ASWAJA vs KHAWARIJ : Deradikalisasi Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA

1
364

Deradikalisasi adalah segala upaya untuk menetralisir paham-paham radikal melalui pendekatan interdisipliner, seperti ilmu pengetahuan, hukum, psikologi, agama, dan sosial-budaya bagi mereka yang dipengaruhi oleh paham radikal atau prokekerasan.

Gerakan deradikalisasi memiliki tujuan untuk penanggulangan proses radikalisasi, mencegah provokasi, penyebaran kebencian, permusuhan antar umat beragama, mencegah masyarakat dari indoktrinasi, meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk menolak paham radikalisme, dan memperkaya khazanah keilmuan tentang perbandingan paham.

Kaum Khawarij adalah sekte pertama yang menyimpang dalam sejarah Islam dan bercorak radikal, bahkan menjadi induk paham radikalisme. Kelompok-kelompok Islam Radikal pada dewasa ini menjadi makmum bagi Khawarij. Mereka muncul pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA, dan mendeklarasikan diri sebagai oposisi terhadap pemerintaha yang sah. Nabi SAW pernah berwasiat khusus mengenai kaum Khawarij, dalam hadits sebagai berikut :

تمرق مارقة على حين فرقة من أمتي تحقر صلاة أحدكم مع صلاتهم، وقراءته مع قراءتهم، يمرقون من الإسلام مروق السهم من الرمية، أينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجراً لمن قتلهم

“Telah keluar satu golongan saat terjadi perpecahan di antara umatku. Sholat salah seorang di antara kalian akan menjadi remeh dibanding shalat mereka. Baca’an Al Qur’an kalian remeh dibanding bacaan mereka. Mereka itu keluar dari agama ini sebagaimana keluarnya panah dari busurnya. Di manapun kalian menemui mereka, bunuhlah mereka. Karena membunuh mereka itu berpahala bagi yang membunuhnya” (HR. Bukhari 3611).

Salah satu aqidah kaum Khawarij adalah mengkafirkan orang mukmin yang melakukan dosa besar, dan meyakininya kekal di neraka. Demikian ciri khas kaum khawarij, yaitu terlalu mudah memvonis kafir kepada seorang Muslim. Dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah, mengkafirkan para sahabat dan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka.

Bahkan sebelumnya, mereka telah melakukan pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin ‘Affan RA hingga terbunuh. Salah satu sifat mereka adalah gemar mencari-cari kesalahan penguasa. Mereka juga berpendapat wajibnya menggulingkan penguasa yang mereka anggap salah dan dhalim. Sebagaimana ketika mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib dan ingin menggulingkannya, dengan alasan bahwa Ali telah berhukum kepada selain hukum Allah, yaitu berhukum kepada manusia. Mereka berdalil dengan ayat berikut :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir”. (QS. Al Maidah: 44).

Ada salah satu sahabat Nabi SAW yang menjadi staf khusus khalifah Ali bin Abi Thalib, yakni Abdullah bin ‘Abbas RA, seorang ulama yang pakar hukum (faqih) di kalangan para sahabat Nabi, merasa perlu untuk berdiskusi dengan kaum khawarij dalam rangka mendebat mereka dan mematahkan argumen mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengirim Abdullah bin Abbas kepada orang-orang Khawarij untuk bermunadharah dengan mereka sebagai awal gerakan deradikalisasi terhadap radikalisme khwarij yang mereka anut.

وقال ابن عباس رضي الله عنهما يصفهم حينما دخل عليهم لمناظرتهم: “دخلت على قوم لم أر قط أشد منهم اجتهادًا، جباههم قرحة من السجود، وأياديهم كأنها ثفن الإبل، وعليهم قمص مرحضة مشمرين، مسهمة وجهوههم من السهر”.
Ibnu Abbas menerangkan kaum khawarij ketika datang kepada mereka untuk berdebat dengan mereka dan berkata : “Aku telah berada di tengah suatu kaum (khawari), belum pernah kujumpai orang yang sangat bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta (kapalan). Di atas tubuh mereka yang mengelin pakaian itu, ada baju-baju yang kumal. Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur (menghabiskan malam untuk beribadah)”.

