Berserah Secara Kaffah

0
231

Oleh: Imron Samsuharto

Sering kita mendengar seruan tentang sebuah ayat yang memerintahkan agar kita memasuki keislaman secara “kaffah” (total atau keseluruhan). Artinya menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam keselamatan secara sempurna. Ciri utama orang seperti ini adalah memiliki iman dengan meyakini “arkanul iman”, menjalankan ajaran Islam, serta tidak mengikuti bujuk-rayu dan langkah syetan, karena syetan itu merupakan musuh yang nyata.

Simaklah sejenak Alquran surat Albaqarah ayat ke-208: “Ya ayyuhal-ladziina aamanud-khuluu fissilmi kaaffah, walaa tattabi-‘uu khuthuwaatis-syaithoon; innahuu lakum ‘aduwwum-mubiin” yang artinya, “wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.”

Namun demikian, mencari dan melangkah menuju keselamatan itu ternyata sulit bukan main. Istilah “kaffah” mudah diucapkan, dalam praktiknya sangat sulit diwujudkan. Kenapa? Persoalannya adalah bahwa “kaffah” itu meliputi bukan hanya wilayah lahiriah atau hal yang tampak di sisi luar, tetapi juga wilayah batin. Dan jika berbicara mengenai batin ini, persoalan menjadi rumit karena tidak tampak di sisi luarnya, walaupun dalam batas tertentu sisi dalam bisa dirasakan juga dampaknya.

Jika melihat sisi lahiriah, atau simpelnya urusan duniawi, orang gampang tergiur dan larut di dalamnya. Sebagai contoh, betapa banyak orang asyik masyuk menikmati keglamoran mal, supermarket, atau hipermarket yang menawarkan dan menyajikan aneka macam kebutuhan lahiriah atau jasmani. Padahal itu harus dibayar dengan uang. Dan ini berlangsung terus, tiada niatan untuk berhenti menuruti keglamoran tersebut lantaran tak ada batas kepuasan.

Ironisnya, orang Islam pun tak sedikit yang terkecoh serta terlarut dalam urusan keduniawian itu. Gebyar duniawi lebih menarik perhatiannya, sehingga lebih banyak diburu. Sementara majelis-majelis ta’lim atau ilmu agama di masjid atau musholla seperti majelis dzikir, pengajian, kajian ilmu bekal akhirat, yang bersifat rohaniah justru dijauhi.  Hanya sedikit orang yang mau melibatkan diri dalam kegiatan yang bernuansa rohani ini.

Kira-kira mana yang bisa dikategorikan “kaffah” melihat kenyataan ini? Silakan koreksi atau ber-muhasabah sendiri-sendiri, sehingga diketahui jawabannya secara jujur. Sejatinya ada dua tempat sebagai gambaran nyata yang biasa didatangi orang namun melambangkan simbol makna yang kontradiktif di antara keduanya. Dua tempat itu adalah masjid dan pasar. Orang yang datang ke tempat tersebut, tentu punya niat dan maksud tertentu.

Masjid adalah tempat mulia yang sering didatangi orang-orang beriman. Tempat untuk aktivitas batiniah atau bersifat rohaniah. Sedangkan pasar, entah itu tradisional atau modern, lebih dominan dengan tempat ketidakjujuran alias topeng kedustaan. Apa yang dipajang dan ditawarkan di pasar belum tentu sesuai dengan kualitas yang sebenarnya. Sementara syetan musuh yang nyata bagi manusia itu, lebih suka di pasar ketimbang di masjid. Meski tak terlihat, syetan terus dan terus berupaya menjerumuskan manusia. Penegasan ini tampak pada redaksi ayat yang menyinggung tentang “kaffah” tadi. Peringatan keras, janganlah turuti langkah-langkah syetan.

Orang yang “kaffah” senantiasa memelihara dan menghidupkan pikiran dan hatinya. Pikiran terus digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang hak mana yang batil.  Hati dijaga benar-benar agar tidak lengah ditembus oleh bujuk-rayu syetan. Iman menancap kuat di dada. Jika pikiran dan hati itu dipelihara dan dijaga terus dengan sebaik-baiknya, insyaallah selamat. Namun, sekali lagi, hal ini sungguh berat dan sulit bukan kepalang. Bagi orang yang “kaffah”, dunia ini bukan tempat tinggal tapi tempat meninggal. Makanya, tempat yang fana itu dijadikannya sebagai ladang subur untuk menanam amal kebajikan.

Jadi, orang yang mengaku dirinya beriman, mengaku Islam tetapi masih juga berbuat negatif-mencaci, menyakiti, menyalahkan orang lain, menggunjing, menjelek-jelekkan pihak lain, iri, dengki, hasud, sombong, membanggakan diri secara berlebihan, berdusta, menyalahgunakan wewenang/jabatan, korupsi, dan sebagainya–berarti belum dikategorikan “kaffah”.

Disarikan dari pengajian Ahad Pagi, 18 November 2018, di Masjid Baitul Istighfar, Gondoriyo Ngaliyan, Semarang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here