CIPTAKAN BUMI YANG HIJAU

0
79

Oleh : H. Moh. Mahrus Ali

          Suatu hari pernah nabi Muhammad ditanya sahabat, tentang usia bumi yang kita pijak. Beliau menjawab tidak secara langsung, tapi dengan perumpamaan, bahwa bumi yang kita pijak ini usianya bagaikan seorang nenek tua yang berjalannya sudah sempoyongan. Dan sudah berkaki “tiga”. Jawaban nabi itu sendiri sudah 15 abad yang lalu.

          Kenapa bumi dilambangkan seorang nenek atau perempuan?. Karena bumi tempat persemaian dan pertumbuhan semua mahluk hidup. Pemberi kasih sayang kepada umat manusia [bumi memberikan berbagai keperluan manusia, bersikap afektif layaknya sikap ibu terhadap anaknya]. Juga sebagaimana yang disabdakan nabi itu sendiri bahwa perempuan kaitannya dengan hubungan suami istri, bagaikan “ladang”. Yang mana kaum suami diberi keleluasaan tehnik penggarapan, bagaimana menyemaikan benih yang akan ditaburkannya. Yang terpenting ada kesepakatan antara keduanya. Tidak ada yang dirugikan di kedua belah pihak.

          Langkah Kongkrit

          Perlu diacungi jempol langkah kongkrit yang dilakukan oleh wakil bupati Kendal, Dra. Hj. Siti Nurmarkesi mengintruksikan jajarannya agar pada hari Jum’at minggu pertama setiap bulannya untuk tidak menggunakan mobil/ sepeda motor ke kantor. Dimohon untuk jalan kaki atau bersepeda ontel, dan bagi yang jauh rumahnya diharuskan untuk naik kendaraan umum. [Suara Merdeka 18 Mei 2009].

          Langkah tersebut paling tidak akan mengurangi “zat” berbahaya bagi kelestarian alam, yang berasal dari pembakaran kendaraan bermotor. Yang mana menurut para ahli, bahwa bumi Indonesia bila dilihat dari atas akan nampak hitam, sudah tidak hijau lagi. Hal itu ditengarai musim tidak menentu dan suhu udara semakin tahun semakin panas.

          Perintah ini bukan tanpa dasar. Kita tahu bahwa, bumi kita semakin tua, sebagaimana yang digambarkan oleh nabi, seorang nenek yang sangat renta, itu diucapkan nabi kurang lebih 1500 tahun yang lalu. Selain itu juga, berdasarkan para ahli lingkungan bahwa naiknya suhu di bumi selain efek rumah kaca, juga dikarenakan kerusakan hutan, yang menyebabkan ketidak hijaunya bumi itu sendiri. Salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah yang tergolong sangat hijau adalah kabupaten Batang.

          Instruksi dari wakil bupati tersebut seyogyanya diapresiasi secara positif oleh bawahannya, agar supaya bumi kita yang digambarkan sebagai nenek “sempoyongan” itu mendapat “tonikum”, pemulihan tenaga dan bisa menjadi vitalitas kembali, yaitu dengan mengurangi emisi pembakaran kendaraan. Selain itu juga diagendakan penanaman sejuta pohon. Kita bisa meniru yang pernah dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta.

          Bagi warga yang sudah tidak punya secuil pekarangan, dimohonkan untuk menanam bunga dalam pot. Ternyata bunga yang ada dalam pot, disamping bisa mengurangi polusi udara, juga bisa menurunkan suhu. Hal itu pernah dilakukan oleh masyarakat Tokyo [Jepang],instruksi wali kotanya, mampu menurunkan temperatur udara di kota megapolitan Tokyo sampai beberapa derajat.

          Tidak ada salahnya gagasan dari wakil bupati Kendal ini dijadikan agenda program oleh pemerintah Jawa Tengah, yang nota bene pada waktu kampanye dulu berslogan “Bali desa bangun desa”. Konotasi desa merupakan kawasan pemukiman yang ditandai adanya rimbunnya pepohonan, bentangan sawah yang bagaikan hijaunya permadani, dan pemukimnya penuh dengan semangat familiar, saling sapa dan murah senyum. Hal itu disebabkan karena kesejukan suasana alam, bukan sebaliknya.

          Penulis rasa ada ketersambungan apabila gagasan wakil bupati Kendal ini menjadi program pemerintah Jawa Tengan dengan slogan kampanye Pak Bibit dengan Ibu Rustri. Apabila hal ini terealisasi, artinya seluruh kabupaten di Jateng melaksanakan ketentuan tersebut, maka bisa jadi yang selama ini musim tidak menentu dan suhu udarapun terus melaju naik di seluruh kawasan, akan bisa turun kembali.

          Juga menjadi keprihatinan kita semua adalah ucapan mantan menteri Lingkungan Hidup RI, Prof. Dr. Emil Salim bahwa pada tahun 2050 air laut di pulau Jawa akan mencapai setinggi Monas. Menurut beliau ini bukan prediksi para supranatural, tapi hasil pemikiran ilmiah para ilmuwan. Beliau juga sangat menyayangkan, bahwa kampanye para kandidat presiden kali ini tidak ada yang membawa issu pemanasan global. Padahal itu sudah merupakan suatu yang sangat mendesak untuk diapresiasi secara positif dan ditangani secara serius.

             Perlu Infrastruktur

          Untuk mewujudkan instruksi wakil bupati Kendal, maka pemerintah kabupaten harus memfasilitasi infrastruktur bagi becak maupun sepeda ontel. Selama ini memang sudah adanya trotoar pejalan kaki maupun untuk sepeda/ becak, tapi hanya di dalam kota saja.

          Hal yang sangat mendesak untuk direalisasikan, agar instruksi tersebut tidak hanya sekedar wacana, maka pemerintah harus menganggarkan pembuatan jalan khusus untuk sepeda ontel/ becak yang menghubungkan kota Kendal dengan kota- kota di sekitarnya. Paling tidak, ke barat sampai Weleri dan ke timur sampai Kaliwungu. Karena kawasan ini merupakan zona yang sangat padat lalu lintasnya, yaitu jalur pantura. Dan sangat berbahaya bersepeda di jalur ini, karena sangat padatnya lalu lintas. Sehingga para orang tua sangat beralasan kalau melarang anak- anaknya bersepeda lewat di jalur pantura.

          Sehingga nantinya bersepeda ontel akan sangat diminati dan menjadi kebiasaan oleh para pegawai negeri, pelajar dan karyawan pabrik. Apalagi masyarakat kota Kendal memiliki komunitas pecinta sepeda ontel yang setiap minggu pagi melakukan “tour de” Kendal dan sekitarnya. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Kendal sudah punya kesadaran yang cukup tinggi dalam bersepeda, disamping menyehatkan badan juga secara makro menjaga bumi dari petaka yang kita semua tidak menginginkan.

          Dan yang unik, mereka berseragam jawa [batik lurik dan blangkonnya]. Walaupun umumnya mereka rata- rata berusia “pensiun”, yang secara umum sudah tergelayuti oleh penyakit diabetes, kolesterol tinggi dan asam urat. Dimana secara medis memang harus berpola hidup sehat, rutin olah raga dan bernuansa fress.

          Bersepeda merupakan solusi yang sangat tepat, bisa mengusir kejenuhan, dimana beban hidup yang tidak mengenal toleransi sedikitpun. Tapi tidak mustahil kalau infrastruktur jalan khusus sepeda ada di Kendal, peminat akan merembet tidak hanya para bawahan wakil bupati saja, melainkan juga pada kawula mudanya. Semoga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here