
Oleh: Syamsul Ma’arif
Setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai hari santri untuk mengenang perjuangan dan peran santri bagi negeri. Momentum peristiwanya adalah Resolusi Jihad yang digemakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Satu peristiwa penting yang membakar semangat pejuang dalam mengusir penjajah pada periswita pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Namun, sejarah santri tidak hanya tercermin dalam pertempuran bersenjata. Jauh sebelum masa Perang Kemerdekaan (1945-1949), semangat jihad keilmuan dan perjuangan kultural telah tumbuh kuat di pesantren-pesantren Jawa, termasuk di kendal. Sebuah daerah di pesisir utara Jawa Tengah yang ternyata pernah menjadi tuan rumah Konferensi Nahdlatul Ulama pada tahun 1938.
Sebuah surat kabar berbahasa Belanda, Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 12 April 1938, memuat laporan terkait rencana Konferensi Nahdlatul Ulama seluruh Jawa Tengah yang rencananya akan diadakan 22 sampai 25 April 1938. Menurut salah seorang pegiat sejarah di Kudus, peristiwa ini juga dihadiri oleh KH. Hasyim Asy'ari yang menjabat sebagai Rais Akbar pada waktu itu. Tokoh penting Nahdlatul Ulama lainnya yang hadir adalah KH. Bisri Syansuri, KHR. Asnawi Kudus, KH. Mahfud Siddiq dan KH. Kholil Lasem. Laporan tersebut berbunyi:
"Konferensi Nahdlatul Ulama Di Kendal
Beberapa waktu yang lalu kami telah memberitakan rencana dari pengurus perkumpulan Nahdlatul Ulama untuk menyelenggarakan sebuah konferensi di Provinsi Jawa Tengah, di mana semua cabang di provinsi ini akan diwakili.
Sehubungan dengan hal itu, kini kami menerima kabar bahwa konferensi tersebut akan diselenggarakan dari tanggal 22 sampai dengan 25 April mendatang di Kendal.
Konferensi ini akan dipimpin oleh Tuan Haji Abduldjalil, wakil perkumpulan tersebut di Kudus.
Programnya belum ditetapkan, namun kami memperoleh keterangan bahwa selama konferensi ini juga direncanakan diadakan satu atau lebih rapat umum, di mana akan disampaikan ceramah-ceramah keagamaan."
Laporan ini walaupun menyebutkan bahwa program dari konferensi belum ditetapkan, tetapi memiliki makna historis yang sangat besar, terlebih bagi kalangan santri dan komunitas pesantren di Kendal. Hal ini menandakan bahwa pada tahun 1938, setelah 12 tahun Nahdlatul Ulama berdiri di Surabaya, jaringan organisasi ini sudah meluas ke Jawa Tengah, di mana Kendal termasuk daerah penting dalam peta pergerakan tersebut.
Dokumen terkait Nahdlatul Ulama Kendal yang paling tua sebelumnya saya temukan di Arsip Nasional Indonesia. Dalam dokumen Inventaris Arsip Nahdlatul Ulama 1948-1979 yang diterbitkan oleh Direktorat Pengolahan Deputi Bidang Konservasi Arsip tahun 2015 disebutkan pada halaman 163 terkait Surat dari DPC Masyumi kepada PCNU Bagian Tanfidziyah, Kendal mengenai laporan MWCNU PCNU Pegandon tentang rapat umum GPII di Pegandon.
Temuan berita terkait konferensi nahdlatul ulama jawa tengah di kendal tahun 1938 ini menjadi dokumen tertua yang memuat NU Kendal. Artinya Nahdlatul Ulama Kendal tahun 1938 telah mapan secara organisai, kepengurusan yang stabil, basis jamaah kuat, dan dukungan insfrastuktur keagamaan memadai.
NU pada Masa Kolonial
Tahun 1938 adalah tahun pergerakan, di mana banyak bermunculan organisasi-organisasi pergerakan yang membawa identitasnya masing-masing untuk perjuangan. Tahun 1905 berdiri Sarekat Dagang Islam, kemudian tahun 1908 berdiri Boedi Oetomo. Lalu Nahdlatul Ulama berdiri tahun 1926, didirikan oleh Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari yang menghimpun para komunitas Islam pesantren.
Organisasi Nahdlatul Ulama melakukan perjuangan melalui jalur sosial-keagamaan, dengan banyak mendirikan lembaga pendidikan, madrasah, dan musyawarah keulamaan. Nahdlatul Ulama mengukuhkan peranannya sebagai penjaga tradisi Islam Nusantara.
Konferensi Nahdlatul Ulama Jawa Tengah di Kendal menggambarkan perlawanan kultural tersebut. Para ulama tidak menentang penjajah dengan senjata, tapi dengan ilmu dan solidaritas. Mereka menyatukan pandangan tentang pendidikan Islam, pengajaran kitab kuning, dan persoalan umat yang semakin kompleks akibat modernisasi. Dalam konteks kolonial, forum seperti ini adalah bentuk "jihad damai" dengan memperkuat kesadaran keagamaan sebagai fondasi perlawanan moral terhadap hegemoni Barat.
Kendal dan Tradisi Pesantren
Pertanyaannya kemudian mengapa kendal dipilih? Kendal adalah kabupaten yang di dalamnya banyak berdiri pesantren, terlebih kecamatan Kaliwungu yang mendapat julukan Kota Santri. Hal ini menjadikan Kendal sebagai bagian penting dari simpul jalur pesantren di pesisir utara jawa tengah, bersamaan dengan Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, dan Pekalongan.
Dengan diadakannya Konferensi Nahdlatul Ulama Jawa Tengah di Kendal menunjukkan pengakuan terhadap pesantren dan ulama Kendal dalam jaringan keilmuan Nahdlatul Ulama.
Warisan Hari Ini
Peristiwa Konferensi Nahdlatul Ulama Jawa Tengah di Kendal tahun 1938 tersebut dalam konteks Hari Santri dapat dimaknasi sebagai titik awal sejarah yang membentuk karakter santri Indonesia. Di mana santri adalah pribadi yang berilmu, beradab, dan berkomitmen terhadap kesatuan Negara.
Kita sebagai santri yang menjadi penerus harus tetap melakukan perjuangan dengan tetap menyalakan api semangat untuk menjaga agama, ilmu, dan tanah air.
Sumber Arsip:
Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 12 April 1938.
Koleksi: Delpher.nl (Koninklijke Bibliotheek, Belanda).