MDA Miftahul Athfal Dikunjungi 50 Madin Yogyakarta

0
317

Patebon pcnukendal.id – Sebanyak 125 orang mendatangi MDA NU 01 Miftahul Athfal Pidodowetan Patebon, Ahad (12/3) pukul 13.00 WIB. Rombongan yang berasal dari Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kulonprogo Yogyakarta itu bermaksud melakukan Studi Banding di madrasah percontohan tingkat nasional tersebut.

Rombongan itu berasal dari 50 Madin yang mewakili 89 Madin yang ada di Kulonprogo. Selain para ustadz, pejabat Kemenag Kulonprogo dan Pemda Kulonprogo pun ikut serta dalam rombongan. Ketika sampai di lokasi, mereka disambut oleh para Ustadz MDA Miftahul Athfal dan utusan dari MWC NU Patebon serta diiringi oleh penampilan Drumb Band.

Sichan, kepala MDA Miftahul Athfal menerima dengan terbuka kedatangan tamu tersebut. Ia menuturkan, persiapan untuk menyambut rombongan tersebut terbilang seadanya. Itu karena baru seminggu yang lalu, yaitu Ahad tanggal 5 Maret, ada agenda Pekan Madaris tingkat kabupaten Kendal di Weleri. Karena itu, di sela-sela mengajar siswa, ia bersama para ustadz MDA Miftahul Athfal sibuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan even tingkat kabupaten tersebut.

“Sebenarnya dari kami sanggup untuk menerima kedatangan tamu dari Kulonprogo itu sebulan mendatang. Tapi karena beberapa hal, akhirnya kami bersedia menerima kegiatan studi banding tersebut hari Ahad ini,” tutur Sichan.

Kholid, salah satu peserta studi banding, senang dengan kegiatan tersebut. Ia berharap, apa yang didapatkan setelah studi banding bisa dipraktikkan di Kulonprogo.

Ustdaz dari Madin Tahfidhul Qur’an ini mengaku, keadaan Madin di Kendal dan Kulonprogo sangat berbeda. Kalau di Kendal, kurikulum Madin tingkat Ula terintegrasi dengan LP Ma’arif Kendal. Jadi tiap Madin Ula di Kendal mengajarkan pelajaran yang sama. Tapi hal itu belum bisa dilaksanakan di Kulonprogo. Memang sudah ada forum Madin bernama FKDT. Tetapi belum ada kurikulum baku yang disepakati untuk diajarkan di semua Madin Kulonprogo. Jenjang kelasnya pun berbeda. Kalau di kendal menggunakan sistem 6 kelas, di Kulonprogo hanya ada 4 kelas.

“Kalau di Madin tempat saya mengabdi, sudah sedikit mengadopsi kurikulum dari Kendal. Kebetulan, saya aslinya orang Kendal,” ungkap warga Sukodadi kec. Kangkung tersebut.

Apa yang dikatakan Kholid senada dengan penuturan M. Nur Charir. Selain itu, ia mengatakan bahwa semangat warga Kulonprogo untuk menyekolahkan anaknya ke Madin agak rendah. Hal itu, selain dikarenakan kegiatan Madin yang dikalahkan kegiatan ekstra sekolah formal, juga dikarenakan adanya mindset, bahwa anak yang sekolah di Madin temannya akan lebih sedikit dari yang tidak sekolah di Madin.

Ia juga menuturkan bahwa kurikulum Madin di Kulonprogo belum jadi satu. Ada yang mengikuti kurikulum yang dibuat Kemenag. Ada yang membuat kurikulum sendiri yang berbasis pesantren. Ada pula yang membuat kombinasi kurikulum Kemenag dan pesantren. Karena itu, dengan adanya studi banding itu, ia berharap bisa menyusun kurikulum yang ideal.

“Karena sistem kelasnya berbeda, nanti dari kurikulum berbasis 6 kelas, akan disesuaikan dengan sistem Madin Kulonprogo yang berbasis 4 kelas,” kata Charir. (Zubair)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here