Catatan Kesepakatan NU Kendal dan NU Tiongkok

0
146
Oleh: Moh Fatkhurahman

Berpikir out of the box, NU Kendal melompat maju dalam menyikapi perkembangan zaman. Kebangkitan Tiongkok dibidang perekonomian yang berdampak pada bidang lainnya menginspirasi untuk berbuat sesuatu.

Setelah melalui pemikiran dan musyawarah antara Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU), Lembaga Dakwah NU, Lembaga Pendidikan Maarif (LP Maarif) dan Lembaga Kajian Sumberdaya Manusia (LAKPESDAN) NU Kabupaten Kendal akhirnya disepakati untuk menyelenggarakan kesepakatan kerjasama dengan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCI NU) Tiongkok yang pelaksanaanya dibarengkan dengan Pengajian Selapanan PCNU Kendal, Sabtu 24 Agustus 2019.

Syahdan, Pengajian selapanan NU Kendal pada saat itu berbeda dengan biasanya dan menjadi sangat istimewa karena dihadiri Pengurus Cabang Istimewa (PCI NU) Tiongkok. Pada kesempatan itu dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama dibidang pendidikan. Kesepakatan bersama ditandatangani oleh Ketua Tanfidziyah PCI NU Tiongkok Nurwidiyanto M.Sc, Ketua Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kendal KH Mohammad Danial Royyan dan Ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Kendal H Ibnu Darmawan M.Pd.

Penandatanganan kerjasama itu juga disaksikan oleh Wakil Katib Syuriyah PCI NU Tiongkok Sugiarto Pramono dan Mustasyar PCI NU Tiongkok Agus Fathuddin Yusuf serta peserta pengajian dari pengurus badan otonom dan lembaga di lingkungan NU Kendal.

Seperti yang diungkapkan Ali Martin, Ketua Lakpesdam NU Kabupaten Kendal bahwa kerjasama tersebut meliputi pemberdayaan warga NU dibidang pendidikan dengan akses fasilitasi beasiswa pendidikan baik S1, S2, maupun  S3 dan kejasama komunikasi dan fasilitasi antara pendidikan vokasi (SMK, SMA ,MA) dibawah LP Maarif NU Kabupaten Kendal dengan dunia usaha/industri di Tiongkok berupa magang atau kursus.

Islam, Bahasa, dan Budaya

Dalam pengajian bertopik “Mempelajari Bahasa dan Budaya non Muslim Menurut Islam Ahlussunnah wal Jamaah” di Gedung NU itu, KH Mohammad Danial Royyan menyampaikan bahwa hubungan antara Cina dengan Islam sudah ada sejak dulu.

Ada beberapa sahabat Nabi yang mempelajari bahasa dan budaya asing seperti Salman al-Farisi, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Zaid bin Tsabit. Nabi pernah bersabda: “Tuntutlah ilmu ke negeri Cina”. Pada kesempatan lain Nabi juga bersabda: ”Man ta’allama lughota qoumin amina makromahum” (barang siapa mempelajari bahasa suatu kaum maka akan aman dari tipu dayanya).

Salman al-Farisi yang berasal dari Persia, saat Madinah akan diserang Koalisi 8 Kelompok yang disebut al Ahzab menyampaikan ide untuk membuat khondaq (parit) yang mengelilingi kota Madinah sebagai benteng pertahanan. Strategi pembuatan parit ini merupakan budaya Persia yang kemudian diterima Islam.

Abu Ubaidah bin Jarroh yang memahami budaya Romawi juga menyumbangkan tradisi tidur di bawah pedang. Dari kesiapsiagaan inilah akhirnya muncul gagasan untuk membentuk Barisan Serba Guna (Banser) oleh Nahdhatul Ulama.

Begitu pula Zaid bin Tsabit yang menjadi Sekretaris Nabi menjadi komunikator dengan tokoh yang berbudaya non Arab. Sehingga terjadilan penyebaran Islam (nasyrul Islam).

Bahasa Kuno (allughoh alqodimiyah)  terdiri dari bahasa Arab,  Ibrani, suryani, dan latin. Namun yang saat ini masih eksis banyak dipakai adalah Bahasa Arab. Hal ini karena pengaruh Kitab Alquran yang menggunakan bahasa Arab dengan struktur bahasa dan sastra tinggi ternyata mampu mempersatukan bangsa Arab yang sebelumnya menggunakan dialek berbeda-beda dan belum tentu dipahami oleh suku-suku lainnya.

Pada era tabi’in ada beberapa tokoh seperti Abdullah bin Salam yang mantan pendeta dan Kaab bin Ahbar yang sering mengutip sejarah Bani Israil yang kemudian disebut alhikayatu al israiliyat. Tulisan – tulisan mereka  ini kemudian mempengaruhi karya – karya kitab berikutnya seperti “ar-Risalah al Ushfuriyah (Esai Burung Pipit)” dan “Durrotun Nasihin”.

