Bidayah dan Nihayah

0
26
 Oleh: KH Mohammad Danial Royyan 

ألبحث في علم التصوف في كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ العلامة إبن عجيبة الحسني على شرح كتاب “الحكم” للشيخ العلامة العارف بالله إبن عطاء الله السكندري رحمهما الله تعالى

“ألبداية والنهاية”

Setiap salik (السالك), yaitu orang yang sedang melewati perjalanan rohani menuju makrifat, ia pasti menginginkan kesuksesan (النجاح)  dalam menjalaninya, baik dari permulaan (البداية) hingga sampai pada akhir perjalanan (النهاية).

Kesuksesan dalam memperoleh apa yang dicari dan dicintai itulah yang disebut “nihayah“, dan awal dari kesuksesan itu yang disebut “bidayah“. Dalam hal bidayah seorang salik harus memiliki komitmen untuk “ruju’ ila Allah, yaitu ilmu yang ia miliki dan segala persoalan yang menimpa dirinya dikembalikan hanya kepada Allah, dan bersandarkan diri hanya kepadaNya.

Sebagaimana kata Syeikh Ali RA :

“من كان علمه بالله كان راجعا إليه في كل شيء  ومعتمدا عليه في كل حال.”

Selain itu seorang salik dalam beramal apa pun harus niat “billah” dan tidak hanya “lillah“. Lalu apa perbedaan antara “billah” dan “lillah”?. Menurut KH Mohammad Danial Royyan , “kalau amal billah itu sejak awal hingga akhir disertai niat karena Allah, tetapi kalau amal lillah itu niat karena Allah bisa terjadi di akhir perjalanan. Amal billah adalah amalnya para wali Allah, sedangkan amal lillah itu amalnya orang awam. Pada awalnya mungkin belum lillah, tetapi pada akhirnya lillah”.

Kiai Danial lalu mencontohkan orang awam ketika memberikan infaq pada pembangunan masjid, pada awalnya ia berinfaq belum ikhlas, tetapi ketika masjid sudah nampak jadi, ia baru ikhlas. Berbeda dengan wali Allah sejak awal ia beramal sudah karena Allah, bahkan ia tidak merasa beramal apa apun, kecuali yang diharapkan hanya ridho Allah Swt.

Syeikh Ibnu Ajibah berkata:

إذا توجهت همتك أيها المريد إلى طلب شيء أي شيء كان، وأردت أن ينجح أمره، وتبلغ مرادك فيه،  وتكون نهايته حسنة، وعاقبته محمودة، فارجع إلى الله في بداية طلبه، وانسلخ من حولك وقوتك!

“Ingatlah wahai murid, apabila cita-citamu mengarah kepada pencarian sesuatu, apapun bentuknya, sementara engkau menginginkan sukses untuk memperolehnya, yang kau inginkan tercapai, berakhir dengan baik dan terpuji, maka hendaklah semua itu dikembalikan kepada Allah pada awal mencarinya, dan lepaskanlah daya dan kekuatanmu”.

Selanjutnya Syeikh Ibnu Ajibah menambahkan, “apabila engkau mencari sesuatu, maka engkau harus bersandarkan diri hanya kepada Allah dan menyerahkan secara total permasalahanmu kepadaNya, maka hal tersebut sebagai pertanda kesuksesanmu dan telah berhasil apa yang engkau cari.

Tercapainya sesuatu yang inderawi ataupun tidak, tidak menjadi beban karena keinginanmu didasarkan pada keinginan Allah bukan keinginan dirimu.

Terkait dengan hal tersebut di atas, ada baiknya kita perhatikan Hadits Nabi Saw tentang larangan mencari kekuasaan atau jabatan. Yaitu ketika beliau sampaikan kepada sahabat Nabi Saw yang bernama Abdurrahman bin Samurah RA sebagai berikut:

قال النبي صلى الله عليه وسلم لعبد الرحمن بن سمرة : لا تطلب الإمارة،  فإنك إن طلبتها وكلت إليها،  وإن أتتك من غير مسألة أعنت عليها متفق عليه .

Nabi Saw bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah RA, “Hai Abdurrahman! Janganlah kau minta kekuasaan!, maka sesungguhnya jika engkau memintanya, maka ia akan menjadi beban bagimu, tetapi jika engkau tidak memintanya engkau akan diberi pertolongan oleh Allah atas kekuasaan itu”. (HR. Muttafaq Alaih).

Hadits di atas mengingatkan kepada kita, bahwa segala apa yang kita lakukan harus dilakukan semata-mata billah. Kepada hal yang jelas-jelas diperbolehkan dan menjadi hak seseorang saja, contoh: kekuasaan atau jabatan, kita tidak diperbolehkan untuk meminta apalagi meminta-mintanya, sebab meminta kekuasaan sama dengan mendahului taqdir Allah dan sikap yang tidak pantas dilakukan oleh siapapun.

Allahu a’lam bis shawab.

Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Said  

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here