ANARKISME TIDAK SESUAI FAHAM ASWAJA

0
325

A. Anarkisme Secara Umum :

Anarki adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Inggris “anarchy”, yang juga diambil dari bahasa Yunani “anarchos” atau “anarchia”, kata gabungan dari “a” artinya tidak atau tanpa dan “archos” atau “archia” artinya pemerintah atau kekuasaan. Anarchos atau anarchia artinya tanpa pemerintahan. Sedangkan Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut faham anarkisme.

Jadi, anarkisme adalah faham bahwa manusia boleh mengatur dirinya sendiri tanpa adanya pemerintahan atau tanpa negara yang mengaturnya, dan negara dianggap sebagai lembaga yang menindas kebebasan manusia.

Di satu sisi, anarkisme merupakan sebuah filsafat politik yang menuntut penghapusan kekuasaan atau otoritas. Anarkisme melandaskan dirinya pada prinsip-prinsip anti-pemerintah dan menjunjung egalitarianisme. Dalam pengambilan keputusan, anarkisme melandaskan diri pada konsensus dan pembagian kerja yang menjaga kesetaraan penuh antara semua anggota komunitas, dan menolak segala bentuk dominasi dari siapapun.

B. Anarkisme Dalam Islam :

Setelah faham liberalisme merasuk ke dalam Islam, dari Napoleon Bonaparte kaisar Perancis ke Mesir pada awal abad ke-19 Masehi, maka merasuk pula faham anarkisme ke dalam Islam. Kemudian konsep anarkisme Islami menjadi bahan pembicaraan pada akhir abad ke-20 Masehi, di mana anarkisme didasarkan pada konsep ‘ketundukan hanya kepada Allah’ dan konsep ‘tak ada paksaan dalam menganut agama’. Muslim yang anarkis mempercayai ‘hanyalah Allah yang mempunyai kekuasaan atas seorang muslim’, dan menganggap bahwa konsep ijtihad untuk pemaknaan Islam itu bisa dilakukan oleh masing-masing individu dari ummat Islam. Kecenderungan anti kekuasaan sangat terlihat dalam Islam liberal dan kaum muslim yang mangaku mengikuti faham sufisme yang dalam aqidah cenderung kepada faham yang bercampur antara mu’tazilah dan filsafat.

Para penguasa mereka nilai memonopoli kekuasaan untuk mendefinisikan agama secara normatif dan menjadikannya sebagai tradisi yang tak terbantahkan. Para penguasa mereka anggap ingin mempertahankan kekuasaan dengan membungkam siapa saja yang mengkritik kekuasaan mereka dan kemudian ingin menyingkirkannya. Maka penguasa seperti itu mereka hadapi dengan anarki.

Jauh sebelum ada anarkisme Islam dari kelompok Islam Liberal, telah muncul faham anàrkisme dari kelompok Islam Radikal. Ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib dianggap salah oleh kaum Khawarij dalam peristiwa ‘tahkim’, mereka mengkafirkan Ali dan para sahabat pendukungnya, mereka menilai negara sudah menjadi thoghut, lalu memberontaknya dengan cara-cara anarki.

C. Anarkisme Dalam Pandangan Aswaja :

Jika dalam Islam Liberal (Mu’tazilah) dan Islam Radikal (Khawarij) seorang muslim diperbolehkan menganut faham anarkisme, maka tidak demikian dalam Islam Ahlissunnah Waljamaah.

Dalam pandangan Islam Aswaja, semua muslim wajib taat kepada pemimpin meskipun dia orang yang berstrata rendah, sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadits-hadits berikut ini :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ. رواه البخاري

Rasulullah SAW bersabda : “Dengarlah dan taatlah meskipun yang dijadikan pemimpinmu adalah hamba dari habasyah (orang berkulit hitam) yang kepalanya seperti anggur kering”. (Bukhari :7142).

عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون ، فقلنا : يا رسول الله كأنها موعظة مودع ، فأوصنا ، قال : أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي ، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة، رواه أبو داود والترمذي

Dari Irbadl bin Sariyah RA, berkata : Kami (para sahabat Nabi) dinasihati oleh Rasulullah SAW dengan sebuah nasihat yang membuat hati merasa takut dan menjadikan mata berlinang, lalu kami berkata : Ya Rasulallah, sepertinya ia adalah nasihat orang yang berpamitan, berikan tausiyah kepada kami !. Rasulullah bersabda : “Aku berikan tausiyah kepada kalian supaya taqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun kalian dipimpin oleh hamba dari habasyah (orang berkulit hitam). Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku, dia akan melihat banyak pertentangan. Maka kalian harus mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang jujur, ikuti hal itu dengan sekuat-kuatnya, dan hindarilah ajaran-ajaran baru, karena setiap bid’ah (yang buruk) itu adalah sebuah kesesatan”. (H.R. Abu Daud dan Turmudzi).

