Antara Akademisi, Politisi, dan Santri

0
111

Oleh: Imron Samsuharto

Ciri potensial bangsa maju adalah memiliki penduduk dalam jumlah masif dari kalangan akademisi dan politisi. Akademisi adalah orang yang berpendidikan tinggi atau memiliki tingkat intelektualitas yang kredibel. Bangsa maju sepantasnya mempunyai banyak akademisi. Setiap sendi kehidupan berkebangsaan diwarnai kiprah orang-orang yang pernah mengenyam bangku akademik itu.

Selain akademisi, turut pula politisi yang mewarnai perjalanan bangsa. Sistem perpolitikan yang menghiasi ketatanegaraan suatu bangsa, tak bisa berjalan tanpa kehadiran politisi. Politisi memiliki kedudukan strategis sekaligus menentukan mau dikemanakan arah atau kendali bangsa itu. Politisi berwenang membuat peraturan dan kebijakan secara legal sesuai ketentuan perundang-undangan. Tanpa politisi, secara teoretis takkan terbentuk suatu pemerintahan.

Politisi menjadi perhatian banyak pihak terutama menjelang pemilihan umum, baik pemilihan presiden, pemilihan legislator, maupun pemilihan kepala daerah (pilkada). Saat-saat seperti itu politik demikian gemuruh. Ajang bagi para politisi untuk berkampanye menjual potensi diri agar bisa menduduki kursi empuk amanat rakyat. Semua itu berlangsung melalui jalan berliku sesuai iklim perpolitikan. Terlepas dari adanya politisi yang lurus (jujur) dan politisi busuk, keberadaan politisi mutlak diperlukan untuk menggulirkan roda pemerintahan.

Namun, sistem berkebangsaan di Indonesia menjadi menarik karena kehadiran santri, di samping akademisi dan politisi. Secara ketatanegaraan, keberadaan santri tak menjadi syarat formal keberlangsungan negara dan bangsa Indonesia. Tanpa kehadiran santri, Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa atau negara. Tapi benarkah demikian? Jika menganut paham sekuler, mungkin saja seperti itu. Kedudukan santri pasti diabaikan, sebab yang dikejar hanyalah seputar keduniawian atau fisik semata. Yang bersifat kerohanian menjadi kurang penting. Orang yang berpaham keduniawian atau sekuler murni, akan mengesampingkan keberadaan santri.

Santri Pendiri Bangsa

Bangsa yang bijak adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarah. Melalui penelusuran sejarah, anak bangsa menjadi tahu persis jati diri bangsanya. Maka, memahami sejarah berdirinya bangsa tak bisa dianggap remeh. Indonesia sebagai bangsa dan negara berdaulat, didirikan oleh para tokoh pejuang yang seluruh napas hidupnya dipertaruhkan demi bangsa sehingga teraih anugerah terindah berupa proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sejumlah tokoh telah mengharumkan nama bangsa seperti Sukarno, Bung Hatta, Mohamad Yamin, H Agus Salim, KH Wachid Hasyim. Tak diragukan lagi, di antara nama tersebut terdapat tokoh santri masyhur, yakni KH Wachid Hasyim. Kiprah langsung KH Wachid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) yang turut menanamkan fondamen berdirinya Republik Indonesia tak terbantah, senasib sepenanggungan bersama tokoh lain seperti Sukarno yang politisi nasionalis, Bung Hatta, H Agus Salim, Mohamad Yamin  yang akademisi (intelektual).

Pesantren sebagai lembaga penggemblengan santri, tumbuh di mana-mana mewarnai kehidupan bangsa. Pada lembaga inilah ditempa pentingnya pendidikan berbasis agama, moral, dan akhlak, di samping penanaman cinta tanah air. Meski status pendidikan nonformal, namun jebolan atau alumni dari pesantren secara umum mampu berkiprah sesuai bidang yang menjadi tanggung jawabnya di lingkungan masyarakat. Walaupun bukan kalangan nasionalis, urusan nasionalisme atau hubbul wathon, jangan ragukan pada sosok santri di mana pun berada.  

Simaklah sejenak bukti sejarah. Pada peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan, banyak santri yang terjun langsung berperang melawan imperialis. Imperialis dengan mengusung Agresi Militer Belanda Kedua itu mendapat perlawanan sengit para pejuang kemerdekaan yang didukung kaum santri. Kenapa kaum santri tak ragu turut berperang dalam peristiwa itu? Karena mereka ikhlas jiwa raga berjuang menyusul resolusi jihad yang difatwakan langsung oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Semangat hubbul wathon minal iman membara menghiasi perjuangan santri.

Demikianlah, sebelum dan sesudah bangsa Indonesia terbentuk sebagai negara yang berdaulat, kalangan santri sudah akrab dengan karakter mencintai negeri sendiri sebagai tanah tumpah darah. Sejengkal pun tanah ibu pertiwi, pantang untuk diinjak-injak bangsa imperialis. Maka, ajaran di pesantren hubbul wathon minal iman itu senapas dengan filosofi sadhumuk bathuk sanyari bumi.

Dalam pendidikan pesantren, diwarnai ciri khas inklusif yang kental dan jauh dari eksklusivisme menara gading. Berlandaskan akhlakul karimah, santri involve dengan denyut nadi masyarakat di mana pesantren itu berada. Tahu persis kapan mesti memosisikan diri dengan diam, kapan saatnya menunjukkan jati diri dengan ekspresi yang santun dan damai. Karakter seperti ini menimbulkan anggapan bahwa santri seolah terpinggirkan dibanding kalangan akademisi (intelektual) dan politisi. Ternyata anggapan tersebut tidak tepat, bahwa sejatinya kalangan santri bisa sejajar dengan akademisi dan politisi dalam berkiprah membangun bangsa.

Maka, pemerintahan Jokowi melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 memutuskan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Wujud apresiasi pada kalangan santri yang turut andil menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kenapa 22 Oktober? Itu didasarkan pada sejarah, sekali lagi menengok sejarah itu penting. Sejarah bahwa tanggal tersebut di tahun 1945 adalah saat dikumandangkan resolusi jihad oleh KH Hasyim Asy’ari dalam memerangi penjajah. Santri di seluruh negeri bahu membahu mempertahankan kemerdekaan bangsa yang telah diraih dengan susah payah.

Sejajar menjadi Pemimpin

Dalam perkembangan bangsa ke depan kelak setelah proklamasi 1945, santri membuktikan mampu menduduki posisi bergengsi RI-1 dan RI-2. Tak kalah dengan kalangan akademisi dan politisi murni. Dibuktikan oleh KH Abdurrahman Wachid atau Gus Dur (cucu KH Hasyim Asy’ari; putra KH Wachid Hasyim) yang terpilih sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia di awal era reformasi. Sedangkan RI-2 diduduki oleh KH Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Jokowi (2019-2024).

Sejarah membuktikan, ternyata santri mendapat anugerah dari Yang Maha Kuasa untuk memimpin bangsa guna mengemban amanat rakyat. Sekaligus bukti, bahwa santri bisa sejajar dengan kalangan akademisi dan politisi. Sejarah yang nyata  di depan mata, tentu tak mungkin terjadi kalau tak ada kuasa dan campur tangan Tuhan, seperti halnya sehelai daun jatuh dari ranting pun terjadi karena kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa.   

  

Penulis adalah Pemerhati masalah sosial keagamaan, tinggal di Semarang         

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here