BENARKAH DAGING BABI ITU AMAN DIKONSUMSI?

0
412

Oleh : Muhammad Danial Royyan

A. Latar Belakang Masalah

Sebuah kabar mengejutkan datang dari DPD PDIP Bali yang hari Selasa 21 Maret 2017 lalu menggelar acara santap bersama babi guling.
Acara yang berlangsung di kantor DPD PDIP Bali di kawasan Renon, Denpasar ini bertujuan untuk mensosialisasikan bahwa babi aman untuk dikonsumsi. Acara yang digagas Wakil Ketua DPD PDIP Nyoman Parta itu dihadiri pakar peternakan Universitas Udayana dan awak media sembari menyantap babi guling bersama. Parta mengatakan, babi bukanlah penyebab tunggal meningitis. Di samping babi, masih ada bakteri, virus, jamur, dan parasit sebagai penyebab radang pada selaput otak (meningitis). Ia menyerukan kepada masyarakat agar jangan lagi takut mengonsumsi babi. Asalkan babi dimasak benar-benar matang, tentu saja aman bagi tubuh. “Jadi, salah besar kalau mengkambinghitamkan babi,” kata Parta bersemangat.

B. Pertanyaan :

1. Bagaimana status hukum makan daging babi?
2. Apakah yang dimaksud “Aman dikonsumsi” itu sama dengan halal? Dan apakah dengan demikian makan daging babi menjadi halal?
3. Bagaimana hubungannya dengan Qaidah Fiqhiyyah yang berbunyi :
الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

“Hukum itu berjalan seiring dengan illat (alasan)-nya baik secara positif atau negatif”?
4. Bagaimana hukumnya pengobatan dengan menggunakan unsur babi seperti insulin bagi pengidap penyakit gula ?

B. Jawaban :

1. Status hukum haramnya makan daging babi termasuk Hukum Qath’iy (hukum pasti), karena telah dinash dengan lafadz yang jelas (shorieh) dalam Al-Qur’an dan Hadits dan telah diijmakkan oleh imam-imam madzhab tanpa ada ikhtilaf di antara mereka dan tidak boleh pula untuk diikhtilafkan. Dia bukan hukum Dhanny yang mungkin bisa berubah dengan alasan zaman atau ruang.

Ayat-ayat yang menyebutkan haramnya makan daging babi sebagai berikut :

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ البقرة- ١٧٣

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ – المائدة ٣

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

 Hadist Pengharaman Daging Babi

عن جابر بن عبد الله أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم عام الفتح وهو بمكة يقول : إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام فقيل : يا رسول الله ، أرأيت شحوم الميتة ، فإنه يطلى بها السفن ، ويدهن بها الجلود ، ويستصبح بها الناس ؟ قال : لا ، هو حرام ، ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عند ذلك : قاتل الله اليهود ، إن الله حرم عليهم الشحوم ، فأجملوه ، ثم باعوه ، فأكلوا ثمنه اخرجه البخاري ومسلم

Dari Jabir bin Abdullah RA ia mendengar Rasulullah SAW bersabda pada tahun penaklukan, ketika beliau masih berada di Mekah: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan khamar, bangkai, babi dan berhala. Lalu beliau ditanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai yang digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit dan banyak orang menyalakan lampu dengannys? Beliau menjawab: Tidak, babi itu haram. Kemudian Beliau bersabda : Semoga Allah memerangi kaum Yahudi. Sungguh Allah mengharamkan lemak babi atas mereka, tetapi mereka membolehkannya, lalu menjualnya dan memakan hasil penjualannya. (Shahih Muslim No.2960).

2. Yang dimaksud “aman untuk dikonsumsi” bahwa dengan menggunakan metoda pengolahan tertentu atau dengan cara lain seperti sistem cloning, daging babi bisa terlepas dari bakteri, virus, jamur, dan parasit sebagai penyebab radang pada selaput otak (meningitis), tetapi tetap saja hukumnya haram karena termasuk kategori hukum Qath’iy yang tidak mungkin berubah.

Semua agama samawi baik yahudi, nasrani dan Islam, sepakat memposisikan babi sebagai lambang kebusukan dan kenajisan. Babi adalah binatang yang terkadang memakan kotorannya sendiri. Sementara binatang lainnya tidak ada yang bersifat demikian. Binatang lain lebih memilih mati dari pada memakan kotorannya sendiri. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa di antara alasan hukum diharamkannya babi karena dia binatang yang menjijikkan (Mustaqdzar).

Babi adalah binatang yang paling tidak punya malu di muka bumi. Ia adalah satu-satunya binatang yang mengundang teman-temannya untuk melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Di Amerika, kebanyakan orang mengkonsumsi babi sering kali setelah pesta dansa, mereka saling bertukar isteri; yaitu banyak yang berkata “Anda tidur dengan istri saya dan saya akan tidur dengan istri anda.” Jika orang memakan daging babi maka dia akan berkelakuan seperti babi. Dengan demikian, juga diketahui bahwa di antara alasan hukum diharamkannya daging babi adalah karena kalau dimakan maka akan menghilangkan rasa malu, padahal malu itu termasuk bagian iman, sebagaimana pernah diuraikan oleh Dr. Maurice Bucaille, oreintalis dari Perancis yang kemudian masuk Islam.

