ARTI BERTETANGGA

0
119

oleh : Ali Fitriana Abdussalam

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sangat menekankan kepedulian sosial bagi pemeluknya. Salah satu yang diberi perhatian lebih oleh Nabi Muhammad saw ialah peduli terhadap tetangga.    

Tetangga yang dalam bahasa Arabnya jār berakar dari tiga huruf yakni jīm, wāw, dan rā. Setiap kata yang berakar dari tiga huruf itu memiliki arti asal ‘menyimpang dari jalan’. Seperti kata jāir dalam firman Allah QS al-Nahl: 9.

{وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ} [النحل: 9]  

Allah telah menjelaskan jalan yang lurus. Namun di antaranya ada yang melenceng.

Lalu bagaimana bisa tetangga disebut dengan jār padahal kata itu memiliki arti asal menyimpang atau menjauh dari jalan. Tetangga disebut jār karena ia telah menyimpang dan menjauh dari segala tempat yang luas dari seluruh permukaan bumi dan lebih memilih untuk tinggal di dekat anda.

Kezaliman dalam Bahasa Arab disebut al-jawr sebab kezaliman adalah menyimpang dari garis keadilan. Barangkali kezaliman sangat erat kaitannya dengan tetangga. Tetangga seringkali menjadi orang yang sering terzalimi tanpa kita sadari. Padahal Baginda Nabi Muhammad saw mengecam kaum beriman untuk tidak mengganggu dan berbuat aniaya pada tetangga. Sebagaimana redaksi hadist yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari & Sahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره

Dikisahkan pada jaman dahulu ada orang saleh yang rumahnya dihinggapi banyak tikus. Lalu ada yang menyarankan agar ia memelihara kucing. Namun ia menolaknya karena ia khawatir tikus-tikus yang dikejar kucing kabur ke rumah tetangga. 

Di samping berarti tetangga, kata jār juga berarti penolong dan penyelamat sebagaimana firman Allah swt QS al-Anfal: 48.   

{وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ} [الأنفال: 48]

Saat setan menghiasi amal-amal kaum musyrik, dengan mengatakan pada mereka, hari ini tidak ada satupun manusia yang mengalahkan kalian. Akulah penolong dan penyelamat kalian.

Penolong dan penyelamat masih ada kaitannya dengan tetangga. Sikap rukun dan perilaku sopan kita pada mereka tentunya akan menghindarkan kita dan menyelamatkan kita dari siksa neraka. Seperti salah satu kisah yang termuat dalam kitab al-Mustadrak karya al-hakim, salah satu sahabat bercerita pada Nabi saw. Ada seorang perempuan yang rajin salat tahajud dan puasa sunah namun ia sering menyakiti tetangga dengan omongannya. Nabi saw berkomentar, dia tidak memiliki amal kebajikan, dia di neraka. Selanjutnya Sahabat tersebut menceritakan seorang perempuan yang hanya salat fardu saja, berpuasa Ramadan, bersedekah secukupnya namun ia tidak menyakiti satupun orang lain. “Dia di surga”, jawab Nabi saw.

Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Nabi saw bersabda; Tidaklah masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.       

Ada seorang saleh yang enggan memelihara ayam seumur hidupnya karena takut ayamnya berkeliaran dan buang kotoran di teras rumah tetangga. Sebab itu sangat mengganggu tetangganya.

Al-Quran juga memerintahkan kita agar berbuat baik dan menjaga sikap pada tetangga. Meski hanya satu ayat saja yang menerangkannya. Tepatnya pada QS al-Baqarah: 36.

{وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36)} [النساء: 36]

Dalam Ayat ini Allah menggabungkan perintah berbuat ihsan pada tetangga dengan orang-orang terdekat kita dan orang-orang terlemah. Menariknya di sini Allah swt menggunakan ihsan dengan kata penghung ba. Padahal kata ihsan yang berarti berbuat baik melebihi apa yang diharuskan dan dianjurkan, ini umumnya menggunakan kata penghubung li atau ila untuk menyambungkan pada objek sasarannya. Pemilihan kata sambung li atau ila bagi ihsan lebih tepat. Sebagaimana redaksi hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab adab al-mufrad dan Muslim dalam sahihnya dari sahabat Abu Syuraih al-Khuza’i :

   ((من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليحسن إلى جاره))

Hadis tersebut menggunakan redaksi ihsan ila al-Jar. Atau juga yang digunakan oleh QS Isra; 7.

Menurut pakar tafsir al-Quran, rahasia al-Quran memilih kata penghubung huruf ba’ adalah karena huruf mengandung fungsi ilāq, kedekatan bukan hanya sekedar kedekatan pada tetangga saja. Oleh karenanya ihsān kita harus selalu melekat pada tetangga. Menariknya huruf penghubung ba’ ini tidak diulang sebagaima dalam redaksi dzi al-Qurba. Sebab, kedekatan dengan walidain dan dzi al-Qurba lebih mendalam dibanding dengan yang lainnya.   

Namun menurut Ibnu Asyur dalam tafsirnya at-tahrir wa at-tanwir, penggunaan huruf ba dalam ayat ini berfungsi ta’diyah dan mengandung arti birr, berbuat baik. Sebagaimana firman-Nya QS Yusuf; 100. Menurutnya, kata ihsān jika dihubungkan dengan huruf bā dimaksudkan untuk berbuat baik yang mengandung pengagungan dan pemulian. Jika ihsān dihubungkan dengan huruf ilā berarti berbuat baik dengan memberikan manfaat secara materi. Alhasil berbuat ihsan (baik) pada tetangga dapat membangun rasa gotong royong, tolong menolong, kerukunan di antara masyarakat.  

Selain ihsān, Nabi Muhammad saw juga memerintahkan kita untuk memuliakan tetangga sebagaimana redaksi hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Syuraih al-Adawi.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Tentunya memuliakan tetangga dapat diwujudkan dengan berihsan (berperilaku baik), tidak menzalimi dan menyakiti mereka serta memenuhi hak-hak tetangga.

Di antara hak bertetangga yang harus dipenuhi, sebagaimana termuat dalam hadis yang kurang kuat dalam al-Jami’ al-Kabir karya al-Suyuthi, di antaranya membantu setiap kebutuhan mereka, menjenguk mereka kala sakit, mengiringi jenazahnya ke kubur ketika meninggal, memberi ucapan selamat saat ia mendapat hal yang baik, menghibur mereka jika ia ditimpa musibah, tidak meninggikan bangunan rumah sehingga ia tidak mendapatkan angin kecuali dengan seizinnya, berbagi dengan apa yang kita beli dan miliki, anak anda jangan sampai menyakiti anak tetangga. Tiada seorangpun yang dapat memenuhi hak tetangga melainkan orang yang diberi rahmat kasih sayang oleh Allah swt.  

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here