BILA ORANG NU MENG-COPAS PENDAPAT USTAD RADIKAL?

0
236

Ustad Radikal adalah tokoh kelompok Islam yang berfaham radikalisme. Indikasi radikalisme itu cukup banyak, tetapi yang paling signifikan adalah pengkafiran (takfir).

Takfir atau pengkafiran terhadap seorang muslim adalah dosa besar yang bisa menjadikan pelaku takfir (mukaffir) justru menjadi kafir sendiri, sehingga takfir itu tak layak dilakukan oleh orang yang masih mempunyai kesempurnaan iman. Takfir hanya boleh dilakukan oleh orang alim berkeahlian di bidang agama Islam yang memahami ushulut tauhid terhadap orang yang benar-benar mengingkari ketuhanan, kerasulan, kenabian, kebenaran Islam, alam akhirat beserta seluruh isinya, kebenaran al-Qur’an, kesahihan hadits dan semua hal yang menjadi ushuluddin.

Abdullah bin ‘Umar RA berkata: Rasulullah SAW bersabda :

أَيما رجُل قال لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ, فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا , فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan”. (HR Bukhari : 6104 dan Muslim : 60)

Abu Dzar Al-Ghifari RA juga menuturkan hal yang sama dari Rasulullah SAW :

مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ , أَوْ قَالَ : عَدُوَّ اللهِ, وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

“Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (HR. Muslim : 61)

Takfir itu dilakukan kelompok Islam radikal karena faktor-faktor berikut :
1. kesombongan,
2. kebodohan,
3. fanatisme buta,
4. kurangnya pendidikan,
5. sempitnya wawasan,
6. keinginanan untuk menciptakan fitnah dan
7. keinginan untuk memecah belah umat Islam.

Al-Imam As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitab “MAFAHIM”  mengatakan, bahwa jangan sembrono mengkafirkan orang beriman, jika tidak memiliki pengetahuan tentang Ushul At-Tauhid (dasar-dasar tauhid) dan Asbàbul Kufri (sebab-sebab kekafiran) yang memadai. Sebab jika berani melakukan takfir tanpa memiliki pengetahuan tersebut, maka sama dengan menceburkan diri ke jurang kenistaan dosa.

Jika mengucapkan kalimah takfir kepada sesama muslim tidak diperbolehkan, maka mendengarkan kalimah takfir itu juga tidak diperbolehkan. Demikian juga dengan mendwonload, memposting, mengcopas, mengutip dan menyebarluaskan atau mempublikasikan pendapat kelompok Islam yang gemar menulis dan mengucapkan kalimah takfir, juga tidak diperbolehkan.

Jika warga NU membutuhkan rujukan, maka sudah banyak sekali ulama milik NU yang lebih layak untuk dijadikan rujukan, bahkan mereka lebih mendominir khasanah keilmuan Islam sejak Imam Syafii sampai dengan KH Hasyim Asy’ari.

Adakah ulama filsafat modern yang bisa menandingi Al-Ghozali?.

Adakah ahli hadits modern yang bisa menandingi Al-Bukhori, Muslim, An-Nasa’i, At-Turmudzi, Abu Daud, Ibn Majah sampai dengan Imam Ibn Hajar Al-Asqalani??. Adakah ahli fiqih modern yang bisa menandingi Ar-Rafi’i, An-Nawawi, Ibn Hajar Al-Haitami, Ar-Ramli dan lain-lain??.

Adakah ahli tafsir modern yang bisa menandingi Al-Khozin, Al-Baidlowi, Al-Qurthubi, As-Showi, Fakhruddin Ar-Rozi, As-Suyuthi dan lain-lain?.

Adakah sastrawan modern yang bisa menandingi Al-Kholil, Sibawaih, Al-Mazini, Ibn Malik, As-Sakaki, As-Suyuthi dan lain-lain??.

Jawaban yang tepat bagi serangkaian pertanyaan di atas adalah “Belum pernah ada” dan “Tidak akan ada”, justru para cendekiawan modern dari berbagai aliran termasuk kaum wahabi malah mengutip dari mereka!.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari merangkum pendapat para imam seperti An-Nawawi, As-Subki, Abdullah Al-Haddad, Murtadla Zabidi, Ahmad Zaini Dahlan dan lain-lain kemudian merumuskan Qanun Asasi yang berisi bahwa warga NU dalam mengamalkan Islam supaya :

1. Dalam masalah aqidah harus mengikuti salah satu dari dua madzhab :Asy’ari atau Maturidi.
2. Dalam masalah fiqih harus mengikuti salah satu dari empat madzhab : Hanafi, Maliki, Syafii atau Hanbali.
3. Dalam masalah tasawuf harus mengikuti salah satu dari dua madzhab : Junaidi Al- Baghdadi atau Al-Ghozali.

Maksud dari itu semua adalah supaya warga NU tetap berada pada koridor ahlussunnah waljamaah, tidak perlu mencari madzhab-madzhab dan ideologi-ideologi lain yang mungkin malah menyesatkan.

Selamat Hari Santri dan selamat meneruskan perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam menjaga keutuhan Islam Ahlissunnah Waljamaah di bumi Nusantara yang kita cintai !!!

Muhammad Danial Royyan,
Ketua PCNU Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here