Bahkan dalam pandangan Aswaja, orang atau kelompok yang memecah belah persatuan ummat beragama atau memecah belah keutuhan negara boleh dibunuh sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Arfajah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

من أتاكم وأمركم جميع على رجل واحد يريد أن يشق عصاكم, أو يفرق جماعتكم فاقتلوه

Barangsiapa yang datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian berada di tangan seorang (pemimpin), kemudian dia hendak merusak tongkat kepemimpinan kalian dan hendak memecah belah kesatuan kalian, maka bunuhlah dia (HR Muslim).

Kelompok yang dengan anarki melawan pemerintah yang sah tanpa alasan yang bisa dibenarkan menurut syara’ bisa dianggap sebagai “Bughot” (kaum pemberontak) yang wajib diperangi. Dalam tafsir Al-Hawi disebutkan :

ذهب جمهور العلماء إلى وجوب قتال أهل البغي، الخارجين على الإمام أو أحد المسلمين، ولكن بعد دعوتهم إلى الوفاق والصلح، والسير بينهم بما يصلح ذات البين، فإن أقاموا على البغي وجب قتالهم عملا بقوله تعالى: فأصلحوا بينهما فإن بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغي حتى تفيئ إلى أمر الله.

Mayoritas ulama berpendapat tentang kewajiban memerangi kaum Bughot yang memberontak terhadap pemimpin (yang sah) atau kaum muslimin, tetapi sesudah mereka diajak kompromi dan damai, dan sesudah adanya upaya mendamaikan perbedaan. Kalau mereka tetap memberontak maka wajib diperangi dengan mengamalkan firman Allah, “Maka damaikanlah antara dua pikak, lalu apabila salah pihak masih memberontak, maka perangilah pihak yang memberontak sehingga mereka mau kembali ke jalan Allah” (Al-Hujurot :9).

Al-Quran Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyah telah mengharamkan siapapun untuk melakukan tindakan anarki. Karena tidak ada satu peristiwapun selama Rasulullah SAW menjalankan dakwah di Makkah yang dapat dijadikan dalil untuk membolehkan aksi kekerasan dalam memperjuangkan penerapan syariat Islam. Ketika muncul keinginan beberapa sahabat yang memohon kepada Rasulullah SAW untuk melakukan peperangan secara fisik terhadap kaum Quraisy, Rasulullah SAW justru mencegah keinginan mereka lalu bersabda:

إِنِّي أُمِرْتُ بِالْعَفْوِ فَلاَ تُقَاتِلُوْا الْقَوْمَ

“Aku diperintahkan untuk memaafkan. Oleh kerana itu, janganlah kamu memerangi kaum itu”. (H.R. Ibnu Abi Hatim, An-Nasai dan Al-Hakim).

Bahkan ketika Rasulullah SAW telah memperoleh baiat dari orang-orang Anshar di Aqabah dan mereka meminta izin kepadanya untuk memerangi orang-orang Quraisy di Mina, Nabi SAW menjawab : “Kami belum diperintahkan untuk melakukan itu.” (Sirah Ibn Hisyam : I/305).

Dengan ber-i’timad (berdasarkan) pandangan-pandangan di atas, maka NU sebagai organisasi yang berhaluan Ahlissunnah Waljamaah tidak mau terlibat dalam demonstrasi 4 Nopember 2016 seperti dilakukan kelompok-kelompok Islam yang lain untuk mereaksi sesuatu yang bisa diselesaikan tanpa demonstrasi secara besar-besaran yang berpotensi menciptakan perpecahan agama dan negara.

NU menginginkan keharmonisan hubungan antara agama dan negara meskipun tanpa menformulasikan “Negara Agama” dengan mengikuti pandangan para ulama Ahlissunah Waljamaah sebagai berikut :

1. Imam Al-Mawardi RA (450 H/ 1058 M) berkata :

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ

“Imamah itu diadakan dalam rangka menggantikan tugas kenabian berupa menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Dan memberikan jabatan ini kepada orang yang bisa melaksanakan di kalangan Umat Islam ini hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma (kesepakatan ulama)” (Al-Ahkam Ash-Shulthoniyah I/ 3).

2. Abu Ma’ali Al-Juwaini RA (478 H/ 1085 M) berkata :

الْإِمَامَةُ رِيَاسَةٌ تَامَّةٌ، وَزَعَامَةٌ عَامَّةٌ، تَتَعَلَّقُ بِالْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ، فِي مُهِمَّاتِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا

“Imamah adalah kepemimpinan yang sempurna, kekuasaan yang menyeluruh, berkaitan dengan manusia secara khusus dan umum, dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia”. (Ghayatsil Umam fi Tayatsil Dzulam : 22).

3. Imam Al-Ghazali berkata :

ولا يتم الدين الا بالدنيا والملك والدين توأمان

Dan agama tidak bisa sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah dua hal yang kembar (Ihya’ Ulumiddin : 19/1).

4. Ibn Khaldun berkata :

فهي خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا

Maka imamah itu adalah kepemimpinan yang mewakili Nabi sebagai Pemilik Agama dalam menjaga agama dan mengatur dunia (Muqaddimah : 5).

5. Ibn Al-Mu’taz dalam syair berkata :

الملك بالدين يبقى # والدين بالملك يقوى

Kekusaan disertai agama menjadi langgeng
Dan agama disertai kekuasaan menjadi kuat

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here