terdapat dalam dirinya, maka ia masih disebut sebagai orang sedang berlatih dan sedang menempuh suatu perjalanan spiritual. Tetapi ketika seseorang telah menyaksikan Allah melalui sirr-nya ia disebut salik yang majdzub (orang yang ditarik) ia sudah berada pada maqam fana‘.

Dalam maqam fana’ tersebut, Syeikh Ibnu ‘Athoillah membagi menjadi 3 tingkatan, yaitu fana’ dalam perbuatan, fana’ sifat dan fana’ dzat.

  1. Fana’ dalam perbuatan adalah merupakan tahapan awal yang harus dilalui ole Salik, yaitu apabila ia berbuat kebaikan apa pun, ia lupa terhadap kebaikan yang telah dilakukan. Contoh seseorang menyumbang dana jutaan rupiah untuk pembangunan masjid, tapi ia tidak merasa memberikan apapun, karena apapun yang ia miliki semata-mata hanya milik Allah.
  2. Fana dalam sifat
    Maksudnya sifat kemuliaan apa pun yang diperoleh seseorang ia tidak merasa memiliki kemuliaan apa pun, sebab semua kebaikan dan kemuliaan hanya milik Allah;
  3. Fana’ dalam dzat
    Artinya seseorang ketika hatinya sudah berada di alam hakekat, ia sudah tidak ingat lagi dimana keberadaan jasadnya, karena yang diingat hanya Allah.

Setelah seseorang berada di maqam fana’ ia akan sampai kepada maqam fana’ fi alfana’, yaitu maqam tertinggi seseorang yang tidak ingat lagi bahwa dirinya pada maqam fana fil fana’, sehingga yang nampak dari lahir seseorang yang telah mencapai maqam fana’ fi alfana’ seperti orang gila yang mengucapkan kata-kata syatahat/شطحة (ndleming), karena kecintaannya yang begitu mendalam kepada Allah.

Jadi kesimpulannya, bagi orang yang ingin menjalani ilmu tariqah (salik) secara bertahap harus memiliki himmah yang tinggi untuk menempati maqam-maqam tadi, hingga ada suara tanpa rupa (الهاتف) yaitu Allah memberikan Ilham kepadanya dengan mengatakan:
الذي تطب أمامك
“Apa yang kamu cari, ada di depanmu”.
Mendengar suara itu, salik terus berusaha mendekati suara kalimat itu:
الذي تطلب أمامك
“Apa yang kamu cari ada di depanmu” dan seterusnya.

Oleh karena itu, jika seseorang sudah mencapai maqam fana fil fana’, ia sudah tidak memiliki rasa takut dan kuatir :
ان أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“Sesungguhnya para kekasih Allah itu, bagi mereka tidak memiliki rasa takut dan tidak pula mereka merasakan kesedihan”. Segala doa dan harapannya selalu dikabulkan oleh Allah, sebab begitu dekat dan cintanya mereka para wali Allah.
Allahu ‘alam

Semoga bermanfaat.

Diintisarikan oleh Muhammad Umar Said

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here