Bisnis Buku, Tak Lekang oleh Waktu

0
126

Ditengah merebaknya media digital ternyata bisnis buku bacaan masih bisa bertahan. Meskipun sudah ada e-book, tetapi buku cetak masih diminati. Tentu buku cetak memiliki kelebihan dibanding e-book.  Untuk membaca buku yang jumlahnya ratusan halaman, pembaca tentu akan memilih buku cetak dengan alasan “ngeman mata” jika harus membaca lewat layar komputer atau smartphone. Apalagi kalau usianya sudah tidak bisa dibilang muda.

Atas alasan ini, Fahroji, mengaku ingin menghidupkan kembali bisnis buku yang pernah dỉrintisnya sejak 2005. Ditemui dikediamannya  Dusun Ngloyo Desa Trimulyo Sukorejo Kendal, kepada pcnukendal.com ia menuturkan bisnisnya masih bersifat usaha sampingan.  Karena buku-buku yang dijualnya bernapas NU, maka strategi pemasaran pada waktu itu lebih memilih buka stand pada event-event kegiatan NU dan BANOM serta Lembaga di lingkungan NU. 

“Umumnya kegiatan-kegiatan NU digelar pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga beberapa hari sebelumnya saya mencari informasi ke teman-teman,” ceritanya mengenang masa lalu.

Diakuinya, untuk mendapatkan informasi kegiatan NU, dirinya tidak terlalu sulit karena disamping membuka bazar buku ia juga bisa menjalan tugas sebagai jurnalis NU.

“Teman-teman justru banyak yang pro aktif menghubungi saya karena kegiatanya ingin diliput media dengan menawarkan fasilitas tempat, meja, dan lain-lain. Pokoknya simbiosis mutualisme lah, saling menguntungkan,” guraunya.

Ayah dua anak laki-laki itu mengaku, berita-berita yang dibuat sambil jualan buku itu sekitar tahun 2006-2007 dikirim ke koran mingguan “Forum Warga” yang diterbitkan LTN NU Kabupaten Tegal dimana ia pernah bergabung dan digembleng membuat berita. Selanjutnya karena korannya berhenti terbit, berita kemudian dikirim ke NU Online. Atas informasi teman-teman tentang kegiatan NU di Kendal, Fahroji mengaku sering masuk sepuluh besar produktifitas pengiriman berita di NU Online.

Namun perjalanan hidup seseorang memang tidak ada yang tahu, disela-sela mengajar di MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo, setiap Sabtu dan Minggu ia jualan buku dan membuat berita, serta memimpin PAC GP Ansor Sukorejo ternyata ia juga dipercayai menjadi ketua PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) Sukorejo.

Dengan modal itu pula kemudian ia memberanikan diri mengikuti seleksi KPU Kendal 2008. Dan takdir Allah pun berbicara, ia menjadi komisioner KPU Kendal selama dua periode 2008-2018. Atas nama kepentingan yang lebih besar dan kepentingan bangsa dan negara akhirnya dunia jurnalistik dan bisnis bukupun ditinggalkan karena keterbatasan waktu, tenaga dan pikiran.

“Buku-buku yang masih tersisa tidak saya kembalikan ke penerbit tetapi saya bayar. Itung-itung syukuran pada penerbit dan saya simpan, siapa tahu suatu saat dibutuhkan lagi, toh buku tidak busuk dan tidak basi. Sedangkan urusan majalah Aula saya serahkan adik saya untuk urusan lapangan,” ceritanya.(Fikri)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here