Berikut ini munadharah antara Abdullah bin ‘Abbas dengan kaum Khawarij yang diriwayatkan oleh Imam An Nasai dalam kitab Khashàishu Amiril Mukiminin Ali bin Abi Thalib, dengan sanad yang hasan;

أخبرنا عمرو بن علي قال حدثنا عبد الرحمن بن مهدي قال حدثنا عكرمة بن عمار قال حدثني أبو زميل قال حدثني عبد الله بن عباس قال : لما خرجت الحرورية اعتزلوا في دار وكانوا ستة آلاف فقلت لعلي يا أمير المؤمنين أبرد بالصلاة لعلي أكلم هؤلاء القوم قال إني أخافهم عليك قلت كلا

‘Amr bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata, ‘Abdurrahman bin Mahdi menuturkan kepadaku, Ikrimah bin ‘Ammar berkata, Abu Zamil menuturkan kepadaku, ia berkata : Abdullah bin ‘Abbas berkata: Ketika kaum Haruriyyah (Khawarij) memberontak, mereka berkumpul menyendiri di suatu daerah. Ketika itu mereka ada sekitar 6000 orang. Maka aku pun berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib: “wahai Amirul Mu’minin, tundalah shalat zhuhur hingga matahari tidak terlalu panas, mungkin aku bisa berbicara dengan kaum (Khawarij)”. Ali berkata: “aku mengkhawatirkan mereka mengancam keselamatanmu”. Aku berkata: “tidak perlu khawatir”

فلبست وترجلت و دخلت عليهم في دارهم نصف النهار وهم يأكلون فقالوا مرحبا بك يا ابن عباس فما جاء بك قلت لهم أتيتكم من عند أصحاب النبي المهاجرين والأنصار ومن عند ابن عم النبي وصهره وعليهم نزل القرآن فهم أعلم بتأويله منكم و ليس فيكم منهم أحد لأبلغكم ما يقولون وأبلغهم ما تقولون فانتحى لي نفر منهم

Aku lalu memakai pakaian yang bagus dan berdandan. Aku sampai di daerah mereka pada waktu tengah hari, ketika itu kebanyakan mereka sedang makan. Mereka berkata: “marhaban bik (selamat datang) wahai Ibnu ‘Abbas, apa yang membuatmu datang ke sini?”. Aku berkata: “Aku datang mewakili para sahabat Nabi dari kaum Muhajirin dan Anshar dan mewakili anak dari paman Nabi (Ali bin Abi Thalib). Merekalah yang menyertai Nabi, Al Qur’an di turunkan di tengah-tengah mereka, dan mereka lah yang paling memahami makna Al Qur’an. Dan tidak ada salah seorang pun dari kalian yang termasuk sahabat Nabi. Akan aku sampaikan perkataan mereka kepada kalian dan akan kusampaikan perkataan kalian kepada mereka”. Lalu sebagian dari mereka mennyingkir agar tidak mendengar pembicaraanku.

 

قلت هاتوا ما نقمتم على أصحاب رسول الله وابن عمه قالوا ثلاث قلت ما هن قال أما إحداهن فانه حكم الرجال في أمر الله وقال الله إن الحكم إلا لله (الأنعام 57 ، يوسف 40-67) ما شأن الرجال والحكم قلت هذه واحدة قالوا وأما الثانية فانه قاتل ولم يسب ولم يغنم إن كانوا كفارا لقد حل سبيهم و لئن كانوا مؤمنين ما حل سبيهم و لا قتالهم قلت هذه ثنتان فما الثالثة وذكر كلمة معناها قالوا محى نفسه من أمير المؤمنين فإن لم يكن أمير المؤمنين فهو أمير الكافرين قلت هل عندكم شيء غير هذا قالوا حسبنا هذا

