Berteman (dalam Kebaikan)

0
20
Oleh: KH. Mohammad Danial Royyan

الصحبة

البحث في علم التصوف من كتاب “إيقاظ” للشيخ العلامة إبن عجيبة الحسني فى شرح كتاب “الجكم” للشيخ العلامة العارف بالله إبن عطاء الله السكندري رحمهما الله تعالى

Kata صحبة berasal dari tasrif: صحب، يصحب، صحبة، صحابة yang berarti menemani, menyertai, memiliki. Isim fail nya adalah صاحب, jamaknya صحب، صحاب، أصحاب. yang berarti sahabat, teman.

Dalam konteks keilmuan, sahabat adalah orang yang selalu menyertai dan menemani dalam kebaikan, dalam suka maupun duka. Seperti Nabi Muhammad saw memiliki para sahabat yang loyal, setia menyertai dan bersama beliau dimana dan kapan pun bahkan hingga akhirat kelak. Imam Syafi’i juga memiliki beberapa murid yang ia sebut أصحابنا yang berarti para sahabatku.

Dalam ilmu tasawuf, kata صحبة sering diartikan sebagai hubungan antara seorang murid dengan guru (mursyid). صاحب kata lain dari guru, yaitu guru dalam ilmu thoriqoh.

Menurut Kiai Danial, ada beberapa lafadz yang memiliki makna معية (berkumpul, bersama), akan tetapi memiliki maksud yang berbeda, yaitu :

  1. صحبة، مصاحبة

yang berarti menyertai, bersama-sama dalam kebaikan;

2. معاملة   

Yang berarti bekerja sama dalam suatu pekerjaan di tengah masyarakat;

 3. مخالطة

Yaitu, berarti berkumpul, bercampur dalam suatu komunitas masyarakat secara luas;

 4. معاشرة

Yang berarti, bergaul dalam suatu keluarga yaitu orang tua, suami, isteri dan anak-anak.

قال إبن عطاء الله رضي الله عنه:
لا تصحب من لا ينهضك حاله، ولا يدلك على الله مقاله .إيقاظ الهمم : ص:٩٥

Syeikh Ibnu Athoillah As-Sakandary RA berkata, “Janganlah engkau berteman dengan seseorang yang tingkah lakunya tidak membangkitkanmu (beribadah kepada Allah), dan seseorang yang perkataannya tidak menjadi petunjuk untuk mengingat Allah”.

Ungkapan di atas mengandung pengertian, bahwa seseorang yang sedang menempuh (salik) perjalanan menuju makrifat kepada Allah, ia harus memiliki seorang guru (mursyid) yang bisa menjadi penuntun baginya, yang selalu menyertai (صحبة) dan selalu bersamanya setiap waktu dimana pun salik berada.

Dengan demikian, perjalanan salik akan sampai (وصول) pada tujuan yang akan dicapai yaitu makrifat kepada Allah SWT. Dan memiliki seorang guru bagi salik adalah wajib hukumnya, sebab guru itulah yang akan selalu membimbingnya sejak awal (bidayah) hingga sampai tercapainya tujuan akhir (nihayah). Sebagaimana kata sebagian ulama Sufi :


قال بعضهم : من لا شيخ له فالشيطان شيخه

“Siapa yang tidak memiliki guru, maka syetan adalah gurunya”

وقال اخر : الإنسان كالشجرة النابتة في الخلاء فإن لم تقطع وتلقم كانت داكرة

Ulama Sufi lain berkata, “manusia itu seperti pohon yang tumbuh di tanah kosong, maka jika pohon itu tidak dipotong atau tidak dimakan buahnya, ia bagaikan tanaman yang tidak memiliki manfaat apa-apa”. Hal senada di-afirmasi oleh Syeikh Abul Abbas Al-Mursy RA (gurunya Syeikh Ibnu Athoillah) :

وقال الشيخ أبو العباس المرسي رضي الله عنه: كل من لا شيخ له في هذا الشأن لا يفرح بها

Syeikh Abul Abbas RA berkata, “Setiap orang yang tidak memiliki guru, dalam kondisi apa pun ia tidak akan merasa bahagia”. Lalu siapa yang layak menjadi guru?
Syeikh Ibnu Athoillah RA berkata :

ومن شروط الشيخ أربعة : علم صحيح، وذوق صريح، وهمة عالية، وحالة مرضية


“Syarat seorang menjadi guru (mursyid) ada 4 yaitu : memiliki ilmu yang benar, dzauq yang jelas, cita-cita yang tinggi dan perilaku yang disenangi”.

Adapun 4 syarat di atas akan dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, ilmu yang benar yaitu seorang mursyid adalah orang yang memiliki ilmu tentang beberapa maqamat (tingkatan-tingkatan) yang harus ditempuh oleh seorang murid, termasuk ilmu tentang sesuatu yang harus dijauhi murid yaitu tentang bujuk rayu nafsu dan tipudayanya yang akan menguasai hatinya;

Kedua, dzauq yang jelas. Yaitu seorang mursyid yang memiliki mata batin yang tajam, ia memiliki ilmu firasat tentang apa saja, termasuk apa yang akan terjadi pada muridnya. Muridnya akan jadi apa? Nasibnya seperti apa, dll. Dzauq juga bisa diartikan bahwa segala ucapan dan perbuatan seorang mursyid mengandung kebenaran;

Ketiga, cita-cita yang tinggi. Hal tersebut terkandung maksud bahwa cita-cita yang akan dicapai oleh seorang mursyid adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah, dan bukan selain-Nya.

Keempat, perilaku seorang guru yang membuat orang lain senang, yaitu ia mampu istiqamah dalam segala kondisi. Pendek kata ia mampu meng-integrasikan di antara hakekat dan syareat dalam perilaku sehari-hari. Kebalikannya seorang tidak syah menjadi guru (mursyid) jika memiliki 5 atau salah satu dari 5 perkara tersebut. Maka, jika ada 1 saja ada pada diri seorang mursyid, akan menjadikan tidak sah keguruannya, yaitu: Pertama, bodoh dalam ilmu agama; Kedua, tidak memiliki kehormatan di depan orang-orang muslim; Ketiga, mengamalkan sesuatu yang tidak berguna; Keempat, selalu mengikuti hawa nafsu, yaitu nafsu duniawi; dan Kelima memiliki akhlak yang buruk. serta tidak memiliki kompetensi sosial.

Allahu a’lam bish shawab.

Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Said

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here