Catatan Akhir Tahun 2020 MWC NU Sukorejo

0
157

Oleh: Fahroji

Melihat kondisi yang ada akhir tahun 2020 ini, pelaksanaan program kerja MWC NU Sukorejo nampaknya sudah selesai dibatasi oleh masa khidmat 2016-2021. Sisa waktu kurang lebih setengah tahun relatif digunakan pengurus MWC NU Sukorejo untuk persiapan Konferensi Periodik dan menyusun laporan pertanggungjawaban. Apapun capaian yang diperoleh dengan segala kekurangannya pada akhir tahun ini adalah potret kondisi nyata NU di Kecamatan Sukorejo saat ini.

Launching mobil ambulans 27 Desember lalu barangkali capaian akhir di periode ini. Sedangkan pembangunan gedung MWC NU nampaknya masih harus berlanjut pada masa khidmat berikutnya.
Finishing lantai 2 teras depan dan belakang mungkin masih terkejar, waktu cukup tapi dana masih “cupet”. Apalagi pandemi Covid-19 yang belum tahu kapan akan berakhir telah menjadi ganjalan untuk menggelar event besar “Tahlil Akbar” yang selama ini memberikan kontrubusi cukup berarti dalam penggalian dana pembangunan gedung NU.

Sedangkan penyelesaian lantai satu untuk kegiatan bisnis dan pembangunan kantor sekretariat dan ruang transit di sebelah timur nampaknya akan menjadi “PR” masa khidmat yang akan datang.

Capaian program fisik itu tentu tidak lepas dari dukungan pengurus ranting dan anak ranting NU yang merupakan hasil konsolidasi dan menghidupkan kepengurusan ranting NU pada tahun pertama dan ke dua. Dari 18 desa yang ada, hampir semua desa sudah ada kepengurusan ranting NU, bahkan beberapa ranting sudah melakukan konsolidasi pembentukan Pengurus Anak Ranting (PAR) sesuai dengan AD/ART NU hasil Muktamar Jombang 2015.

Meskipun konsolidasi ranting NU sudah merata, namun kemampuan manajerial, kepemimpinan dan dedikasi pengurus ranting tentu saja tidak sama dan merata. Banyaknya pengurus ranting NU yang baru dan minimnya “jam terbang” akibat vacumnya kepengurusan NU sebelumnya berimbas pula pada tingkat keberhasilan masing-masing ranting dalam membangun partisipasi warga NU dalam pembangunan gedung NU.

Hal ini bisa dilihat dari iuran ranting NU untuk pembangunan gedung MWC NU. Sesuai kesepakatan pada awal pembangunan bahwa setiap ranting dibebani iuran 10 juta untuk setiap tahap, pada kenyataannya alhamdulillah ada yang setor tiga tahap mencapai 30 juta, namun ada yang dibawah standar hanya setor 3 juta untuk satu ranting.

Pada periode yang akan datang untuk meningkatkan kapasitas dan loyalitas pengurus NU dipandang perlu diadakan pembekalan pengurus NU. MKNU (Madrasah Kader Nahdatul Ulama) yang pernah digelar PCNU Kendal perlu di-break down ke tingkat MWC NU dan PR NU.

Namun demikian meskipun pembangunan gedung MWC NU belum selesai, lantai 2 sudah bisa digunakan untuk tempat kegiatan. Satu bulan sekali tiap malam Ahad Pon, pengurus harian MWC NU mengadakan rapat rutin di gedung NU. Setiap Minggu, lantai 2 digunakan untuk pengajian rutin Ahad Pagi. Bahkan tiap hari gedung MWC NU tidak pernah sepi, sekitar sepuluh anak IPNU menjadi penghuni gedung NU. Mereka tidur dan bahkan memasak dilantai 1 layaknya anak di pondok.

Dengan keberadaan gedung NU pula kesadaran berorganisasi warga NU Sukorejo mulai tumbuh. Warga mulai bisa merasakan pentingnya sarana fisik gedung NU sebagai pusat kegiatan NU dan sarana silaturrahim sesama warga NU.

Capaian di atas tentu saja buah kekompakan warga NU Sukorejo selama ini yang patut dipertahankan dan diteruskan. NU Sukorejo saat ini sudah ada di tengah-tengah pusaran dinamika pergulatan masyarakat Sukorejo yang heterogen tidak lagi di pinggir.

Peristiwa sweping FPI di Sukorejo tempo dulu yang saat ini telah dibubarkan pemerintah dan khutbah provokatif di Banon Purwosari sebenarnya mempertegas bahwa tantangan yang dapat mengancam eksistensi NU di Sukorejo cukup besar yakni ideologi Islam radikal. Pembubaran FPI tentu tidak serta merta diikuti terkuburnya keyakinan mereka sehingga ancaman radikalisme tetap harus diwaspadai. Apalagi jika menengok sejarah bahwa keberadaan NU di Sukorejo baru ada kepengurusan di era tahun 50-an dengan Mbah Yusuf sebagai ketua pertama (saat ini masih hidup). Ini membuktikan bahwa dulu Sukorejo memang bukan basis NU. Oleh karenanya dibutuhkan kekompakan tokoh, pengurus dan warga NU Sukorejo untuk dapat menjaga eksistesi NU Sukorejo saat ini. Kemandirian organisasi NU juga perlu dibangun agar NU di Sukorejo tidak terhegemoni oleh kekuatan yang ingin memanfaatkan kebesaran NU.

Semoga catatan kecil ini akan menjadi refleksi segenap pengurus dan warga NU di Sukorejo sehingga NU bisa menatap masa depan yang lebih cerah. Selamat tahun baru 2021.

Penulis adalah ketua MWC NU Sukorejo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here