Aku berkata lagi: “sampaikan kepada saya apa alasan kalian memerangi para sahabat Rasulullah dan anak dari pamannya (Ali bin Abi Thalib)?”. Mereka menjawab: “ada 3 hal”. Aku berkata: “apa saja?”. Mereka menjawab: “Pertama: ia telah menjadi hakim dalam urusan Allah, padahal Allah Ta’ala berfirman: “sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah ” (QS. Al An’am: 57, Yusuf: 40). Betapa beraninya seseorang menetapkan hukum!”. Aku berkata: “ini yang pertama, lalu?”. Mereka menjawab: “Kedua: ia memimpin perang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan tawanan dan tidak mengambil ghanimah. Padahal jika memang ia memerangi orang kafir maka halal tawanannya. Namun jika yang diperangi adalah orang mukmin maka tidak halal tawanannya dan tidak boleh diperangi”. Aku berkata: “ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?”. (Ketiga) Mereka menyampaikan perkataan yang intinya kaum Khawarij berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib telah menghapus gelar Amirul Mu’minin dari dirinya, dengan demikian ia adalah Amirul Kafirin. Aku lalu berkata: “apakah masih ada lagi alasan kalian?”. Mereka menjawab: “itu sudah cukup”.

قلت لهم أرأيتكم إن قرأت عليكم من كتاب الله جل ثناءه وسنة نبيه ما يرد قولكم أترجعون قالوا نعم قلت أما قولكم حكم الرجال في أمر الله فإني أقرأ عليكم في كتاب الله أن قد صير الله حكمه إلى الرجال في ثمن ربع درهم فأمر الله تبارك وتعالى أن يحكموا فيه أرأيت قول الله تبارك وتعالى يا أيها الذين آمنوا لا تقتلوا الصيد وأنتم حرم ومن قتله منكم متعمدا فجزاء مثل ما قتل من النعم يحكم به ذوا عدل منكم ، المائدة 95

Aku berkata: “bagaimana menurut kalian jika aku membacakan kitabullah dan sunnah Nabi-Nya yang akan membantah pendapat kalian? apakah kalian akan rujuk (taubat)?”. Mereka berkata: “ya”. Aku katakan: “adapun perkataan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib telah menunjuk manusia sebagai hakim dalam perkara Allah, aku kan membacakan Kitabullah kepada kalian bahwa Allah telah menyerahkan hukum kepada manusia dalam seperdelapan seperempat dirham. Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan untuk berhukum kepada manusia dalam hal ini. tidakkah kalian membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala (yang artinya): ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu‘‘‘ (QS. Al Maidah: 95)”

وكان من حكم الله انه صيره إلى رجال يحكمون فيه ولو شاء يحكم فيه فجاز من حكم الرجال أنشدكم بالله أحكم الرجال في صلاح ذات البين وحقن دمائهم أفضل أو في أرنب قالوا بلى هذا أفضل وفي المرأة وزوجها وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله وحكما من أهلها النساء 35 فنشدتكم بالله حكم الرجال في صلاح ذات بينهم وحقن دمائهم افضل من حكمهم في بضع امرأة خرجت من هذه قالوا نعم

Ada di antara hukum Allah yang Allah serahkan putusannya kepada manusia. Andaikan Allah mau, tentu Allah bisa memutuskan saja hukumnya. Namun Allah membolehkan berhukum kepada manusia. Demi Allah aku bertanya kepada kalian, apakah putusan hukum seseorang dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai atau dalam menjaga darah kaum muslimin atau dalam masalah daging kelinci itu afdhal? Mereka menjawab: “iya, tentu itu afdhal”. Dalam masalah pertikaian suami istri, “Dan bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (penengah yang memberi putusan) dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga wanita”. (QS. An Nisaa: 35). Demi Allah aku telah bacakan kepada kalian diperintahkannya berhukum kepada manusia dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai dan dalam menjaga darah mereka, dan itu lebih afdhal dari pada hukum yang diputuskan beberapa wanita. Apakah alasanmu sudah terjawab dengan ini? Mereka menjawab: “Ya”.