3. Qaidah Fiqhiyyah yang berbunyi :

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

“Hukum itu berjalan seiring dengan illat (alasan)-nya baik secara positif atau negatif”. Qaidah ini berkaitan dengan Hukum Dhanny yaitu hukum yang bisa berubah dengan menyesuaikan dengan zaman dan ruang, tidak berkaitan dengan Hukum Qath’iy seperti hukum haramnya memakan daging babi.

4. Pengobatan dengan benda najis seperti insulin babi menurut hukum asalnya adalah haram. Tetapi apabila dalam keadaan darurat, seperti penggunaan insulin babi bagi pengidap penyakit diabetes, atau untuk injeksi anti miningitis bagi calon jamaah haji atau umrah adalah diperbolehkan dalam keadaan darurat, karena belum ditemukannya insulin binatang selain insulin babi atau cairan lain yang bisa untuk itu. Demikian pendapat Imam Izzuddin bin Abdussalam dalam kitab Qawaidul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ dan Syekh Wahbah Al- Zuhaily dalam kitab Al-Fiqhul Islami.

C. Referensi :

١. فالأصل في التداوي بالمحرمات والنجاسات الحرمة، لعموم الأدلة في ذلك، كقوله صلى الله عليه وسلم: ” إن الله أنزل الداء والدواء، وجعل لكل داء دواء، فتداووا ولا تداووا بحرام” رواه أبو داود، وقول أبي هريرة رضي الله عنه ” نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الدواء الخبيث” رواه أحمد وأبو داود والترمذي. لكن عند الضرورة يجوز التداوي بها، والدليل على ذلك: الأدلة العامة على إباحة المحرم للمضطر، كقول الله سبحانه ( وقد فصل لكم ما حرم عليكم إلا ما اضطررتم إليه) [الأنعام:119] ففي هذه الآية وغيرها دليل على إباحة تناول المحرمات عند الاضطرار. قال العز بن عبد السلام رحمه الله ( جاز التداوي بالنجاسات إذا لم يجد طاهراً يقوم مقامها، لأن مصلحة العافية والسلامة أكمل من مصلحة اجتناب النجاسة) انتهى من قواعد الأحكام.  ويستثنى من المحرمات الخمر فإنه لا يجوز التداوي بها حتى عند الضرورة ، للأحاديث الخاصة التي نهت عن التداوي بها، وبينت أنها داء، وليست بدواء كقول النبي صلى الله عليه وسلم في الخمر ” إنه ليس بدواء ولكنه داء ” رواه مسلم .
قال النووي في المجموع : إذا اضطر إلى شرب الدم أو البول أو غيرهما من النجاسات المائعة غير المسكر، جاز شربه بلا خلاف… إلى أن قال: وإنما يجوز التداوي بالنجاسة إذا لم يجد طاهراً يقوم مقامها، فإن وجده حرمت النجاسة بلا خلاف، وعليه يحمل حديث ” إن الله لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم” فهو حرام عند وجود غيره، وليس حراماً إذا لم يجد غيره . وإنما يجوز ذلك إذا كان المتداوي عارفاً بالطب، يعرف أنه لا يقوم غير هذا مقامه، أو أخبره بذلك طبيب موثوق بخبرته. وعليه: فإنه لا يجوز المعالجة بشحم الخنزير كما لا يجوز التداوي بأي جزء من أجزائه لأي سبب، لأن الخنزير نجس العين، وكل ما يخرج منه من مائعات وغيرها نجس، إلا إذا كان هناك ضرورة للعلاج به. بشرط أن لا يوجد من الأدوية المباحة ما يقوم مقامه، وأن يخبرك طبيب ثقة أن هذا الدواء نافع لهذا المرض، وأنه لا يوجد له بديل مباح. والله أعلم.

٢. فإذا ثبت أن الحقن المذكورة تحتوي على مستخلصات من الخنزير أو الحيوان غير المذكى ذكاة شرعية أو الميتات أو الإنسان، فلا يجوز التداوي بها إلا إذا لم يوجد سبيل للاستشفاء بغيرها، لأن الأصل في التداوي بالنجاسات الحرمة، لكن رحمة الله تعالى واسعة، فقد أباح للمضطر المحرمات عند الضرورة، فقال تعالى: وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ {الأنعام:119}، ويمكن معرفة تركيب هذا الدواء (الأنسولين)، عن طريق سؤال أهل الخبرة والمعرفة من الأطباء والصيادلة، ولا يكتفى بمثل هذا بما يتداوله عوام الناس، وللفائدة راجع الفتوى رقم: 6104.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here