ALMAGHFURLAH K.H. MUHAMMAD YAHYA GADING

0
97

Kiai Sufi yang Cinta NKRI

Oleh : Muhammad Faishol*

Menjadi Pilar Perang Gerilya

Bangkitkan Heroisme Santri dan Umat

”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang disekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang disekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah K.H. Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu.

MALANG KOTA – Bagi kaum thariqah di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama K.H. Muhammad Yahya tentu sudah sangat mahsyur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN, membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.

Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang K.H. Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya Kiai Qoribun dan ibunya Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid thoriqoh Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama dimasa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip.

Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugannya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya.

Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga.

Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari menyerukan resolusi jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai Netral Zone (Daerah Netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing. Hal ini sesuai dengan pernyataan K.H. Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni,”Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab K.H. Abdurrahman Yahya. Demikian pula ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka K.H. Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia.

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas.

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya menghembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun[1]. Kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan K.H. Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapapun.

 

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang.

[1] . Terjadi perbedaan pendapat, ada yang beranggapan bahwa Kyai Yahya lahir tahun 1903 sehingga umur beliau hanya 68. Namun menurut saksi hidup (K.H. Abdurrahman Yahya) saat ditemui penulis, Minggu (5/7) lalu yang lebih valid Kyai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun.

BIODATA TOKOH

NAMA            : K.H. Muhammad Yahya

TTL               : Jetis, Dau, Kabupaten Malang / 1900 M

Alamat          : Pondok Pesantren Miftahul Huda (Gading) Malang

Orang Tua    : Kiai Qoribun dan Nyai Ratun

 

Riwayat Pendidikan

  1. Pesantren Bungkuk Singosari
  2. Pesantren Cempaka Blitar
  3. Pesantren Kuningan Blitar
  4. Pesantren Siwakan Panji Sidoarjo
  5. Pesantren Kyai Asy’ari Tulungagung
  6. Pesantren Jampes Kediri

 

Isteri                : Ibu Nyai Siti Khodijah

Anak               :

  1. Kiai A. Dimyati Ayatullah Yahya ( lahir 1936 – wafat 17 Oktober 1971)
  2. H. Abdul Adzim Aminullah Yahya (lahir 1938 – wafat 7 Februari 2003)
  3. Gus Abdullah (lahir 1940, meninggal waktu kecil)
  4. H. Abdur Rochim Amrullah Yahya (lahir 17 Maret 1942, wafat 22 Januari 2011)
  5. H. Abdur Rochman Yahya (lahir 3 April 1945)
  6. H. Ahmad Arif Yahya (lahir 20 Agustus 1948)
  7. Nyai Hj. Khodijah binti Yahya (lahir 15 September 1950)
  8. H. Muhammad Ghazali Yahya (lahir 20 Maret 1952)
  9. Nyai Hj. Fatimah binti Yahya ((lahir 1 Februari 1955)
  10. Nyai Hj. Maryam Mashfiyah binti Yahya (lahir 18 Agustus 1948)
  11. Nyai Hj. Dewi Aisyah binti Yahya (lahir 3 Februari 1962)

Riwayat Jabatan :

  1. Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda (Gading) Kota Malang
  2. Mursyid Thariqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN)

Syuriah NU sebelum tahun 1960-an (Menurut Mbah Yai Man)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here