Berebut Panggung

0
402

Oleh: Mudjahirin Thohir

SEKITAR empat setengah tahun lalu, Jokowi bersaing dengan Prabowo untuk memperebutkan panggung kepresidenan RI. Saat itu, keduanya berangkat dengan modal yang sama, sama-sama belum pernah menjadi presiden sebelumnya. Kendatipun begitu, Jokowi dinyatakan sebagai pemenangnya.

Efek langsung atau tidak langsung dari kekalahan Prabowo adalah pada proses dan hasil pemilihan kepemimpinan di parlemen. Kalau menurut konvensi, partai yang memiliki jumlah kursi terbanyaklah yang diberi peluang menjadi ketua DPR. Namun tidak untuk saat itu. Maka Novanto, lalu Fadli Zon, dan Fahri Hamzah, menjadi ketua dan wakil ketua.

Tahun ini, kendati menggandeng figur calon wakil presiden yang berbeda, Jokowi dan Prabowo bersaing lagi yang kedua kali untuk memperoleh jabatan sebagai presiden. Persaingan kali ini, tentu banyak bedanya dengan lima tahun lalu.

Meski mereka punya keinginan sama — menjadi presiden — titik berangkat masing-masing berdasar modal berbeda. Jokowi secara riil telah lebih dahulu memiliki modal sebagai presiden petahana. Tentu selama hampir lima tahun itu, Jokowi selain sudah membuat jejaring “laba-laba” bagaimana mengamankan posisinya, juga telah berkesempatan melakukan apa yang seharusnya dan sepatutnya dilakukan sebagai wujud prestasi. Tentu, secara keseluruhan itu bisa dilihat sebagai kelebihan atau kekurangan. Namun yang jelas, partai pendukungnya jauh lebih banyak daripada saat dia berangkat lima tahun lalu.

Pada saat yang sama, Prabowo sebagai penantang tunggal, tertinggal dalam konteks itu. Menurut hitungan normal, strategi untuk memenangkan persaingan kedua ini, tentu harus dengan cara-cara yang tidak konvensional. Perlu kerja cerdas untuk mengatasi kekalahan kali kedua. Apalagi ada ungkapan sarkartis, “hanya keledai yang gagal kali kedua untuk hal yang sama”.

UNGKAPAN itu, nampaknya juga menggerus energi pihak-pihak yang berkepentingan, seperti tim sukses dan para partisipan. Tim Jokowi, termasuk para suporter, melihat itu sebagai ancaman di balik persaingan.

Akibat “kebatinan” di balik persaingan kali kedua ini, suasana tampak semakin menegang. Kedua belah kubu, yang resmi atau tidak resmi, karena sekedar menjadi partisipan informal, ikut-ikutan menyuarakan apa saja. Suara yang memekakkan dan bernada sumbang. Yang muncul suara “terlalu memuji” atau “terlalu membenci”. Lihat dan dengarkan perdebatan antar pendukung ketika berkesempatan dilayarlebarkan. Sepertinya, antar kandidat presiden itu saling dinisbatkan kalau tidak sebagai tokoh protagonis oleh pendukung, ya sebagai tokoh antagonis bagi pembencinya.

Suasana ‘panas’ itu juga menghiasi isi berbagai sosial media yang ada, seperti facebook maupun group WA. Imbauan “saring sebelum sharing”, kehilangan rohnya. Hari-hari ini, kita melihat ada warga biasa, misuh-misuh dengan men-caption ucapan-ucapan tokoh dari kalimat asli sehingga berlawanan dengan makna sebenarnya. Padahal hari-hari ini, baru pada plot tanjakan menurut bahasa novelnya. Bagaimana pula ketika sampai pada titik krisisnya. Padahal ke-waras-an kita menghendaki, agar pilpres ini berakhir happy ending.
Harapan menjadi happy ending ini – secara kontemplatif diupayakan dengan sangat cerdas oleh Mbah Moen ketika memanjatkan doa. Dia tidak larut mengikuti lorong yang mudah ditebaknya. Dia dengan isyarah mewujudkan kaidah nahdliyah, “dar’ul mafasid, muqqodamun alal jalbil masholeh”. Ini kesan saya. Tentu banyak orang salah paham, termasuk orang yang sok mengerti lalu meradang lewat puisi.
Ketika ada orang yang salah paham untuk pesan yang ingin dituju, sekali lagi Mbah Moen dengan kemakrifatannya, meluruhkan emosi orang, “saya sudah tua”. Kata lain kalau pahammu begitu, bukankah “al insanu mahallul khotho’ wa nisyan”.
Suatu ekspresi kearifan yang dalam ungkapan Gus Dur, “Gitu aja kok repot”. Suatu “jebakan” yang bisa mengubah kebencian menjadi senyuman. 
Mirip dengan lirik puisi “Kestiakawaanan Asia-Afrika” Remy Silado, berikut ini.

Kesetiakawanan Asia-Afrika
Mei Hwa perawan 16 tahun, Farouk perjaka 16 tahun. Mei Hwa masuk kamar jam 24.00, Farouk masuk kamar jam 24.00. Mei Hwa buka blouse, Farouk buka hemd. Mei Hwa buka rok, Farouk buka celana. Mei Hwa buka BH, Farouk buka singlet. Mei Hwa telanjang bulat, Farouk telanjang bulat. Mei Hwa pakai daster, Farouk pakai kamerjas. Mei Hwa naik ranjang, Farouk naik ranjang. Lantas mereka tidurlah Mei Hwa di Taipeh, Farouk di Kairo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here