Meski ada perbedaan pendapat pro dan kontra dalam merespon alhikayatu al israiliyat ini namun Imam Nawawi al Bantani dalam kitabnya “Al Adzkar” menulis, “hadits dhoif dapat digunakan ketika terkait dengan fadhilah”. Pemikiran ini kemudian menginspirasi untuk memaklumi suatu kesalahan yang mendatangkan maslahah. Dari sinilah kemudian bangkit keberanian untuk terus berijtihad dan berkarya. Kemunculan Fiqih Siyasah (Fiqih Politik) dan Fiqih Kebangsaan akhir – akhir ini merupakan salah satu contohnya.   

Islam Berkembang di Tiongkok

Tiongkok saat ini sangat berbeda dengan Tiongkok di era komunisme. Pertumbuhan muslim dan tempat ibadah sangat pesat. Bahkan menurut Nurwidiyanto Ketua Tanfidziyah PCI NU Tiongkok, saat ini terdapat 14.000 mahasiswa di Tiongkok yang 10% nya adalah muslim. Di sana juga terbangun 40.000 masjid dengan jumlah penduduk muslim kurang lebih 25 juta jiwa. Jadi hoaks bila ada anggapan bahwa Tiongkok tidak memperhatikan muslim.

Nurwidiyanto pun mengungkapkan, dalam merespon perkembangan seperti itu memang dilematis. Menyampaikan apa adanya, dituduh sebagai antek Cina. Karena itulah NU bersikap moderat atau jalan tengah dengan mengedepankan Islam rohmatan lil alamin. Karena setiap pernyataan akan berdampak di Indonesia.

Ketua Tanfidziyah PCI NU Tiongkok itu juga menceritakan, pada masa Dinasti Tang ada seorang Kaisar yang mengijinkan pendirian sebuah masjid di Guang Zou yang dikenal dengan Masjid Saad bin Abi Waqqosh. Sejak saat itulah Islam berkembang karena ternyata banyak budaya Konghucu di sana yang selaras dengan Islam. Salah satunya prinsip Islam Nusantara yang mirip dengan prinsip keseimbangan dalam Kitab Confucius.

Prinsip mencintai tanah air sebagian dari iman (hubbul wathon minal iman) juga sangat mengakar.  Maka tak heran banyak anak muda yang antusias untuk belajar Islam.

Tiongkok Menuju Super Power

Sugiato Pramono, Wakil Katib Syuriyah PCI NU Tiongkok yang juga dosen hubungan internasional Universitas Wahid Hasyid (UNWAHAS) Semarang menegaskan, ada beberapa peristiwa internasional yang dianggap memperlemah Amerika Serikat dan mendorong Tiongkok bergerak menuju negara super power.

Peristiwa penyerangan World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, krisis ekonomi Amerika terkait perumahan yang berdampak pada keuangan negara Amerika Serikat, dan kebijakan Presiden Amerika Serikat saat ini Donald Trump yang justru melakukan politik isolasi diri dari perdagangan internasional dan banyak menarik tentaranya dari dunia internasional. Kondisi ini menjadikan Tiongkok makin memperkuat diri di bidang ekonomi, militer, teknologi, dan politik.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok akhir-akhir ini mengalami lompatan hingga 10 – 11% per tahun. Kalaupun turun masih sekitar 6%, ini masih jauh di atas Amerika Serikat.

Sugiarto juga mengungkapkan, Tiongkok saat ini akan menghidupkan kembali jalur perdagangan sutera yang sudah terkubur ratusan tahun lalu melalui pembangunan jalan, jalur kereta api dan jaringan komunikasi kabel yang ditarget tahun 2030 selesai. Sugiarto pun mengajak kita untuk menyikapi kebangkitan Tiongkok itu sebagai peluang kerjasama termasuk dalam program beasiswa pendidikan dan investasi.

Peluang beasiswa tersebut juga dibenarkan oleh Mustasyar PCI NU Tiongkok, Agus Fathuddin Yusuf. Menurutnya, pihaknya pernah mendapat quota 40 orang, namun hanya bisa mencukupi 26 orang. Hal ini disebabkan masalah komunikasi dan publikasi.

Mengenai anggapan para mahasiswa di sana yang dicekoki ajaran komunisme, Agus  Fathuddin Yusuf membantah keras. Ia menjelaskan bahwa hal itu adalah hoaks mugholadhoh. Karena ia yang mengambil studi jurnalisme di sana, memang ada mata kuliah jurnalisme komunisme namun itu hanya bersifat perbandingan saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here