قلت وأما قولكم قاتل ولم يسب ولم يغنم أفتسبون أمكم عائشة تستحلون منها ما تستحلون من غيرها وهي أمكم فإن قلتم إنا نستحل منها ما نستحل من غيرها فقد كفرتم وان قلتم ليست بأمنا فقد كفرتم النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم وأزواجه أمهاتهم الأحزاب 6 فأنتم بين ضلالتين فأتوا منها بمخرج افخرجت من هذه قالوا نعم

Aku berkata: “adapun perkataan kalian bahwa Ali berperang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, saya bertanya, apakah kalian akan menawan ibu kalian ‘Aisyah? Apakah ia halal bagi kalian sebagaimana tawanan lain halal bagi kalian? Jika kalian katakan bahwa ia halal bagi kalian sebagaimana halalnya tawanan yang lain, maka kalian telah kufur. Atau jika kalian katakan ia bukan ibumu, kalian kafir. ‘Nabi itu (hendaknya) lebih berhak bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin)‘ (QS. Al Ahdzab: 6). Maka kalian berada di antara dua kesesatan, coba kalian pilih salah satu? Apakah ini sudah menjawab alasan kalian?”. Mereka menjawab: “ya”.

وأما محي نفسه من أمير المؤمنين فأنا آتيكم بما ترضون إن نبي الله يوم الحديبية صالح المشركين فقال لعلي اكتب يا علي هذا ما صالح عليه محمد رسول الله قالوا لو نعلم انك رسول الله ما قاتلناك فقال رسول الله امح يا علي اللهم انك تعلم إني رسول الله امح يا علي واكتب هذا ما صالح عليه محمد بن عبد الله ، والله لرسول الله ص خير من علي و قد محى نفسه و لم يكن محوه نفسه ذلك محاه من النبوة أخرجت من هذه قالوا نعم

Ibnu Abbas berkata : “Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus gelar Amirul Mu’minin darinya, maka aku akan sampaikan hal yang kalian ridhai. Bukankah Nabi SAW pada Hudaibiyah membuat perjanjian dengan kaum Musyrikin. Rasulullah berkata kepada Ali, “tulislah wahai Ali, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah”. Namun kaum musyrikin berkata, “tidak! andai kami percaya bahwa engkau Rasulullah,  tentu kami tidak akan memerangimu”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu hilangkan tulisan “Rasulullah” wahai Ali. Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa aku adalah Rasul Allah. Hapus saja, wahai Ali. Dan tulislah, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah”. Padahal Rasulullah SAW tentu lebih utama dari Ali. Namun beliau sendiri pernah menghapus gelar “Rasulullah”. Namun penghapusan gelar tersebut ketika itu tidak menghapus kenabian beliau. Apakah alasan kalian sudah terjawab dengan ini?”. Mereka berkata: “ya”.

فرجع منهم ألفان وخرج سائرهم فقتلوا على ضلالتهم قتلهم المهاجرون والأنصار

Ibnu Abbas berkata : “maka bertaubatlah sekitar dua ribu orang di antara mereka, dan sisanya tetap memberontak. Mereka akhirnya terbunuh dalam kesesatan mereka. Kaum Muhajirin dan Anshar lah yang membunuh mereka”.

Semoga kita semua dapat melanjutkan gerakan deradikalisasi terhadap radikalisme wahabi takfiri sebagaimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib telah melakukannya terhadap radikalisme khawarij. Àmien.

Muhammad Danial Royyan.

1 KOMENTAR

  1. Saya mau bertanya :
    1. Apa hukumnya puasa 40 hari?.
    2. Apa hukumnya Yasinan?.

    Yasinan yang dimaksud acara Yasinan bukan membaca Yasin.
    Terima kasih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here