Berani Tarung Fisik dengan NU, Ditanggung: Bongmahmu, Nyorkemu, Pekjomu

0
101
Oleh: Shuniyya Ruhama

Geger keributan di Kantor PCNU Kota Solo ketika sejumlah massa berusaha membuat ricuh di depan kantor tersebut.

Jadi keingetan cerita dari Guru Mulia KH Ahmad Subarjo Jogja ketika kejadian 1965-1967. Di saat komunitas NU yang minoritas di suatu desa dikepung oleh segerombolan pasukan underbow PKI. Waktu itu beliau masih belia.

Oleh Kyai, warga dikumpulkan di musholla dan diberi batas patok kayu yang dihalangi dengan tali debog (pelepah pisang).

Beliau mendoai sumur yang ada. Warga hanya bisa minum air tersebut tanpa makan apapun. Konon rasanya berubah jadi sangat segar. Sambil menunggu bantuan tentara dan massa datang.

Oleh Kyai, jamaah diajarkan wiridan:
bongmahmu
nyorkemu
pekjomu,
yang dibaca secara berjamaah dengan bergiliran. Tentu saja warga hanya taat walau tidak ngerti maksudnya.

Selama blokade itu, memang tak satupun serangan datang. Menurut pelakunya, mereka menyaksikan ada semacam ninja yang menjaga Musholla itu 24 jam sehari selama pengepungan. Padahal tidak ada satu wargapun yang melihat ninja itu.

Setelah bantuan datang, warga keluar Musholla dan ikut menyerang balik perusuh itu.

Penasaran dengan wiridan tidak lazim, Kyai Barjo muda bertanya kepada Kyai sepuh. Ternyata jawabannya antik sekali:

Bongmahmu = kobong omahmu
Nyorkemu = nyonyor cangkemu
Pekjomu = dipek bojomu

Ternyata kejadiannya persis seperti itu… Banyak rumah anggota PKI dan underbownya yang dibakar dan dirobohkan massa. Banyak anggotanya yang dijadikan sasaran amuk massa hingga benar-benar nyonyor. Dan banyak janda dari mereka yang akhirnya dinikahi oleh warga lain.

Berharap sekali kejadian ini tidak berulang. Jangan nantang perkoro dengan NU. Kalau NU dan seluruh pasukannya sudah bergerak, bisa-bisa bongmahmu nyorkemu pekjomu akan terulang kembali.

Salam damai Indonesia kita..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here